Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai industri otomotif dan konsumen masih menunggu kepastian terkait insentif kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan kepastian kebijakan diperlukan agar pasar tidak tertahan dan industri tetap bergerak.
"Terkait dengan itu, kami meminta agar industri dan konsumen produk otomotif segera diberi kepastian," harap Febri di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 30 Juni 2026.
Menurut dia, ketidakjelasan skema insentif berpotensi membuat masyarakat menunda keputusan pembelian, yang pada akhirnya dapat menekan kinerja industri otomotif nasional.
"Jadi kami mohon agar pengambil kebijakan di kementerian atau lembaga lain segera memberikan kepastian terkait insentif tersebut," ucap Febri.
Untuk menjaga momentum penjualan pada semester II-2026, Kemenperin terus menjalin kolaborasi dengan berbagai asosiasi industri. Langkah tersebut difokuskan untuk memperkuat pemasaran produk manufaktur nasional, termasuk kendaraan listrik yang menjadi bagian dari transformasi industri otomotif.
Kemenperin menilai dukungan kebijakan dan promosi yang terintegrasi penting untuk menjaga pertumbuhan pasar.
Baca juga: Airlangga: Insentif Kendaraan Listrik Masih Dievaluasi Insentif 100 ribu mobil-motor listrik disiapkan
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pemerintah tengah menyiapkan insentif kendaraan listrik. Skema tersebut ditargetkan mencakup masing-masing 100 ribu unit mobil listrik dan 100 ribu unit sepeda motor listrik pada tahun ini.
Untuk sepeda motor listrik, pemerintah memperkirakan nilai insentif sebesar Rp5 juta per unit. Namun, besaran final dan mekanisme penyalurannya masih menunggu pembahasan lanjutan bersama kementerian dan lembaga terkait.
Purbaya menilai insentif ini juga menjadi bagian dari strategi menekan impor bahan bakar minyak (BBM) di tengah tingginya harga minyak global.
(Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif. Foto: dok Biro Humas Kemenperin)
Penjualan mobil listrik melonjak 96%
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil listrik berbasis baterai pada kuartal I 2026 mencapai 33.150 unit. Jumlah itu meningkat 95,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, populasi bus listrik hingga April 2026 tercatat mencapai 798 unit. Adapun populasi motor listrik pada Februari 2026 mencapai 236.451 unit, setara sekitar 65 persen dari total populasi kendaraan listrik nasional.
Selain mendorong insentif, Kemenperin juga memperkuat peran industri kecil dan menengah (IKM) agar masuk ke rantai pasok kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB).
Langkah ini dinilai penting agar pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional tidak hanya bertumpu pada investasi industri besar, tetapi juga membuka ruang partisipasi lebih luas bagi pelaku IKM.




