Pengedar narkoba global kini memanfaatkan teknologi dan ketidakstabilan dunia untuk memperkenalkan jenis narkoba baru, menguji berbagai rute serta metode perdagangan, dan secara agresif merambah pasar baru. Hal ini terungkap dalam Laporan Narkoba Dunia 2026 yang dirilis Kantor PBB untuk Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC).
“Kami melihat lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam jenis-jenis narkoba baru di pasaran, dan yang mengkhawatirkan, beberapa di antaranya lebih kuat atau berbahaya dari sebelumnya,” kata Monica Juma, Direktur Eksekutif UNODC melalui keterangan tertulis, Selasa (30/6/2026).
“Kita sudah mulai merasakan dampaknya: jutaan nyawa melayang lebih awal dan tahun-tahun kehidupan sehat hilang secara sia-sia; jaringan perdagangan narkoba merusak tatanan ekonomi; hancurnya kehidupan, komunitas, dan mata pencaharian; serta meningkatnya ketidakamanan dan kekerasan,” tambahnya.
Menurut Monica, kondisi itu membuat semua pihak harus memusatkan perhatian dalam memberantas kelompok kejahatan terorganisir yang kini jauh lebih besar dari sebelum-sebelumnya. “Kita harus meningkatkan upaya pencegahan, memperbanyak pertukaran intelijen, dan mengoordinasikan operasi gabungan, sekaligus berinvestasi lebih besar pada upaya pencegahan dan pengobatan,” ujarnya.
Pada 2024, diperkirakan 331 juta orang menggunakan narkoba, atau sekitar 6,2 persen populasi dunia usia 15-64 tahun, naik dari 5,2 persen pada 2014. Ganja masih menjadi narkoba paling banyak dikonsumsi dengan 256 juta pengguna, diikuti opioid (63 juta), amfetamin (32 juta), kokain (25 juta), dan ekstasi (21 juta).
Produsen narkoba ilegal terus berinovasi menciptakan narkoba sintetis baru untuk menyiasati regulasi dan menghindari deteksi aparat. Jenis narkoba yang ditemukan dalam penyitaan pada 2024 tercatat lima kali lebih banyak dibanding periode sebelum tahun 2000, dengan 755 jenis zat psikoaktif baru (NPS) beredar di pasaran, 118 di antaranya baru pertama kali terdeteksi.
Meningkatnya peredaran opioid sintetis baru seperti fentanil, nitazen, dan orfin mengindikasikan pengedar tengah mencari alternatif selain heroin. Pergeseran dari opiat berbasis tanaman ke bahan sintetis ini berpotensi mengubah secara permanen pasar opioid global beserta konsekuensinya terhadap pola penggunaan dan bahaya yang menyertai.
Penggunaan narkoba turut dikaitkan dengan kejahatan bermotif ekonomi, kekerasan dalam keluarga, serta risiko pengguna menjadi korban maupun pelaku kejahatan. Namun dampak tersebut juga dipengaruhi faktor yang lebih luas, seperti latar belakang individu (kemiskinan, tunawisma, kesehatan mental) dan minimnya akses terhadap layanan rehabilitasi serta bantuan sosial — faktor-faktor yang sekaligus menjadi titik tolak penting bagi upaya intervensi dan pencegahan.(iss/faz)




