Bisnis.com, CIREBON - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian Kabupaten Cirebon.
Data BPS menyebutkan, rasio pengeluaran konsumsi akhir rumah tangga terhadap Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi mencapai 3,42 pada 2025.
Kepala BPS Kabupaten Cirebon Januarto Wibowo mengatakan, tingginya rasio tersebut mencerminkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap pergerakan ekonomi daerah.
“Belanja rumah tangga masih menjadi penggerak utama ekonomi Kabupaten Cirebon. Sementara investasi terus tumbuh, porsinya belum mampu menyaingi besarnya konsumsi masyarakat,” ujar Januarto, Selasa (30/6/2026).
Berdasarkan data BPS, total pengeluaran konsumsi rumah tangga atas dasar harga berlaku meningkat dari Rp60,44 triliun pada 2024 menjadi Rp62,67 triliun pada 2025. Di sisi lain, nilai PMTB hanya naik dari Rp17,32 triliun menjadi Rp18,31 triliun.
Kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Cirebon masih bertumpu pada permintaan domestik. Konsumsi yang tetap kuat memang mampu menjaga stabilitas ekonomi jangka pendek, terutama ketika daya beli masyarakat masih terjaga.
Namun, struktur pertumbuhan seperti ini juga mengindikasikan investasi belum menjadi pengungkit utama peningkatan kapasitas produksi.
Menurut Januarto, investasi memiliki fungsi berbeda dengan konsumsi. Jika konsumsi mendorong perputaran ekonomi dalam jangka pendek, investasi berperan memperluas kapasitas produksi, meningkatkan produktivitas, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru dalam jangka panjang.
Karena itu, peningkatan investasi menjadi faktor penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada belanja masyarakat.
"Investasi menjadi modal untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan karena berdampak pada kapasitas produksi di masa mendatang,” katanya.
Secara keseluruhan, perekonomian Kabupaten Cirebon pada 2025 masih mencatatkan pertumbuhan positif. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku meningkat dari Rp67,20 triliun menjadi Rp73,96 triliun, atau tumbuh 10,05%.
Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan tumbuh 6,23%, menandakan adanya ekspansi ekonomi secara riil.
Meski demikian, kata Januarto, struktur pertumbuhan tersebut masih menyisakan pekerjaan rumah. Dominasi konsumsi rumah tangga menunjukkan aktivitas ekonomi masih sangat bergantung pada daya beli masyarakat.
Apabila konsumsi melemah akibat penurunan pendapatan atau tekanan ekonomi, laju pertumbuhan berpotensi ikut melambat.
"Sebaliknya, penguatan investasi dinilai akan memperkokoh fondasi ekonomi daerah melalui peningkatan produktivitas, ekspansi dunia usaha, dan pembukaan kesempatan kerja," tuturnya.





