Liputan6.com, Jakarta - Kematian dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha menyisakan duka sekaligus pertanyaan besar. Kasus ini menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan dokter muda tersebut mengalami tekanan dan intimidasi saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.
Berdasarkan keterangan keluarga, dr. Icha didiagnosis mengalami depresi berat setelah menangani pasien gigitan ular hijau yang merupakan keponakan salah satu anggota DPRD TTU. Keluarga menyebut tiga anggota DPRD diduga mendatangi rumah sakit dan melakukan intimidasi. Dugaan tersebut kini masih didalami kepolisian.
Advertisement
Paman korban, Fabi Banase mengatakan dua dari tiga anggota DPRD yang datang ke IGD diduga dalam kondisi mabuk.
"Mereka dalam keadaan mabuk saat masuk ke ruang UGD," ujarnya, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Fabi, kondisi psikologis dr. Icha terus memburuk setelah insiden tersebut. Hasil pemeriksaan kejiwaan menunjukkan korban mengalami episode depresi berat tanpa gejala psikotik dan sempat melakukan percobaan bunuh diri.
"Pada Rabu (23/6/2026), setelah pulang dari Kefamenanu, hasil pemeriksaan di Klinik Utama Dewantara menunjukkan almarhum mengalami depresi berat hingga sempat mencoba mengakhiri hidup," kata Fabi.
Sebelum meninggal, dr. Icha juga mengirim pesan kepada keluarganya yang menggambarkan tekanan batin yang dialaminya.
"Dia bilang punya niat meninggal dunia untuk menghindari trauma. 'Bapa, saya stres. Kalau saya pulang ke sana, saya takut. Biar saya mati saja supaya jangan ada korban nakes yang lain'," tutur Fabi.




