Sudarto sore itu duduk di depan pabrik tahu miliknya. Dari tempat tersebut, ia memantau aktivitas produksi yang dikerjakan para pegawainya, mulai dari proses pengolahan kedelai hingga tahu siap dipasarkan.
Tempat produksi tahu yang dibesarkannya itu kini bisa menghasilkan hingga 6 kuintal tahu per hari. Namun, perjalanan Sudarto hingga memiliki usaha sendiri tidak dimulai dengan mudah.
Sebelum menjadi pengusaha tahu, ia lebih dulu bekerja sebagai buruh pabrik. Sudarto memulai proses dari bawah, mengetahui seluk beluk pembuatan tahu hingga akhirnya menguasai keterampilan yang menjadi bekalnya untuk membuka usaha sendiri.
Pria asal Nganjuk, Jawa Timur, itu merantau ke Jakarta sejak 1995. Saat itu Sudarto berpindah dari satu tempat ke tempat lain semata-mata untuk mencari upah yang layak bagi kehidupannya di Jakarta.
"Pengin nyari gaji yang gede pindah ke sana, pindah ke sini. Dan akhirnya kan kita ambil pengalaman dari kita kerja, akhirnya kan menguasai cara pembuatan tahu itu," kata Sudarto saat ditemui di depan pabriknya di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Belasan tahun bekerja di pabrik orang lain, Sudarto akhirnya memutuskan untuk memproduksi tahu sendiri pada 2010. Awalnya produksi tahu milik Sudarto hanya kecil-kecilan sekitar 50 kilogram.
Perlahan usaha tersebut berkembang hingga akhirnya ia membeli tempat produksi sendiri lima tahun kemudian. Untuk membangun pabrik tersebut, Sudarto menggunakan modal pinjaman sekitar Rp 70 juta. Sementara peralatan produksi ia lengkapi secara bertahap sejak awal merintis usaha.
"Kalau tahu tergantung kualitas ya. Kalau kualitas kita bagus, setoran kita agak miring ama yang lain, itu kemungkinan naiknya itu cepat," ujar Sudarto.
Seiring berjalannya waktu, kapasitas produksi tahu milik Sudarto terus meningkat. Kini dalam sehari, ia bisa memproduksi sekitar 6-7 kuintal tahu.
Produk tersebut biasanya dipasarkan ke Pasar Minggu hingga Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Harga tahu yang dijualnya saat ini sekitar Rp 35 ribu per lempeng.
Dalam satu hari produksi, Sudarto menjelaskan modal yang harus dikeluarkan sekitar Rp 10 juta. Biaya tersebut sebagian besar digunakan untuk membeli kedelai dan kebutuhan operasional.
"Kalau kedelai harga sekarang aja udah hampir Rp 12.000. Kalau bikin 5 kuintal aja ini misalnya, udah Rp 6 juta. Rp 6 juta itu baru kedelai doang. Biaya operasional kalau 5 kuintal itu kurang lebih 3 juta setengah sampai 4 juta. Jadi 10 juta lebih kalau bikin produksi 5 kuintal," ujar Sudarto.
Sehari Produksi TahuSudarto menjelaskan proses pembuatan tahu yang dilakukan di pabriknya dimulai sejak pagi. Kedelai yang sudah disiapkan harus melalui sejumlah tahapan, mulai direndam, digiling, direbus dan diambil sarinya.
Setelah itu, sari kedelai masuk dalam proses penggumpalan menggunakan air asam sebelum akhirnya dicetak menjadi tahu.
"Ya kalau cuma dikira-kira aja gampang, dari kedelai direndam, digiling, direbus kan ini, direbus sampai mateng, diambil sarinya, terus ini proses penggumpalan pakai air asem tadi. Setelah ngendap, proses penggumpalan kurang lebih 1 jam. Kalau udah menggumpal tadi diambil airnya, jadi tinggal tahunya, tinggal dicetak," kata Sudarto.
Untuk produksi sekitar 5 kuintal tahu, proses tersebut dimulai sejak pukul 06.00 pagi dan selesai sekitar pukul 17.00 sore. Baru kemudian produk tahu itu dikirim pada malam hari,
"Habis magrib ini tahu udah keluar semua," ujar Sudarto.
Dalam proses distribusi, Sudarto mempekerjakan tiga orang pengantar. Mereka bertugas mengirim tahu ke pelanggan yang tersebar di sejumlah wilayah.
Selain tiga pekerja tersebut, ada juga enam orang lainnya yang bertugas di proses pengolahan tahu. Mereka digaji sekitar Rp 3 juta per bulan.
"Ya itu udah bersih. Udah dapat makan, dapat kopi dua kali," ujar Sudarto.
Dalam perjalanan mengembangkan usaha, Sudarto mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sejak 2020. Awalnya ia meminjam uang sebesar Rp 100 juta, kemudian dilanjutkan dengan pinjaman sebesar Rp 200 juta.
Sudarto menjelaskan dana tersebut digunakan untuk menambah peralatan produksi hingga memperbarui kendaraan operasional.
