Melamar Kerja Masih Ditanya Suku, Anak Muda Menggugat Keberagaman yang Sesungguhnya

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Sejumlah anak muda mengikuti kegiatan Piknik Sore di Taman: Generasi Muda, Identitas, dan Masa Depan Kohesi Sosial, Pre-Event #1 dari rangkaian Harmony in Diversity Award.

Kegiatan itu berisi diskusi hingga tanya jawab dari sesama anak muda dalam lika-liku melamar kerja. Salah satu yang menjadi pembahasan yakni ketika masih ditanya soal suku.

BACA JUGA: Turnamen GP NasDem Padel Rangkul Anak Muda Lewat Olahraga

Dalam acara yang digelar 5P Global Movement Indonesia pada Sabtu (27/6) sore di Taman Bendera Pusaka, Jakarta, mempertemukan tiga narasumber dan satu moderator dengan puluhan anak muda dalam forum yang sengaja dirancang terasa seperti piknik: santai, terbuka, dan dekat dengan bumi.

Namun selama hampir dua jam, percakapan itu jauh dari ringan. Mereka mencoba mengurai sesuatu yang tampak sederhana, yaitu apa arti keberagaman di Indonesia hari ini, dan menemukan bahwa celah antara narasi dan kenyataan masih cukup lebar.

Risdo Simangunsong selaku program manager Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) tidak membuka diskusi dengan retorika persatuan. Dia justru mempertanyakan klaim "keaslian" dalam masyarakat majemuk. "Yang asli di Jakarta itu rawa," ujarnya.

BACA JUGA: Gobel Group, Buah Kerja Keras Sang Maestro Bisnis dari Gorontalo untuk Indonesia  

Pernyataan itu disambut tawa, tetapi pesannya serius: narasi kemurnian etnis atau budaya hampir selalu bisa dipatahkan bila ditelusuri lebih dalam. Dan bila klaim keaslian itu tidak kokoh, pertanyaan tentang siapa yang berhak "merasa Indonesia" pun ikut goyah.

Keberagaman dalam diskusi ini bukan sekadar soal etnisitas. Bagi Apriyani Supriatna dari Ruber Innovation Lab, sebuah platform inovasi dan riset sosial, dia adalah metode kerja. Ia mendorong pendekatan design thinking: sebelum menawarkan solusi atas perbedaan, langkah pertama adalah mendengarkan.

"Perbedaan pendapat justru bisa jadi sumber inovasi, kalau kita mulai dari empati," ujarnya. Tapi Apriyani menekankan bahwa empati saja tidak cukup. "Integritas itu soal keputusan untuk kebaikan bersama, bukan hanya untuk lingkaran kami sendiri," katanya.

Dirgantara Reksa Ginanjar dari Indonesia Nederland Youth Society, jejaring pemuda lintas benua, membawa perspektif yang lebih berlapis. Di panggung internasional, identitas etnis sering kalah relevan dengan kontribusi dan kompetensi.

BACA JUGA: Catatan dari ASEAN Future Forum 2026, Masa Depan Kerja Sama Partai Politik di Asia Tenggara

"Makin banyak bertemu orang dari berbagai penjuru dunia," ujar Dirga, panggilan akrab Dirgantara,

"identitas sebagai orang Indonesia justru semakin terasa. Di balik keberagaman ada keberagaman lagi yang lebih besar."

Namun Dirga tidak berhenti di sana. Ia mengakui bahwa sentimen rasial di Eropa terhadap imigran tidak bisa diabaikan begitu saja; di beberapa wilayah bahkan semakin meruncing. Baginya, dua kenyataan itu tidak saling membatalkan: keduanya justru menunjukkan bahwa keberagaman bukan tujuan yang sudah tuntas di mana pun, termasuk di negara-negara yang selama ini dianggap lebih inklusif.

Sesi tanya jawab membawa diskusi ke tanah yang lebih keras. Risdo mengingatkan bahwa Indonesia baru mengizinkan pasangan lintas agama mencantumkan keyakinannya di KTP pada 2017. Akses publik bagi penyandang disabilitas juga belum memadai.

"Kami perlu benar-benar terbiasa dengan ragam identitas," katanya. Bukan sekadar menyebut kebinekaan sebagai kebanggaan nasional, tapi membangun ruang yang nyata bagi semua bentuknya, demi terciptanya kondisi yang menurutnya paling penting: masyarakat yang berdaya tahan.

Algoritma media sosial masuk sebagai tantangan baru. Risdo menyoroti ironi social bubble digital yang mempersulit anak muda untuk terpapar perspektif yang berbeda, dan solusinya, menurutnya, bukan menunggu platform berubah. "Kita bisa cari selera FYP dan algoritme yang berbeda," ujarnya. "Biasakan diri dengan yang berbeda."

Diskusi yang dipandu Maria Bellen, Operations Manager dari Endgame, tidak berakhir dengan resolusi yang rapi, dan mungkin memang tidak seharusnya. Tapi di antara semua pertanyaan yang menggantung, satu hal menjadi jelas: jika keberagaman benar-benar kekuatan Indonesia, ia perlu lebih dari sekadar dirayakan; ia perlu dibuktikan, kemudian dipertahankan.

Harmony in Diversity Award akan kembali menghadirkan pre-event berikutnya sebagai bagian dari rangkaian menuju malam penghargaan utama. Informasi dan pembaruan dapat diikuti melalui kanal resmi 5P Global Movement Indonesia. (cuy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Persatuan Indonesia Hadirkan Ruang Belajar dan Pelatihan Gratis untuk Anak Muda


Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kolaborasi Global Unhas, SHOU, dan GDOU Perkuat Inovasi Kelautan untuk Keberlanjutan Masyarakat Pesisir
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Sambut Hari Bhayangkara Ke-80, Polri Salurkan Bansos di Cikeas Udik Bogor
• 12 jam laludetik.com
thumb
Dukung Ketahanan Ekonomi, BRI Peduli Bekali 60 Purna Pekerja Migran Indonesia di Cirebon Keterampilan Wirausaha
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
DPR RI Setujui Naturalisasi Luke Vickery dan Mitchell Baker
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
103 Tenaga Konstruksi se-Jawa Timur Ikuti Pelatihan dan Sertifikasi Akademi Jago Bangunan
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.