REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kekecewaan mendalam menyelimuti kubu tim nasional Jerman setelah langkah mereka di Piala Dunia 2026 terhenti pada babak 32 besar. Gelandang serang Kai Havertz bahkan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada para pendukung Der Panzer sembari mengakui timnya tengah mengalami masa-masa sulit.
Harapan Jerman untuk kembali berjaya di pentas dunia pupus setelah kalah 3-4 (1-1) dari Paraguay melalui drama adu penalti, Selasa (30/6/2026) pagi WIB. Kekalahan itu memperpanjang catatan suram salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia yang belum juga mampu bangkit sejak mengangkat trofi Piala Dunia 2014 di Brasil.
- Tersingkir dari Piala Dunia, Nagelsmann: Jerman Harusnya Selesaikan Laga Sebelum Adu Penalti
- Paraguay Kubur Mimpi Jerman di Piala Dunia 2026 Lewat Adu Penalti, Tim Besar Pertama yang Tersingkir
- Susunan Pemain Jerman vs Paraguay: Nagelsmann Lakukan Dua Perubahan
"Saya tak bisa berkata-kata. Ini Piala Dunia kedua saya, dan untuk kedua kalinya kami gagal. Beberapa turnamen terakhir benar-benar menjadi bencana. Satu-satunya yang bisa saya katakan adalah saya minta maaf," kata Havertz, dikutip dari Bavarian Football Works, Selasa (30/6/2026).
Pemain Arsenal itu menilai seluruh skuad harus berani melakukan introspeksi. Menurutnya, mengenakan seragam tim nasional Jerman berarti memikul tanggung jawab besar untuk menjaga tradisi salah satu negara tersukses dalam sejarah sepak bola.
.rec-desc {padding: 7px !important;}"Kami sebagai para pemain harus benar-benar bercermin dan mengevaluasi diri. Kami bermain untuk sebuah negara besar yang memiliki sejarah sepak bola yang sangat kaya," ujarnya.
Jerman sebenarnya menunjukkan tanda-tanda kebangkitan dengan lolos ke fase gugur setelah dua edisi sebelumnya selalu tersingkir di babak penyisihan grup. Namun, langkah mereka langsung terhenti di pertandingan pertama fase gugur sehingga kebangkitan yang diharapkan belum benar-benar terwujud.
Malangnya, Havertz yang tampaknya akan menjadi pahlawan karena berhasil menjebol gawang Paraguay kemudian gagal mengeksekusi penalti pertama Jerman dalam babak tos-tosan.
Empat kali juara dunia itu kembali dipaksa menghadapi kenyataan pahit bahwa mereka masih tertinggal dari sejumlah negara yang tampil lebih stabil dalam beberapa tahun terakhir.
Havertz mengakui persoalan yang dihadapi Jerman bukan hanya terjadi di Piala Dunia kali ini. Rentetan hasil mengecewakan dalam berbagai turnamen besar, termasuk Piala Eropa, menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
"Setiap pemain harus melihat diri sendiri dan bertanya apa yang bisa kami lakukan dengan lebih baik. Kami semua bertanggung jawab atas situasi ini," kata pemain berusia 27 tahun tersebut.




