REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Akademisi Universitas Indonesia Rocky Gerung menjadi buah bibir di media sosial menyusul sejumlah sikapnya belakangan ini. Kritik disampaikan kepada Rocky karena dianggap berat sebelah dalam pemikiran.
Berat sebelah dimaksud yakni kritis terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo tapi terlalu lembek terhadap kepemimpinan Prabowo Subianto.
Baca Juga
Divonis Hukuman 10 Tahun Penjara, Nadiem: Semua Fakta Pengadilan Diabaikan
Satu Hakim Beda Pendapat dan Nilai Nadiem Layak Divonis Bebas, Ini Alasannya
Polisi Ungkap Dua TKP Baru dalam Kasus Taufik Hidayat, Kamis Digelar Rekonstruksi
Dalam sebuah bedah buku "MARHAENISME: Dalil Baru untuk Gen Z" karya Airlangga Pribadi Kusman" yang disiarkan oleh PDIP Perjuangan Surabaya pada 27 Juni lalu, Rocky menjawab semua tudingan-tudingan itu.
"Wartawan bertanya ke saya, aktivis bertanya ke saya 'Rocky Gerung Anda harus mengkritik seperti Anda mengkritik ke Jokowi dong, kenapa lemah ke Prabowo, Anda gak jujur'?" ujar Rocky menirukan pertanyaan kepadanya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Rocky lantas bertanya,"Apa yang perlu saya kritik? Kebijakannya (Prabowo)? oke," katanya.
Rocky lantas mengatakan, ia mengkritik Prabowo karena pemerintah menghaburkan uang untuk Ibu Kota Negara Nusantara (IKN). Rocky mengkritik pemerintah Prabowo karena dia membuatnya ikut harus membayar kerugian Whoosh 170 tahun lalu.
"Betul enggak?," tanya Rocky.
Namun, Rocky bertanya ulang, dan membalik logi dengan pertanyaan, "siapa yang awal mula membangun semua proyek tersebut."
"Astagfirullah? yang bikin Whoosh itu siapa, yang bikin IKN itu siapa? kenapa yu bilang 'betul'?" katanya menyindir pemerintahan Jokowi.
"Ini yang saya mau bilang bagaimana kemampuan kita untuk memfilter persoalan itu telah hilang, enggak mungkin saya kritik Prabowo seperti saya kritik Jokowi," katanya.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)