Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan emisi karbon Amerika Serikat (AS) di angka 3,2% pada 2025 menjadi yang tertinggi di antara negara-negara berekonomi besar dunia. Lonjakan tersebut juga empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan emisi China secara absolut berdasarkan Statistical Review of World Energy edisi ke-75 yang dirilis Energy Institute bekerja sama dengan Ember, Kearney, dan KPMG.
Dalam laporan yang dirilis pada Selasa (30/6/2026) tersebut, emisi karbon yang dihasilkan China hanya naik 0,3% secara tahunan, sementara India tumbuh 0,9%. Kedua angka ini masih berada di bawah kenaikan rata-rata global sebesar 1,1%.
Total emisi yang dihasilkan dari sektor energi menembus 35,80 miliar ton setara karbon dioksida (CO2e) sepanjang 2025, bertambah sekitar 310 juta ton dari 35,49 miliar ton pada tahun sebelumnya. AS menjadi kontributor terbesar dari kenaikan volume emisi ini, yakni hampir sepertiganya di angka 129,5 juta ton CO2e.
Lonjakan emisi di AS terutama dipicu oleh kenaikan pembangkitan listrik berbasis batu bara sebesar 13%. Tren tersebut berbanding terbalik dengan sejumlah kawasan lain yang justru mempercepat transisi menuju energi bersih.
Energy Institute mencatat arah transisi energi global kini makin terfragmentasi. China membukukan rekor baru pembangkitan listrik tenaga angin dan surya dengan total pasokan yang melampaui gabungan seluruh negara lain, sementara pembangkitan listrik berbasis batu bara terus menurun.
India juga mencatat penurunan pembangkitan batu bara, minyak, dan gas secara bersamaan, diiringi lonjakan pembangkitan energi terbarukan hampir 24%.
Baca Juga
- Ada Risiko Perubahan Iklim, Arkora Hydro (ARKO) Ungkap Dampaknya ke Operasional PLTA
- Siap-siap! Ini Daftar Wilayah Indonesia yang Alami Puncak Kemarau Agustus 2026
- Perusahaan RI Berlomba Terapkan ESG, Kadin Ungkap Ragam Inovasinya
Di Eropa, pembangkitan energi terbarukan tumbuh 7%, meski peningkatannya tertahan oleh melemahnya pembangkitan listrik tenaga air dan sedikit penurunan produksi listrik tenaga angin. Inggris menjadi pengecualian dengan lonjakan pembangkitan listrik tenaga surya sebesar 37%.
Sebaliknya, di AS pembangkitan listrik tenaga surya meningkat 28%, sedangkan pembangkitan listrik tenaga angin hanya tumbuh 3%. Pada saat yang sama, pembangkitan listrik berbasis batu bara melonjak 13% dan menjadi faktor utama peningkatan emisi karbon negara tersebut.
Dari sisi produksi energi, kawasan Amerika kini menghasilkan minyak sekitar 20% lebih banyak dibandingkan Timur Tengah. Produksi minyak dan gas AS meningkat 4% sepanjang 2025, membalikkan kondisi dua dekade lalu ketika produksi Timur Tengah masih sekitar 20% lebih tinggi dibandingkan kawasan Amerika.
Laporan tersebut juga mencatat produksi minyak Amerika tumbuh 4,8% sehingga membantu meredam dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan energi global.
Secara keseluruhan, permintaan energi dunia meningkat 1,7% pada 2025. Seluruh sumber energi utama kembali mencatat rekor konsumsi tertinggi untuk tahun kedua berturut-turut.
Meski demikian, efisiensi energi terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tetap berada di level 2%, jauh di bawah target peningkatan efisiensi tahunan sebesar 4% yang disepakati dalam COP28.
Di tengah kenaikan permintaan energi, energi terbarukan untuk pertama kalinya menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan total pasokan energi (total energy supply/TES) di luar periode resesi. Energi surya menyumbang sekitar 71% dari pertumbuhan tersebut.
Secara global, pembangkitan listrik tenaga surya meningkat 30%, sementara kapasitas penyimpanan energi berbasis baterai melonjak 66%, menjadikannya teknologi energi bersih dengan pertumbuhan tercepat.
Permintaan listrik dunia juga tumbuh 3% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pasokan energi secara keseluruhan. Kenaikan tersebut didorong meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, pusat data (data center), dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Untuk pertama kalinya, seluruh tambahan permintaan listrik global dipenuhi oleh sumber energi rendah karbon. Energi terbarukan dan tenaga air bahkan melampaui batu bara sebagai sumber pembangkitan listrik terbesar, sementara pembangkitan berbasis bahan bakar fosil secara keseluruhan mengalami penurunan.
China mencatat pertumbuhan konsumsi listrik tercepat di antara negara-negara ekonomi besar, yakni di atas 5%, dengan tambahan konsumsi listrik yang setara total penggunaan listrik Jerman selama satu tahun. Sementara itu, permintaan listrik AS tumbuh 3%, sejalan dengan rata-rata global.
Laporan tersebut juga untuk pertama kalinya mencatat konsumsi listrik pusat data dunia yang mencapai 788 terawatt hour (TWh) pada 2025, dengan sekitar 40% di antaranya berasal dari AS.





