Irak Berbalik Lawan Iran? Baghdad Bergejolak Hingga Lebanon Ikut Berubah  

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com — Situasi keamanan di Irak kembali menjadi sorotan dunia setelah kawasan di sekitar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad mendadak dipenuhi suara tembakan dan aktivitas militer berskala besar pada dini hari, 28 Juni 2026. 

Peristiwa yang berlangsung di kawasan Zona Hijau (Green Zone) tersebut memicu berbagai spekulasi mengenai adanya perubahan besar dalam dinamika politik dan keamanan di Timur Tengah, khususnya terkait pengaruh Iran di Irak.

Tidak hanya Irak, perkembangan serupa juga mulai terlihat di Lebanon. Berbagai simbol dan propaganda yang selama ini dianggap merepresentasikan kedekatan dengan Iran secara bertahap mulai disingkirkan. 

Di saat bersamaan, hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling melontarkan ancaman serta dilaporkan terlibat dalam aksi militer balasan.

Operasi Keamanan Besar Guncang Zona Hijau Baghdad

Pada dini hari 28 Juni 2026, warga Baghdad dikejutkan oleh suara rentetan tembakan yang terdengar dari kawasan Zona Hijau, wilayah yang menjadi pusat diplomatik dan pemerintahan paling penting di Irak.

Zona Hijau merupakan kawasan dengan tingkat pengamanan tertinggi di negara tersebut. Sejak jatuhnya pemerintahan Saddam Hussein pada tahun 2003, kawasan ini menjadi lokasi berbagai institusi penting, termasuk Kedutaan Besar Amerika Serikat, kantor pemerintahan Irak, markas berbagai lembaga internasional, serta fasilitas militer yang dijaga ketat.

Seluruh area dikelilingi tembok beton berlapis, pos pemeriksaan berlapis-lapis, bunker pertahanan, kamera pengawas, hingga personel keamanan bersenjata lengkap yang berjaga selama 24 jam.

Namun, pada dini hari itu suasana berubah drastis.

Sejumlah kendaraan lapis baja, tank, serta pasukan keamanan Irak terlihat memasuki kawasan tersebut dalam jumlah besar. Aktivitas militer yang tidak biasa itu segera memunculkan berbagai dugaan bahwa Kedutaan Besar Amerika Serikat sedang menjadi sasaran serangan.

Akan tetapi, berbagai laporan justru menyebut bahwa operasi tersebut bukan ditujukan untuk menghadapi serangan dari luar, melainkan merupakan bagian dari operasi keamanan internal yang dilakukan pemerintah Irak.

Pemerintah Irak Diduga Menargetkan Jaringan Pro-Iran

Berdasarkan laporan yang dimuat The Times of India, pemerintah Irak pada dini hari 28 Juni 2026 disebut melaksanakan operasi keamanan berskala besar terhadap individu maupun jaringan yang diduga memiliki hubungan dengan Iran.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa operasi berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang dalam beberapa hari terakhir kembali memanas.

Perdana Menteri Irak yang menurut laporan baru menjabat sekitar satu bulan, Ali Zaidi, disebut memimpin langsung operasi tersebut.

Selama operasi berlangsung, akses keluar-masuk menuju kompleks pemerintahan di Zona Hijau dilaporkan ditutup sepenuhnya.

Analis pertahanan keturunan Iran, Babak Taghvaee, menyatakan bahwa pemerintah Irak mengambil langkah luar biasa dengan mengisolasi kawasan pemerintahan untuk memastikan operasi berjalan tanpa gangguan.

Menurut laporan tersebut, puluhan pejabat tinggi pemerintahan yang diduga memiliki hubungan dengan rezim Iran dilaporkan diamankan.

Taghvaee juga menyebut bahwa pasukan antiteror Irak dikabarkan sempat terlibat bentrokan dengan personel Divisi D4 Irak, satuan yang bertugas menjaga kompleks pemerintahan.

