Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak para perusahaan bahan bakar minyak (BBM) untuk segera menurunkan harga jual bensin. Dia bahkan memperingatkan akan ada masalah besar apabila para peritel tidak segera mengikuti arahannya.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Senin (29/6/2026) waktu setempat, Trump meminta seluruh pengecer bensin segera memangkas harga di tingkat konsumen.
"Para pengecer bensin harus segera menurunkan harga jual mereka. Segera." Kata Trump dikutip dari Al Jazeera, Selasa (30/6/2026).
Dia juga menegaskan bahwa praktik pengambilan keuntungan secara berlebihan (price gouging) merupakan tindakan ilegal.
"Jika para peritel tidak melakukannya, akan ada masalah besar. Mulailah menargetkan harga sekitar US$2,50 per galon," tulisnya.
Trump menambahkan para pengecer harus segera merespons seruannya dan menurunkan harga demi kepentingan masyarakat Amerika.
Baca Juga
- WHO: 1.300 Orang Lebih Diperkirakan Meninggal akibat Panas Ekstrem di Eropa
- AS Balas Serang Iran Targetkan Infrastruktur Militer
- Harga Minyak Global Memanas Usai AS-Iran Kembali Bentrok
Selain menyasar para peritel, Trump juga mengkritik pemerintah negara bagian California. Dia mendesak California untuk menurunkan pajak atas bahan bakar yang dinilai telah membebani konsumen.
Menurut Trump, tarif pajak bahan bakar di California berpotensi melampaui harga produk itu sendiri apabila tidak segera dikoreksi.
"Sebentar lagi pajaknya akan lebih tinggi daripada harga produknya. Amerika Serikat tidak akan membiarkan hal itu terjadi, begitu pula rakyat California yang dirugikan oleh pajak yang tidak masuk akal dan pemerintah mereka sendiri," ujarnya.
Gubernur California Gavin Newsom, dari Partai Demokrat, merupakan salah satu pengkritik paling vokal terhadap Trump pada masa jabatan keduanya, terutama terkait kebijakan pemerintah federal yang mendorong peningkatan produksi bahan bakar fosil.
Di sisi lain, California justru terus mempercepat pengembangan energi terbarukan dan menargetkan sistem kelistrikan bebas emisi karbon dalam dua dekade mendatang.
Namun, seiring lonjakan harga bensin setelah pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, pemerintahan Trump mendorong peningkatan produksi energi domestik.
Pemerintah juga menggunakan kewenangan darurat untuk mengaktifkan kembali salah satu jaringan pipa minyak di California yang ditutup sejak 2015 akibat tumpahan minyak berskala besar.
Secara terpisah, pekan lalu Trump mengaku telah memerintahkan penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan minyak besar terkait tingginya harga bensin.
Menurut Trump, perusahaan migas belum menurunkan harga jual BBM di SPBU meskipun harga minyak mentah yang mereka beli telah turun tajam.
"Harga minyak turun seperti batu. Dengan kata lain, konsumen sedang diperas. Saya telah menginstruksikan Departemen Kehakiman (DOJ) untuk segera menyelidiki hal ini," tulis Trump dalam unggahan Truth Social pada 24 Juni.
Desakan Trump agar harga bensin segera diturunkan muncul ketika dirinya menghadapi kritik atas keputusan melancarkan perang terhadap Iran serta dampaknya terhadap meningkatnya biaya hidup jutaan warga Amerika Serikat.
Tekanan politik juga semakin besar menjelang pemilihan paruh waktu (midterm) yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Trump berulang kali menyatakan harga bahan bakar akan "turun drastis" setelah konflik dengan Iran berakhir. Namun, sejumlah ekonom menilai klaim tersebut terlalu optimistis dan memperkirakan konflik tersebut justru akan memicu dampak ekonomi yang lebih panjang, termasuk terhadap harga energi.





