Ketua DPR sekaligus Ketua DPP PDIP Puan Maharani meminta dugaan intimidasi yang dialami dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha diselidiki secara menyeluruh.
Puan juga menegaskan proses hukum harus dituntaskan hingga terang, termasuk apabila terdapat kader partainya yang terbukti terlibat dalam kasus tersebut.
“Kemudian bahwa ada terjadi perundungan, ya itu kan ya jangan sampai terulang lagi. Kita itu harus diselidiki,” tutur Puan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/6).
Menurut Puan, proses hukum juga harus berjalan secara tuntas sehingga memberikan kejelasan terhadap kasus tersebut.
“Kemudian kasus hukumnya harus dituntaskan sampai sejelas-jelasnya,” katanya.
Terkait kemungkinan sanksi terhadap kader PDIP yang diduga terlibat, Puan mengatakan setiap partai memiliki mekanisme internal masing-masing untuk menangani anggotanya.
“Ya pastinya nanti semua partai yang memang anggotanya terlibat mempunyai mekanisme dalam hal tersebut,” jelas Puan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penyelesaian melalui jalur hukum tetap menjadi hal utama yang harus dilakukan.
“Namun yang pasti ya, sanksi hukum ataupun kemudian penyelidikan harus dilakukan sampai tuntas,” kata dia.
Adapun kasus meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha terus menjadi sorotan publik. Sejumlah perkembangan terungkap, mulai dari dugaan intimidasi oleh tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), penyelidikan polisi, hingga langkah pemerintah daerah dan Kementerian Kesehatan.
Pihak keluarga menduga dokter Icha mengalami depresi berat setelah mendapat intimidasi dari tiga anggota DPRD Kabupaten TTU terkait penanganan seorang pasien yang mengalami gigitan ular hijau.
“Mereka dalam keadaan mabuk saat masuk ke ruang UGD,” ungkap Paman dr. Icha, Fabi Banase, Sabtu (27/6).
Berdasarkan hasil pemeriksaan kejiwaan yang diterima keluarga, dokter Icha didiagnosis mengalami episode depresi berat tanpa gejala psikotik.
“Salah satu di antara mereka berucap dengan nada tinggi, ‘Kau akan bertemu saya di Komisi III’,” tambah Fabi.





