PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel menyebut perusahaan tidak mengalami krisis pasokan sulfur di tengah kondisi geopolitik yang memanas. Direktur Keuangan Harita Nickel Suparsin Darmo Liwan mengatakan hal ini disebabkan karena perusahaan melakukan diversifikasi pasokan.
“Kami memiliki diversifikasi suplier sulfur sehingga tidak hanya terkonsentrasi pada satu negara atau Timur Tengah saja. Sampai saat ini stok kami tetap aman dan cukup hingga Oktober (2026),” kata Suparsin dalam Public Expose Tahunan, Selasa (30/6).
Perang yang terjadi di antara AS, Iran, dan Israel melumpuhkan kegiatan perekonomian di kawasan timur tengah dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu komoditas yang terdampak adalah sulfur yang mengalami kenaikan harga. Timur Tengah merupakan salah satu kawasan penghasil sulfur terbanyak di dunia. Sulfur merupakan salah satu komponen yang digunakan dalam proses hilirisasi nikel.
Dia menyebut sebelum perang Timur Tengah berlangsung, perusahaan sudah menyadari harga sulfur terus mengalami kenaikan sejak akhir 2025.
“Jadi dari akhir 2025 kami sudah terus memastikan pasokan sulfur dan stok di site kami itu cukup, bahkan bisa mencapai minimal 3 sampai 4 bulan produksi kebutuhan produksi,” ujarnya.
Suparsin mengatakan dengan persiapan tersebut maka perusahaan tidak terlalu terdampak, baik dari segi pasokan maupun tren harga yang terus naik.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah sebelumnya mencatat harga sulfur mengalami kenaikan tajam dalam waktu relatif singkat.
"Harga sulfur hari ini itu 1.200. Pada bulan April tahun lalu harganya hanya 250 saja," ujar Arif dalam forum Indonesia Critical Minerals di Jakarta awal Juni 2026.
Kenaikan harga dan risiko gangguan pasokan membuat sejumlah pelaku industri mulai melakukan diversifikasi sumber impor ke negara lain seperti Kanada, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.
Namun dalam jangka panjang, pengembangan sumber sulfur domestik dinilai menjadi solusi yang lebih berkelanjutan untuk memperkuat daya saing industri hilirisasi Indonesia.
Pengembangan Sulfur DomestikSementara itu, MIND ID, holding industri pertambangan Indonesia, tengah memetakan potensi pemanfaatan produk samping (by-product) dari tambang tembaga dan emas sebagai sumber sulfur domestik yang dapat mendukung kebutuhan industri hilirisasi nasional.
Direktur Perencanaan Pengolahan Sumber Daya Mineral MIND ID, Budi Santoso mengatakan pihaknya bersama anggota holding saat ini sedang melakukan inventarisasi terhadap potensi sulfur yang terkandung dalam by-product tambang, khususnya dari material seperti iron oxide dan iron sulfate.
Kebutuhan sulfur dalam industri nikel Indonesia terus meningkat seiring bertambahnya kapasitas fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL). Teknologi ini digunakan untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi produk antara seperti mixed hydroxide precipitate (MHP), yang menjadi bahan baku penting dalam rantai produksi baterai kendaraan listrik.
Skala kebutuhan sulfur pada proses tersebut tergolong besar. Dengan asumsi produksi satu ton MHP membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur, pertumbuhan industri HPAL secara langsung akan meningkatkan permintaan sulfur nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Di sisi lain, pasokan sulfur Indonesia masih didominasi impor. Saat ini lebih dari 70% kebutuhan sulfur untuk industri pengolahan nikel berasal dari luar negeri, dengan sekitar 75-80% pasokan impor berasal dari kawasan Timur Tengah. Total impor sulfur nasional bahkan mencapai sekitar 5,3 juta ton per tahun.
"Kondisi sekarang, ternyata di Indonesia 70 persen lebih kebutuhan sulfur nikel itu didapatkan melalui impor dan surprisingly itu ada di area di mana saat ini sedang berkecamuk di Timur Tengah," ujar Budi.
Ketergantungan tersebut menimbulkan tantangan tersendiri di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.