"Sekarang kan alat-alat makin canggih itu. Dulu kalau kayak gentong-gentong itu dari kayu, sekarang udah mainnya udah stainless semua. Lalu mesin yang saring itu dulu orang, sekarang yang tadi udah pakai mesin kayak robot itu. Jadi gerak sendiri dia," ujar Sudarto.
Menurut Sudarto, tambahan modal dari KUR membantu menjaga perputaran bisnisnya. Sebab, kata Sudarto, sebagian pelanggan tidak langsung membayar secara tunai setelah menerima tahu.
"Jadi ada yang tempo seminggu, 3 hari. Kalau saya malah ada yang sebulan. 1 bulan itu baru setor. Nah, dengan adanya modal ini kan kita bisa nutup kedelai lebih dulu, lebih awal. Sebelum langganan kita setor, kita udah bisa membeli kedelai lagi. Jadi buat tambahan putaran keuangan juga. Arusnya, perputarannya tetap berjalan," kata Sudarto.
Meski begitu, Sudarto mengatakan keuntungan dari usaha tahu ini sangat bergantung pada kondisi pasar dan harga kedelai. Menurutnya, harga tahu tidak bisa langsung dinaikkan ketika harga kedelai meningkat.
"Ini nggak bisa serta merta besok kedelai naik ikut naik, nggak bisa. Tetap segitu terus. Itu se-Jabodetabek harga tahu itu sama. Jadi enggak bisa naikin harga sendiri itu nggak bisa. Paling bisa kita mengurangi bahan, kita tipisin," ujar dia.
Produksi 6 Kuintal Sampai Pasok MBGDalam lima tahun terakhir, produksi tahu Sudarto meningkat hingga produksi 6 kuintal sehari. Peningkatan itu terjadi lantaran adanya tambahan pelanggan, termasuk pedagang keliling dan pesanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Untuk pelanggan pedagang keliling, Sudarto memasok hingga hampir 1 kuintal tahu setiap kali pengiriman.
Sementara untuk MBG, ia mulai menerima pesanan sejak tahun lalu. Namun pesanan tersebut tidak setiap hari karena menyesuaikan menu yang diberikan dapur MBG.
"Kalau dapur itu kan menunya nggak mesti tahu. Jadi seminggu itu paling dua kali, tiga kali," ujar dia.
Usaha Tahu Ubah Kehidupan SudartoPerihal keuntungan yang didapat dari usaha tahu ini, Sudarto mengaku tidak mudah untuk menghitungnya secara pasti. Ia membandingkan dengan usaha tempe yang lebih mudah dihitung berdasarkan jumlah produksi.
Namun ia memperkirakan pendapatan kotor usaha tahu miliknya bisa mencapai sekitar Rp 30 juta per bulan.
"Pokoknya sehari itu kalau 5 kuintal Rp 1 juta kotor dapat. Belum kerusakan, belum bensin," katanya.
Dari usaha tersebut, Sudarto juga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi pegawai di pabriknya. Di samping itu, masyarakat sekitar juga merasakan manfaatnya dengan bisa membeli tahu langsung dengan sistem eceran.
Perjalanan panjang selama 16 tahun usaha tahu ini juga membuat kondisi ekonomi Sudarto berubah. Ia yang awalnya pergi ke Jakarta sebagai buruh, kini sudah memiliki tempat tinggal dan kendaraan sendiri.
"Dulu nggak punya mobil, sekarang udah punya mobil. Dulu enggak punya lahan di sini, sekarang udah punya tempat tinggal di Jakarta," ujar Sudarto.
Ia bersyukur rezeki dari usaha tahu ini juga bisa membuatnya membeli sawah di kampung halamannya.
"Alhamdulillah di kampung juga punya sawah, punya ini. Udah bisa nikahin anak sampai punya cucu. Kan itu rezeki juga itu," imbuh Sudarto.
Sementara itu, Pimpinan Cabang BRI Pasar Minggu, Yanuar Akademikus Arbifirdaus, menyambut positif perkembangan UMKM di wilayah Pasar Minggu. Ia menegaskan komitmen BRI untuk selalu memajukan UMKM di Indonesia.
"Tentunya kami sangat bersyukur apabila dari pelaku-pelaku UMKM yang menikmati pembiayaan atau modal kerja, untuk usahanya dari Bank BRI. Saya turut bersyukur dan bangga," ujar Arbi saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.
Ia juga menyampaikan bahwa BRI akan terus mempermudah transaksi keuangan bagi para pelaku UMKM melalui berbagai layanan perbankan.
Ia berharap BRI bisa terus membantu masyarakat dengan penyaluran KUR. Selain itu, warga yang mendapatkan pinjaman modal tersebut diharapkan terus bisa meningkatkan usahanya untuk naik kelas.
"Tentunya ini jadi harapan kita semua. Kita bisa menyalurkan khususnya KUR, ke pelaku usaha UMKM ini untuk apa? Men-generate kemampuan usaha pelaku UMKM itu sendiri. Dengan bertambahnya modal, atau dia dengan kredit investasi buka tempat baru, sehingga bisa memperluas usaha dan memajukan usaha dari pelaku-pelaku UMKM," ujar Arbi.
(knv/knv)





