Pengacara keluarga Ruly Yunis Setiawati, Risang Bima Wijaya, mengatakan adik korban telah diperiksa oleh pihak kepolisian. Pemeriksaan itu terkait identifikasi barang-barang milik korban.
Ruly adalah Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kabupaten Bangkalan. Dia ditemukan tewas dalam mobil dinas pelat merah nopol M 1090 GP di parkiran Bandara Juanda, Sidoarjo, Rabu (25/6).
Dalam rekaman CCTV diketahui mobil dinas Ruly sempat dikendarai oleh pria misterius saat masuk ke parkiran bandara. Pria itu bermasker, berkacamata, dan mengenakan jam tangan di tangan sebelah kiri.
Risang mengatakan dari penuturan adik korban, barang-barang Ruly hilang, dari perhiasan emas hingga uang.
"Dimintai kayak betul identifikasi lah itu, seperti identifikasi, terus soal emas-emas yang hilang itu apa saja. Terus ditunjukkan kan bukti-buktinya itu, terus mengenali mengidentifikasi barang-barang pribadi korban yang ditemukan. Terus ditunjukkan barang bukti yang ditemukan juga, misalnya dompet, dompet besar, kemudian kartu ATM, kemudian HP," kata Risang kepada kumparan, Selasa (30/6).
Dalam identifikasi tersebut, kata Risang, tidak ditemukan uang sepeser pun di dalam dompet milik korban.
"Jadi di sana itu tidak ada uang sedikit pun tidak ada uang itu, Rp 1.000 loh enggak ada. Enggak mungkin orang jalan, perjalanan dari Bangkalan-Malang berapa hari enggak ada uang tunai, Rp 1.000 pun enggak ada," ucapnya.
Ia menduga bahwa uang serta barang lainnya seperti kalung dan gelang emas milik korban diambil oleh terduga pelaku.
"(Diduga) diambil," ujarnya.
Menurut Risang, terdapat kejanggalan dalam kasus tewasnya Ruly ini. Sebab, sebelum ditemukan tewas, korban sempat mengunggah video berisi kolase foto bersama pria misterius di akun TikTok-nya pada Jumat (19/6) malam.
"Jadi kita ini kan masih bingung ini, keluarga terutama Madura ya. Bingungnya begini, di Madura yang namanya perselingkuhan misalnya, anggap gitu dulu lah, kalau dari tampilan di foto, yang tampak di foto itu kan ya, kalau ketahuan, kan taruhannya risiko yang dipertaruhkan terlalu besar, bisa mati kalau di Madura itu perselingkuhan itu," kata dia.
"Tapi kenapa Bu Ruly ini justru mengunggah foto-foto itu dijadikan video, kemudian diunggah di akun TikTok-nya sendiri, dan menandai beberapa temannya? Seperti mengumumkan, 'Ini saya selingkuh dengan ini,' kan. Ada apa? Padahal dia tahu sendiri, dia itu pejabat, punya karier. Habis lah pasti. Dia punya keluarga, punya rumah tangga, habis lah dipermalukan keluarganya. Tapi kenapa malam itu, beberapa jam sebelum dia terbunuh itu, dia justru mengunggah foto-foto seperti itu di akun media sosial dia sendiri?," imbuhnya.
Ia menduga bahwa unggahan video tersebut sebagai isyarat korban dalam keadaan tertekan atau menghadapi konflik.
"Jadi seolah-olah ada sesuatu terjadi di Jumat malam itu yang membuat Bu Ruly ini ketakutan. Mungkin sudah ada konflik yang membuat ketakutan, firasatnya jelek, sehingga dia mengunggah seolah-olah memberikan petunjuk kepada orang-orang bahwa, 'Bila terjadi sesuatu pada saya, saya terakhir bersama orang ini.' Kan seolah-olah begitu, ini hanya hanya pikiran-pikiran saya ya," ujar dia.
"Karena persoalan (selingkuh) seperti itu, itu siapa pun pasti menyembunyikan. Menyembunyikan dari orang-orang dekatnya juga pasti disembunyikan. Ini kok malah dia umumkan melalui akun TikTok-nya," lanjutnya.
Saat ini, pihak kepolisian menyelidiki dan memeriksa sejumlah saksi.
"Sampai dengan sekarang masih menunggu hasil laboratorium forensik Polda Jatim dan masih dalam penyelidikan, pendalaman, mengumpulkan data-data serta masih memeriksa beberapa saksi-saksi," kata Kasi Humas Polresta Sidoarjo, AKP Tri Novi Handono.





