Bisnis.com, JAKARTA — Mata uang rupiah ditutup menguat di hadapan dolar AS hari ini, Selasa (30/6/2026). Rupiah ditutup menguat menyentuh level Rp17.878 per dolar AS.
Berdasarkan data Tradingview, rupiah ditutup menguat 0,44% ke level Rp17.878 per dolar AS sore ini. Sementara itu, indeks dolar AS ditutup menguat 0,25% pada level 101,36.
Di sisi lain, sejumlah mata uang di Asia ditutup bervariasi. Mata uang yen Jepang ditutup melemah 0,26%, yuan China menguat 0,11%, dolar Singapura melemah 0,20%, dan won Korea Selatan melemah 0,80%.
Lalu dolar Hong Kong melemah 0,02%, dolar Taiwan menguat 0,02%, baht Thailand menguat 0,13%, dan ringgit Malaysia melemah 0,14%.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan dari eksternal, pasar mengamati hasil potensi pembicaraan AS-Iran di Doha di tengah serangan rudal akhir pekan dari kedua belah pihak yang menguji gencatan senjata.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan tidak akan ada pertemuan negosiasi di tingkat mana pun dengan pihak Amerika dalam beberapa hari mendatang.
Baca Juga
- Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.881, Pasar Tunggu Rilis Data Ekonomi Indonesia dan AS
- Rupiah Ditutup Perkasa Sentuh Rp17.840 per Dolar AS Senin (29/6)
- Rupiah Dibuka Menguat Jauhi Level Rp18.000 Meski Konflik AS-Iran Kembali Memanas
Ketidakpastian mengenai apakah kedua pihak akan bertemu menyoroti kerapuhan kesepakatan 17 Juni untuk menghentikan pertempuran yang telah mengganggu aliran minyak global melalui Selat Hormuz dan menimbulkan tantangan politik bagi Trump menjelang pemilihan kongres November mendatang.
Selain itu, sentimen juga datang dari keyakinan yang semakin besar bahwa Federal Reserve AS akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali tahun ini. Hal ini terjadi setelah bank sentral menunjukkan sikap hawkish selama pertemuan Juni, dengan beberapa pembuat kebijakan terlihat menyerukan kenaikan suku bunga.
Perhatian saat ini juga beralih ke laporan pasar tenaga kerja AS bulan Juni, dengan rilis Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis pada hari Kamis. Para ekonom memperkirakan ekonomi AS akan menambah 114.000 lapangan kerja sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3%, data yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan The Fed.
Pada hari Selasa, jadwal ekonomi AS akan menampilkan laporan JOLTS dan Indeks Kepercayaan Konsumen dari Conference Board (CB) yang akan dirilis malam nanti pukul 21.00 WIB.
Dari dalam negeri, pasar menunggu data neraca perdagangan di bulan Mei, sebelumnya di April defisit transaksi berjalan dan anggaran yang melebar. Surplus perdagangan yang menyusut, dinilai akan memberikan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia secara kumulatif sampai April hanya US$ 5,64 miliar. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari-April 2025 yang masih berada di atas US$ 10 miliar.
Di sisi lain, inflasi pada bulan Mei mendekati batas atas target Bank Indonesia, dipimpin oleh kenaikan harga pangan. secara agregat nasional stabilitas harga dan konsumsi masih terkendali. Namun, pergerakan inflasi di beberapa daerah menunjukkan alarm, khususnya Sumatra yang mencatatkan tekanan harga relatif lebih tinggi daripada wilayah lain.
Sentimen dari dalam negeri juga dipengaruhi oleh undang-undang baru yang memberikan kekebalan hukum menyeluruh bagi pembeli obligasi yang diterbitkan oleh dana investasi negara Danantara, yang menimbulkan kekhawatiran tentang tata kelola dan transparansi.
Untuk perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah akan ditutup melemah pada rentang Rp17.900-Rp17.950.





