Tagihan listrik rumah tangga di Singapura dipastikan melonjak ke level tertinggi dalam sejarah pada kuartal III 2026. Kenaikan ini terjadi setelah dampak perang Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong harga gas alam global lebih tinggi, sehingga memicu kenaikan tarif listrik di negara tersebut.
Operator jaringan listrik Singapura, SP Group, mengumumkan tarif listrik rumah tangga untuk periode Juli-September 2026 naik 17 persen menjadi 31,91 sen Singapura per kilowatt-hour (kWh) atau sekitar 25 sen AS per kWh.
Dikutip dari Bloomberg, Selasa (30/6), angka tersebut melampaui rekor sebelumnya sebesar 30,17 sen Singapura per kWh yang tercatat pada kuartal III 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Tarif terbaru ini juga menjadi yang tertinggi sejak data mulai tersedia pada 2014.
Perlu dicatat, tarif tersebut belum termasuk pajak barang dan jasa (Goods and Services Tax/GST). Pada 2022 tarif GST masih sebesar 7 persen, sedangkan kini telah naik menjadi 9 persen.
Berdasarkan data SP Group, tarif listrik rumah tangga Singapura sempat berada di kisaran 25 sen Singapura per kWh pada 2014, kemudian turun hingga menyentuh sekitar 17-18 sen per kWh pada 2016. Tarif kembali meningkat secara bertahap sebelum melonjak tajam pada 2022 akibat krisis energi global pascaperang Rusia-Ukraina.
Setelah sempat berfluktuasi di kisaran 27-30 sen per kWh sepanjang 2023 hingga 2025, tarif listrik kembali melonjak pada Juli 2026 menjadi 31,91 sen per kWh, tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Singapura sangat bergantung pada impor gas alam, baik melalui pipa maupun dalam bentuk gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), untuk menghasilkan listrik. Pemerintah menetapkan tarif listrik setiap tiga bulan berdasarkan rata-rata harga gas pada sekitar dua setengah bulan di kuartal sebelumnya.
Meski harga energi global mulai mereda dalam beberapa pekan terakhir setelah tercapainya kesepakatan sementara antara AS dan Iran yang memungkinkan kembali dibukanya Selat Hormuz, harga gas sempat berada di level tinggi sejak April hingga pertengahan Juni. Kondisi itulah yang kini tercermin dalam tarif listrik untuk kuartal III.
SP Group mengatakan dampak perubahan harga bahan bakar global memang membutuhkan waktu sebelum tercermin pada tarif listrik.
"Perubahan harga bahan bakar global memerlukan waktu sebelum tercermin pada tarif listrik. Situasi di Timur Tengah masih belum pasti. Apabila kondisinya membaik, harga bahan bakar global dan tarif listrik untuk kuartal IV 2026 berpotensi menurun," demikian pernyataan SP Group.
Selain pelanggan rumah tangga, SP Group juga menyebut tarif listrik secara keseluruhan, termasuk untuk pelanggan nonrumah tangga, akan naik 17,5 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya utilitas, Kementerian Keuangan Singapura menyatakan lebih dari 1 juta rumah tangga yang tinggal di perumahan umum akan menerima potongan atau subsidi tagihan listrik dan utilitas.
Sementara itu, Singapura telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Berdasarkan data Bloomberg, lebih dari 40 persen impor LNG Singapura pada 2025 berasal dari Qatar. Namun pada tahun ini, pemerintah telah mengamankan pasokan LNG hingga akhir tahun, termasuk melalui pembelian kargo spot dari wilayah di luar Teluk Persia, guna mengurangi risiko gangguan pasokan akibat konflik di kawasan tersebut.





