Bisnis.com, JAKARTA — Tren perekonomian salah satu negara anggota G7, Kanada, tengah menuai sorotan lantaran terdapat indikasi perlambatan pertumbuhan PDB hingga meningkatnya angka pengangguran usia muda.
Mengutip BBC pada Selasa (30/6/2026), Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kanada berada di angka 1,6% pada 2026. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan proyeksi untuk Amerika Serikat (AS) yang sebesar 2,3%, tetapi lebih tinggi dibandingkan negara G7 lainnya yang di bawah 1%.
Awal bulan ini, data dari badan statistik Kanada menyatakan bahwa negara tersebut telah mengalami resesi teknis, yakni penurunan PDB selama dua kuartal berturut-turut pada akhir 2025 dan awal 2026.
John Fragos selaku Juru Bicara Menteri Keuangan Kanada François-Philippe Champagne menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan sejumlah strategi guna menghadapi dinamika tersebut.
"Pemerintah menanggapi secara langsung perubahan volatilitas ekonomi global dan gangguan rantai pasokan yang luas dengan rencana serius untuk meningkatkan ekspor, menciptakan lapangan kerja, dan berinvestasi dalam proyek-proyek yang berorientasi pada produktivitas," katanya.
Selain PDB yang lesu, Kanada juga dihadapkan dengan angka inflasi yang menyentuh 3,2% pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya pada level 2,8%. Hal ini didorong oleh kenaikan harga bahan bakar minyak imbas perang di Timur Tengah.
Baca Juga
- Pengangguran Hampir 100.000, Pemkot Bandung Optimalkan Program untuk Serap Pencari Kerja
- Prabowo Targetkan Kemiskinan Turun jadi 6,5%, Pengangguran 4,87% pada 2027
- DJP: 95% Pencairan JHT Sudah Bebas Pajak, Termasuk yang Kena PHK
Akibatnya, biaya hidup masyarakat mengalami kenaikan, menurut Profesor Universitas British Columbia Paul Kershaw. Salah satu yang paling mencolok adalah kenaikan biaya perumahan, yang menyebabkan sebagian besar kaum muda tersingkir.
Kondisi ini berkait kelindan dengan tingkat pengangguran di Kanada yang mencapai 6,6% pada Mei 2026, sementara pengangguran usia muda mencapai 13,4%. Angka ini menunjukkan penurunan pertama sejak Januari lalu, tetapi masih jauh lebih tinggi daripada rerata sebelum pandemi yang berada pada kisaran 10%.
"Kita berada pada momen di mana perekonomian tidak menguntungkan kaum muda maupun beberapa pendatang baru dari segala usia," tuturnya.
Kondisi IndonesiaDi belahan dunia lainnya, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia, negara anggota G20, sebesar 5% pada 2026. Angka lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,1%.
IMF menjelaskan bahwa pemangkasan proyeksi itu berkaitan dengan gejolak geopolitik yang memperlambat laju perekonomian global. Selain itu, inflasi Tanah Air diperkirakan mencapai 3% pada tahun ini, meningkat tajam dari 1,9% pada 2025.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% pada kuartal I/2026. Sementara itu, inflasi menyentuh angka 3,08% pada Mei 2026.
Terkait pengangguran, BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Februari 2026 sebesar 4,68%, turun 0,08% poin dibandingkan Februari 2025. Angka itu setara dengan 7,24 juta orang pengangguran, berbanding 147,67 juta orang penduduk bekerja pada bulan kedua tahun ini.
Penduduk kelompok umur muda yakni 15–24 tahun juga menyumbang TPT tertinggi, yakni mencapai 16,36%. Sementara itu, TPT penduduk kelompok umur tua (60 tahun ke atas) merupakan yang paling rendah, yaitu sebesar 1,89%.
“TPT menurut kelompok umur tersebut memiliki pola yang sama sejak Februari 2024. Dibandingkan Februari 2025, hanya kelompok umur 25–59 tahun yang mengalami penurunan TPT yakni sebesar 0,11% poin, sementara kelompok umur lainnya mengalami kenaikan TPT,” terang BPS melalui berita resmi statistik.





