Grid.ID - Dalam dunia musik, perhatian masyarakat biasanya tertuju pada karya, penampilan panggung, pencapaian, atau kehidupan pribadi seorang musisi, tetapi yang terjadi pada grup musik rock alternatif asal Indonesia, Perunggu menghadirkan situasi yang sedikit berbeda. Kali ini pembicaraan justru bergerak ke arah latar belakang pekerjaan para personelnya yang sempat ramai dibicarakan di media sosial dan bahkan menjadi perbincangan di LinkedIn.
Dalam grup ini, pengalaman mereka bekerja kantoran selama bertahun-tahun dianggap menarik oleh publik karena muncul anggapan bahwa latar belakang tersebut tidak sesuai dengan gambaran umum tentang seorang musisi.
Namun ketika ditanya mengenai fenomena tersebut, vokalis dan gitaris, Maul Ibrahim justru mengaku dirinya tidak terlalu memahami mengapa hal seperti itu bisa menjadi viral karena dari sudut pandangnya, pengalaman tersebut hanyalah bagian dari fase kehidupan yang pernah dijalani dan bukan sesuatu yang dianggap luar biasa.
"Agak bingung kenapa yang begitu viral? Karena sebenarnya lebih ke mungkin kalau diriku pribadi masih belum merasa familiar ketika apa ya latar belakang kami yang dibicarakan. Jadi biasanya kan lagu, penampilan, jadi kayak ini baru pertama kali kami mengalami kondisi bahwa ‘oh ini yang lagi diomongin latar belakang kami’. Jadi kayak, ‘hah kok gini?’ gitu," ujar Maul di kawasan Jakarta Selatan beberapa hari lalu.
"Ya ada bingungnya, ada… ya bingungnya lebih kepada ‘kenapa ya?’ gitu. Karena menurut kami itu fase hidup kami saja gitu yang pernah kami lewati gitu. Ya gitu saja sih, biasa saja," sambungnya.
Di tengah pembahasan tersebut, sang drummer Ildo Hasman juga menanggapi dengan cara yang cukup santai dan memperlihatkan bahwa menurutnya pengalaman profesional mereka bukan sesuatu yang istimewa jika dibandingkan dengan banyak orang lain di luar sana yang memiliki perjalanan karier yang mungkin lebih panjang atau lebih besar.
"LinkedIn orang banyak yang jauh lebih bagus, lebih keren, lebih mentereng," kata Ildo.
Di sisi lain, Maul juga menjelaskan bahwa perjalanan profesional tersebut tidak muncul secara instan karena pengalaman kerja selama lebih dari satu dekade tentu melewati proses yang panjang dan perubahan yang terus terjadi dari waktu ke waktu sehingga perkembangan karier merupakan sesuatu yang wajar.
"Kami mah kebetulan saja sudah ngantor di atas sepuluh tahun, sebelas tahun. Kan nggak mungkin di situ-situ saja maksudnya selama belasan tahun. Dan nggak langsung tiba-tiba segitu juga," sambung Maul.
Hal lain yang menarik adalah cara Perunggu memandang fenomena viral yang sedang terjadi karena mereka tampaknya tidak terlalu fokus pada dampak atau keuntungan yang mungkin muncul dari perhatian besar tersebut dan lebih memilih untuk bersikap tenang terhadap sesuatu yang memang tidak dapat dikendalikan.
"Itu hal yang tidak bisa kami kendalikan, jadi nggak kami pikir-pikirin banget sampai ke sana. Jadi itu kan ya orang mau menanggapinya seperti apa ya monggo. Maksudnya toh kami nggak bisa mengontrol dan itu memang latar belakang yang sudah terjadi bagi kami ya sudah, nggak bisa diapa-apain juga," katanya.
"Dan fakta anyway juga ya sudah gitu kan, bukan sebuah kebohongan juga. Dan mungkin lebih ke ini juga, maksudnya yang dibicarakan juga hal yang bukan hal yang negatif jadi kami nggak ambil pusing lah gitu. Kecuali yang ada fitnah atau apa gitu mungkin baru kami bakal meluruskan, tapi kalau ini kan ‘oh ya sudah emang begitu kan’," sambungnya. (*)
Artikel Asli