Hingga kini, pemerintah Irak belum memberikan rincian resmi mengenai hasil operasi maupun jumlah pasti pihak yang ditangkap.

Muncul Dugaan Dukungan Amerika Serikat

Operasi besar tersebut memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pengamat politik internasional.

Sejumlah analis menilai bahwa langkah pemerintah Irak kemungkinan mendapat dukungan dari Amerika Serikat, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Washington mengenai keterlibatannya.

Jika dugaan tersebut benar, maka operasi tersebut dinilai sebagai salah satu langkah paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir untuk mengurangi pengaruh Iran di dalam struktur politik dan keamanan Irak.

Pengaruh Iran di Irak Dinilai Mulai Digoyang

Salah satu akun analisis geopolitik yang dikenal dengan nama Mossad Commentary menilai bahwa operasi pemerintah Irak merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk mengurangi dominasi Iran yang selama bertahun-tahun berkembang di negara tersebut.

Menurut analisis itu, sejak tumbangnya Saddam Hussein pada tahun 2003, Iran secara bertahap berhasil memperluas pengaruhnya melalui berbagai jalur strategis.

Pengaruh tersebut disebut meliputi:

Analisis tersebut bahkan menyebut bahwa Teheran selama ini memandang Irak bukan sekadar negara tetangga, melainkan sebagai bagian penting dari strategi geopolitiknya di Timur Tengah.

Kini, menurut analisis tersebut, pemerintah Irak mulai mengambil langkah nyata untuk mengurangi dominasi tersebut, terutama di tengah meningkatnya tekanan diplomatik maupun militer Amerika Serikat terhadap Iran.

Lebanon Juga Mulai Mengubah Sikap Politik

Perubahan yang disebut terjadi di Irak ternyata bukan satu-satunya perkembangan penting di kawasan.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Lebanon juga memperlihatkan sejumlah langkah yang dinilai mengarah pada perubahan orientasi politik.

Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan para pekerja sedang membongkar papan reklame besar di sepanjang jalan menuju Bandara Internasional Beirut.

Papan reklame tersebut sebelumnya berisi berbagai slogan yang dianggap menunjukkan dukungan terhadap Iran maupun kelompok Hizbullah.

Setelah dibongkar, papan-papan tersebut digantikan dengan slogan baru yang lebih menonjolkan identitas nasional Lebanon, salah satunya bertuliskan: “Lebanon First” atau “Lebanon Didahulukan.”

Walaupun perubahan tersebut bersifat simbolis, sejumlah pengamat menilai langkah itu mencerminkan adanya perubahan arah kebijakan politik di sebagian negara Timur Tengah.

Mereka menilai meningkatnya tekanan militer dan diplomatik Amerika Serikat terhadap Iran dalam beberapa waktu terakhir turut memengaruhi dinamika politik regional.

Amerika Serikat Dilaporkan Melancarkan Serangan Presisi terhadap Target Militer Iran

Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, narasi dalam tayangan yang menjadi sumber artikel ini juga menyebut bahwa Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan militer terhadap Iran.

Menurut narasi tersebut, operasi dilakukan setelah sebuah kapal kargo dilaporkan menjadi sasaran serangan pesawat nirawak (drone) yang diduga berasal dari Iran.

Sebagai respons, pada 27 Juni 2026, militer Amerika Serikat disebut melaksanakan serangan presisi terhadap sekitar sepuluh sasaran militer Iran yang berada di kawasan Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya.

Target yang diklaim menjadi sasaran operasi meliputi:

Menurut narasi tersebut, operasi ini bertujuan menjaga keamanan jalur pelayaran internasional yang melintasi kawasan Teluk.

Hingga saat itu belum terdapat keterangan resmi yang memuat rincian lengkap mengenai dampak operasi tersebut.

Donald Trump Kembali Mengeluarkan Peringatan Keras kepada Iran

Tidak lama setelah operasi militer tersebut dilaporkan berlangsung, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyampaikan pernyataan keras melalui akun media sosial Truth Social.

