DEN HAAG, KOMPAS.TV - Keberhasilan Tim Nasional Maroko menyingkirkan Belanda pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 memicu dua situasi yang kontras.
Perayaan besar berlangsung di Casablanca, Maroko, sementara bentrokan antara sekelompok suporter dan aparat kepolisian pecah di Den Haag, Belanda, Senin (29/6/2026) malam waktu setempat.
Maroko memastikan langkah ke babak 16 besar setelah mengalahkan Belanda melalui adu penalti.
Kekalahan tersebut juga menjadi catatan pahit bagi Belanda karena menandai langkah paling awal mereka di fase gugur sepanjang keikutsertaan di Piala Dunia.
Baca Juga: Hasil Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026: Bounou Jadi Pahlawan Adu Penalti, Oranje Tersingkir
Belanda memiliki komunitas warga keturunan Maroko yang cukup besar. Seusai pertandingan, para pendukung Maroko awalnya turun ke jalan untuk merayakan kemenangan dalam suasana meriah.
Namun, di sejumlah titik, perayaan itu berujung bentrokan sporadis. Kepolisian Den Haag melaporkan gangguan keamanan terjadi di distrik Schilderswijk.
Sejumlah orang menyalakan kembang api berdaya ledak tinggi, kemudian melempari petugas dengan batu dan petasan.
Untuk mengendalikan situasi, polisi antihuru-hara diterjunkan ke lokasi. Petugas juga menggunakan meriam air (water cannon) guna membubarkan massa yang masih bertahan di jalan.
"Beberapa individu telah ditangkap karena melakukan tindakan kekerasan secara terbuka," demikian pernyataan resmi kepolisian setempat, dikutip dari Associated Press.
Euforia di Casablanca hingga Dini HariPenulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : The Associated Press
- Piala Dunia 2026
- Maroko vs Belanda
- hasil Piala Dunia 2026
- perayaan Casablanca
- Maroko lolos 16 besar
- Ismael Saibari





