HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Regenerasi kepemimpinan baru Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Makassar diharapkan tidak sekadar menghasilkan ketua baru, tetapi juga memperkuat peran organisasi dalam menjawab berbagai persoalan kesehatan reproduksi perempuan, termasuk tingginya angka kematian ibu dan bayi serta masih rendahnya kesadaran masyarakat melakukan deteksi dini penyakit.
Hal itu mengemuka dalam Musyawarah Cabang (Muscab) POGI Makassar yang digelar, di Novotel Makassar Grand Shayla pada pada Sabtu, 27 Juni 2026. Forum tersebut menjadi ajang evaluasi kepengurusan sekaligus pemilihan Ketua POGI Cabang Makassar periode 2025–2028.
Ketua POGI Cabang Makassar, Prof. Dr. dr. Syahrul Rauf, Sp.OG, Subsp. Onk., mengatakan kepengurusan baru nantinya diharapkan mampu memperkuat kolaborasi seluruh anggota dalam meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan di Sulawesi Selatan.
“Musyawarah cabang ini adalah proses regenerasi kepemimpinan. Harapannya, ketua yang terpilih dapat bekerja sama dengan seluruh anggota untuk meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan,” ujarnya.
Menurut Prof. Syahrul, tantangan yang dihadapi dokter obstetri dan ginekologi saat ini masih besar. Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dinilai masih rendah sehingga banyak penyakit baru diketahui setelah memasuki stadium lanjut.
“Masyarakat kita masih banyak yang datang ke dokter ketika sudah sakit. Padahal yang kita dorong adalah pemeriksaan rutin sebelum muncul keluhan. Dengan begitu, penyakit bisa dideteksi lebih dini dan peluang kesembuhan jauh lebih besar,” katanya.
Ia menambahkan, persoalan tersebut tidak hanya terjadi pada ibu hamil, tetapi juga pada kasus kanker serviks maupun kanker rahim yang masih sering ditemukan dalam kondisi terlambat.
“Pencegahan jauh lebih murah dibanding pengobatan. Kalau penyakit ditemukan sejak awal, penanganannya lebih mudah dan biaya yang dikeluarkan juga jauh lebih ringan,” jelasnya.
Karena itu, POGI terus mengampanyekan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi melalui program Selamatkan Perempuan Indonesia (SPI). Program tersebut mendorong perempuan untuk rutin memeriksakan kesehatannya, baik saat hamil maupun di luar masa kehamilan.
Sebagai bagian dari peningkatan kapasitas anggota, Muscab juga dirangkaikan dengan simposium bertema From Evidence to Action: Understanding RSV Maternal Immunization During Pregnancy. Forum ilmiah tersebut membahas pentingnya imunisasi Respiratory Syncytial Virus (RSV) pada ibu hamil sebagai salah satu upaya menekan risiko infeksi saluran pernapasan pada bayi sejak lahir.
Prof. Syahrul menilai pembaruan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan regenerasi organisasi agar POGI tetap mampu menjawab perkembangan ilmu kedokteran sekaligus tantangan pelayanan kesehatan perempuan.
“Harapan kami, kepengurusan baru tidak hanya melanjutkan program yang sudah berjalan, tetapi juga menghadirkan inovasi agar pelayanan kesehatan perempuan semakin baik. Perempuan yang sehat akan melahirkan generasi yang sehat, dan itu menjadi modal pembangunan bangsa,” pungkasnya.
POGI Makassar juga terus menggaungkan program Selamatkan Perempuan Indonesia (SPI) sebagai gerakan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan reproduksi perempuan, mulai dari pemeriksaan berkala, deteksi dini penyakit, hingga pendampingan selama kehamilan.
Sementara itu, Ketua Panitia, dr. Syahruni Syahrir, Sp.OG, Subsp. Obginsos, M.H., mengatakan rangkaian kegiatan tersebut bertujuan memperbarui wawasan ilmiah para dokter spesialis sekaligus memperkuat komitmen organisasi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan perempuan.