Dalam unggahannya, Trump menuduh Iran kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah dicapai.

Ia menilai tindakan Teheran menunjukkan bahwa pemerintah Iran belum mengambil pelajaran dari berbagai konsekuensi yang telah dihadapi sebelumnya.

Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat mungkin tidak akan terus menahan diri apabila Iran tetap melakukan tindakan yang menurut Washington melanggar kesepakatan.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa apabila situasi terus memburuk, Amerika Serikat dapat memilih menyelesaikan konflik melalui operasi militer yang lebih luas.

Ia bahkan menutup pesannya dengan peringatan yang sangat keras, dengan menyatakan bahwa apabila Iran tetap menempuh jalur konfrontasi, Republik Islam Iran dapat menghadapi ancaman yang sangat serius terhadap keberlangsungan negaranya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu peringatan paling keras yang disampaikan Trump sejak meningkatnya kembali ketegangan antara Washington dan Teheran.

Iran Dilaporkan Melakukan Operasi Balasan

Sementara itu, sejumlah media juga melaporkan bahwa Iran diduga melaksanakan serangan balasan terhadap beberapa instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Menurut laporan yang beredar, sasaran yang disebut menjadi target antara lain:

Serangan tersebut dilaporkan menggunakan kombinasi rudal dan pesawat nirawak (drone).

Narasi dalam tayangan menyebut bahwa total sasaran militer Amerika yang diduga diserang mencapai delapan lokasi.

Namun hingga saat itu belum terdapat konfirmasi resmi mengenai tingkat kerusakan, jumlah korban, maupun hasil operasi tersebut.

IRGC Kembali Melontarkan Ancaman Baru

Selain laporan mengenai dugaan serangan balasan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga kembali mengeluarkan pernyataan yang bernada keras.

IRGC memperingatkan bahwa seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dapat menjadi sasaran serangan lanjutan dalam beberapa hari berikutnya.

Dalam pernyataannya, IRGC menggambarkan operasi tersebut sebagai “hujan serangan” yang akan menguji kemampuan pertahanan pasukan Amerika Serikat di kawasan.

Pernyataan tersebut semakin memperlihatkan bahwa ketegangan antara kedua negara masih berada pada tingkat yang tinggi.

Kerangka Gencatan Senjata Menghadapi Ujian Berat

Serangkaian perkembangan yang terjadi sepanjang 27–28 Juni 2026 menunjukkan bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang sangat sensitif.

Di satu sisi, muncul laporan mengenai operasi keamanan besar di Irak yang disebut menargetkan jaringan pro-Iran serta perubahan simbol politik di Lebanon yang dinilai mengurangi pengaruh Teheran. Di sisi lain, laporan mengenai operasi militer, dugaan serangan balasan, dan saling melontarkan ancaman semakin memperbesar risiko eskalasi konflik di kawasan.

Meskipun kerangka gencatan senjata sebelumnya sempat memberikan harapan bagi stabilitas Timur Tengah, rangkaian peristiwa terbaru menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut kini menghadapi ujian yang sangat berat. Berbagai pihak pun mempertanyakan apakah mekanisme gencatan senjata masih dapat dipertahankan atau justru akan runtuh apabila eskalasi militer dan ketegangan diplomatik terus berlanjut dalam beberapa waktu mendatang. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Susah Move On dari Drakor Goblin? 4 Rekomendasi Drama Korea Ini tentang Cinta Beda Dunia
• 1 jam lalugrid.id
thumb
Truk Rem Blong Tabrak 6 Motor di Simpang Unisma Bekasi, Ojol Tewas dan 9 Orang Terluka
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Erajaya (ERAA) Tetapkan Dividen Rp389,6 Miliar, Setara Rp25 per Saham
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
Pilkada Tak Berubah, MK Tegaskan Kepala Daerah Tetap Dipilih Langsung
• 2 jam lalueranasional.com
thumb
Hipertensi Dapat Merusak Mata Sebelum Menimbulkan Gejala
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.