jpnn.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif The Indonesian Institute (TII) Adinda Tenriangke Muchtar mengapresiasi Program Magang Nasional yang dijalankan pemerintah sebagai upaya memperluas kesempatan kerja bagi lulusan perguruan tinggi.
Menurut Adinda, program tersebut menjadi jembatan bagi lulusan baru untuk memperoleh pengalaman kerja sekaligus membuka akses masuk ke dunia industri.
BACA JUGA: Pemerintah Buka Magang Nasional 2026, Targetkan 150 Ribu Fresh Graduate Masuk Dunia Kerja
"Program ini mendukung pemberdayaan, termasuk dalam hal terciptanya lapangan kerja dan memastikan lulusan S1 bisa mengikuti program magang yang memberikan pintu dan kesempatan ke perusahaan terkait sekaligus juga ada pendapatan berdasarkan UMP," ujar Adinda.
Dia menilai capaian awal Program Magang Nasional layak mendapat apresiasi.
BACA JUGA: Menaker Yassierli & Seskab Teddy Luncurkan MagangHub Angkatan II, Kuota Peserta Naik
Dari data pemerintah yang disampaikan Menteri Ketenagakerjaan dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, sekitar 30 persen peserta berhasil memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan masa magang selama enam bulan.
"Saya rasa tahun ini tentu patut diapresiasi. Setidaknya berdasarkan data dari pemerintah yang disampaikan Menaker maupun Setkab disebutkan bahwa 30 persen bahkan setelah enam bulan magang sudah bisa bekerja," katanya.
BACA JUGA: Menaker: Pemerintah Siap Kucurkan Rp 4,2 T Untuk Program Magang Nasional
Meski demikian, Adinda mengingatkan pemerintah agar perluasan kuota peserta dari 100 ribu menjadi 150 ribu orang tetap mengedepankan transparansi dan prinsip meritokrasi.
Menurut dia, pemerintah perlu memastikan pemerataan akses serta melakukan evaluasi berbasis data agar penempatan peserta benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.
Selain itu, Adinda meminta pemerintah membuka data mengenai asal perguruan tinggi peserta, sebaran wilayah, kompetensi, hingga tingkat penyerapan tenaga kerja.
Dia menilai keterbukaan data tersebut penting sebagai bahan evaluasi sekaligus dasar penyempurnaan Program Magang Nasional pada angkatan berikutnya.
Adinda juga berharap evaluasi tidak hanya dilakukan pemerintah, tetapi turut melibatkan peserta magang dan perusahaan mitra.
Dia mengingatkan perluasan program bagi penyandang disabilitas harus dibarengi kesiapan dunia usaha agar implementasinya berjalan optimal.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan Program Magang Nasional telah diikuti 100 ribu peserta sepanjang 2025.
Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen peserta langsung diterima bekerja setelah menyelesaikan masa magang.
"Program ini menjadi jembatan bagi para lulusan baru untuk memasuki dunia kerja, sekaligus memberikan pengalaman dan penghasilan selama masa magang," ujar Teddy.
Pemerintah juga memperluas Program Magang Nasional pada 2026 dengan menambah kuota menjadi 150 ribu peserta, termasuk membuka kesempatan bagi lulusan pendidikan profesi dan penyandang disabilitas. Langkah itu diharapkan semakin memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia sekaligus memperbesar peluang lulusan baru memasuki dunia kerja. (kkp/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Menaker Yassierli Ajak Lulusan MagangHub Ikuti Sertifikasi Kompetensi Demi Tujuan Ini
Redaktur : Elfany Kurniawan
Reporter : Kenny Kurnia Putra




