Potret "Hidden Homeless" di Jakarta: Siang Bekerja, Malam Tidur di Halte dan Stasiun

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah hiruk-pikuk Jakarta sebagai kota metropolitan, ada kelompok masyarakat yang nyaris luput dari perhatian, hidden homeless.

Mereka adalah individu yang tidak memiliki tempat tinggal, menjalani kehidupan nomaden, tapi seperti pekerja urban pada umumnya.

Pada siang hari, mereka tampak “normal”, bekerja. Namun saat malam tiba, halte, stasiun, masjid, hingga pos kelurahan berubah menjadi tempat mereka merebahkan tubuh.

Baca juga: Dibangun Rp 15,5 Miliar, JPO Marunda Rusak dan Jadi Tempat Tidur Gelandangan

Ciri mereka kerap serupa.

Sebagian besar membawa tas ransel atau tote bag berisi pakaian ganti, botol minum, sarung, atau barang penting lain yang selalu dibawa ke mana pun.

Pekerjaan mereka pun tidak tetap. Hari ini bisa menjadi kuli panggul, besok mengumpulkan botol bekas, lusa membantu bengkel, atau mengerjakan proyek kecil harian.

Mereka bekerja, tetapi penghasilannya belum cukup untuk membeli satu hal paling mendasar di kota besar, tempat tinggal yang layak.

Fenomena ini memperlihatkan wajah lain kemiskinan perkotaan.

Hidden homeless bukan gelandangan dalam stereotipe lama yang identik dengan hidup sepenuhnya di jalan dan meminta-minta.

Banyak dari mereka tetap bekerja keras setiap hari, tetapi terjebak dalam biaya hidup kota yang terus naik dan penghasilan yang tidak menentu.

Arman (43), perantau asal Bogor, menjadi salah satu potret nyata hidden homeless di Jakarta.

Saat ditemui di Halte Pejaten, Jakarta Selatan, ia duduk di bangku halte dengan tas ransel hitam yang tampak penuh.

Di dalamnya terdapat dua setel pakaian, botol minum, dan sarung lusuh yang biasa dipakainya untuk tidur.

Sudah delapan bulan terakhir Arman hidup berpindah-pindah tanpa tempat tinggal tetap. Kondisi itu bermula ketika ia tidak lagi sanggup membayar kos di kawasan Pasar Minggu.

“Awalnya saya masih ngekos di Pasar Minggu, tapi lama-lama enggak kuat bayar. Kos sekarang mahal, paling murah Rp 700.000 sampai Rp 1 juta, itu belum makan,” kata Arman saat ditemui Kompas.com, Senin (29/6/2026).

Baca juga: Stasiun JIS Jadi Magnet Warga yang Olahraga di Stadion, Sepekan 4.203 Penumpang

Ia bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Kadang ia menjadi tukang angkut material, kadang membantu proyek kecil. Namun pendapatannya jauh dari stabil.

“Sehari bisa dapat Rp150.000, tapi bisa juga tiga hari enggak ada panggilan,” ujar dia.

Meski berasal dari Bogor, Arman memilih tetap bertahan di Jakarta.

Baginya, kembali ke kampung bukan solusi karena tidak ada lagi tempat untuk pulang.

“Saya merantau ke Jakarta karena pikir kerja lebih gampang. Kalau pulang, saya malah bingung mau ke mana. Di sini minimal masih ada harapan dapat kerja besok,” kata dia.

Setiap malam, Arman harus memikirkan satu hal yang bagi banyak orang terasa sepele: di mana ia bisa tidur dengan aman. Ia tidak memiliki lokasi tetap.

Tidur di ruang publik membuatnya sulit beristirahat dengan tenang. Kekhawatiran akan pengusiran atau kehilangan barang terus menghantuinya.

“Tidur enggak pernah nyenyak. Takut diusir, takut barang hilang. Tas ini enggak pernah lepas dari badan. Saya tidur sambil meluk tas,” ucap dia.

Saat hujan deras, kondisi menjadi lebih sulit. Halte tidak selalu mampu melindungi tubuh dari air dan angin malam.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Namun yang paling berat baginya bukan sekadar dingin atau lapar, melainkan stigma sosial.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Kawal Penyelesaian Sengketa Lahan Transmigrasi
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cerita Dokter Icha: Pengingat agar Jabatan Tak Jadi Alat Intimidasi
• 15 jam laluliputan6.com
thumb
[FULL] Polemik Pajak JHT, Buruh Minta Pemerintah Hapus Pajak Jaminan Hari Tua, THR dan Pesangon
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
3 Fakta Menarik Rekrutan Anyar Persib Gabriel Mutombo: Pernah Jadi Mimpi Buruk Maung Bandung
• 13 jam lalubola.com
thumb
Mendagri Apresiasi Komisi II Dukung Penguatan Wilayah Perbatasan
• 23 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.