Antrean kendaraan untuk membeli bio diesel terus memanjang hingga ratusan meter di wilayah Makassar, dan Sulawesi Selatan. Meski Pertamina sebut aman, namun pengendara harus antre berjam-jam untuk membeli solar. Fenomena akut ini telah terjadi jelang dua bulan tanpa penanganan maksimal.
Di bawah matahari yang menjerang, Senin (29/6/2026), jelang siang, Medar (39) menunggu dengan lelah antrean pembelian solar. Berbagai gaya duduk diperagakannya selama hampir dua jam mengantre. Terakhir, ia mengangkat kaki ke dashboard mobil boks yang dikendarainya saking bosannya.
“Tiap hari begini. Mana mobil tidak bisa dimatikan, mau meleleh es krim di belakang,” katanya.
Antrean mobil di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Makassar ini sepanjang lebih dari 70 meter. Mobil truk, bus, hingga kendaraan pribadi antre sejak pagi bahkan dini hari.
Medar menceritakan, ia sengaja datang ke SPBU ini untuk membeli solar karena merasa jauh lebih “manusiawi”. Meski jaraknya mencapai 10 kilometer dari tempatnya bekerja, antre di tempat ini jauh lebih baik dari SPBU lainnya.
Antrean berjam-jam membuat pengendara menjadi beringas. Ia telah berkali-kali ribut dan hampir beradu fisik. Ada yang menuduh menyerobot antrean, ada juga yang memang sengaja ingin cepat. Antrean panjang, lelah, hingga dikejar setoran membuat banyak pengendara mengambil jalan pintas.
Padahal, ia hanya ingin membeli Rp 150.000 solar setiap hari. Nilai itu adalah besaran yang dialokasikan kantornya untuk mengantar es krim di kawasan Makassar. Tak ayal, ia harus antre setiap hari.
“Bayangkan sudah hampir dua bulan begini. Setiap hari antre minimal dua jam, baku ribut kita yang mengantre. Sampai sekarang belum ada penjelasan kenapa susah betul solar,” ucapnya.
Di SPBU lainnya di kawasan Jalan Pettarani, Adi (45), sopir truk, juga tengah menunggu antrean pembelian solar. Pengisian bahan bakar dari Pertamina sedang berlangsung, sementara antrean telah mencapai 100 meter.
Adi berharap bisa segera mendapatkan solar. Truk yang dikendarainya akan dibawa ke Kolaka, Sulawesi Tenggara. Normalnya, perjalanan akan ditempuh lebih dari satu hari. Namun, saat antrean solar, perjalanan bisa hingga tiga hari.
“Di Makassar isi, sebentar di Palopo harus isi lagi. Kami mending mengantre di sini daripada di luar daerah yang penjualannya tidak jelas,” tuturnya.
Selepas dari Kota Makassar, tambah Adi, antrean solar kian mengular. Mengantre panjang juga belum tentu bisa mendapat solar. Banyak pengendara dan pengelola SPBU kongalikong. Hanya pengendara tertentu yang bisa membeli solar. Tentunya ada biaya yang harus dikeluarkan dari pola tersebut.
Belum lagi terkait para pelangsir yang membeli solar untuk dijual kembali. Praktek ini terus terjadi secara kasat mata namun sangat jarang ditindak. Akibatnya, solar cepat habis dan dijual dengan harga berkali lipat di luar SPBU.
“Kemarin ada video viral sopir yang ribut sama petugas SPBU di Pare-pare. Karena katanya yang bisa beli solar hanya yang langganan. Bagaimana ceritanya bisa begitu?” Tambahnya. “Kondisi di lapangan itu sudah ribut. Orang sudah capek antre untuk beli solar.”
Menanggapi situasi ini, Lilik Hardiyanto, Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi mengatakan, pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kelancaran penyaluran. Antara lain melalui penambahan penyaluran di wilayah yang mengalami peningkatan konsumsi, percepatan distribusi ke SPBU strategis, penguatan koordinasi dengan pengelola SPBU dan aparat terkait dalam pengaturan antrean, serta monitoring secara intensif terhadap kondisi di lapangan.
Selain itu, Pertamina mengimbau masyarakat untuk membeli BBM sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku. Dengan begitu, distribusi Biosolar subsidi dapat berjalan lebih optimal dan tepat sasaran.
”Stok Biosolar di Kota Makassar maupun wilayah Sulawesi Selatan pada umumnya berada dalam kondisi aman. Proses penyaluran kepada SPBU terus berjalan secara rutin sesuai kebutuhan,” ucapnya dalam keterangan tertulis.
Menurut Lilik, Pertamina juga terus melakukan monitoring terhadap kondisi stok dan konsumsi harian di seluruh wilayah, serta menyiapkan langkah-langkah operasional apabila terjadi peningkatan permintaan pada titik-titik tertentu agar pasokan tetap terjaga.
Permasalahan solar di wilayah Makassar dan Sulsel seperti tidak berujung. Selain antrean, kasus demi kasus terjadi di depan mata tanpa ada penanganan dan pencegahan maksimal. Kasus petugas SPBU yang tidak menjual solar secara bebas hanya salah satu dari sekian kejadian penyalahgunaan yang terjadi.
Sebelumnya, aparat bahkan mengungkap penyelundupan solar ke Kalimantan menggunakan kapal tanker. Solar subsidi dari truk dilangsir mengunakan SPOB lalu dibawa ke kapal tanker yang telah menunggu. Kerugian miliaran terjadi.
”Tentu patut diduga ada pembiaran sehingga ini terjadi. Bagaimana mungkin kejadian sebesar ini terjadi di depan mata, dengan kapal tanker, tanpa ada petugas yang tahu?” kata kriminolog Universitas Islam Makassar, Rahman Syamsuddin, awal Juni lalu.
Ia menilai kasus ini bukan kejahatan atau penyelundupan biasa, tetapi merupakan kejahatan ekonomi yang terorganisasi. Pelaku diduga memiliki jaringan, melibatkan banyak pihak secara terstruktur, mempunyai koneksi dengan pembeli, dan melibatkan uang yang banyak. Ia pun berharap semua pihak terkait bisa bekerja serius untuk mengungkap berbagai kasus yang terjadi ini. Apalagi, pemerintah terus membiayai subsidi BBM lewat anggaran fantastis.




