Jakarta (ANTARA) - Duta Besar (Dubes) Selandia Baru untuk Indonesia, Phillip Taula menyatakan negaranya tidak hanya ingin meningkatkan ekspor produk susu ke Indonesia, tetapi juga mendukung pengembangan sektor dairy atau olahan susu hewani nasional seiring meningkatnya permintaan susu di tanah air.
“Kami mengenali kepentingan dari swasembada pangan, ketahanan pangan. Jadi kami tidak hanya ingin mencoba untuk mendukung sektor dairy di Indonesia, tapi juga meneruskan untuk memberikan produk kualitas tinggi dari Selandia Baru,” kata Dubes Taula dalam acara peringatan Matariki, Tahun Baru Māori, di Jakarta, Selasa.
Dirinya menjelaskan bahwa permintaan susu di Indonesia sedang berkembang, dan hampir 70 persen ekspor Selandia Baru ke Indonesia berasal dari produk dairy yang didominasi susu, disusul keju dan mentega.
Menurut Taula, Selandia Baru tetap ingin meningkatkan ekspor produk susu ke Indonesia.
Namun, di saat yang sama, Selandia Baru juga ingin berkolaborasi dengan Indonesia dalam mendukung pengembangan sektor peternakan sapi perah sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan.
Ia menambahkan pembahasan mengenai kerja sama tersebut akan terus dilakukan dengan pemerintah Indonesia khususnya melalui Kementerian Pertanian.
“Kami ingin mencoba untuk mencapai permintaan (susu) itu, dan juga untuk membantu mendukung sektor dairy di Indonesia. Jadi kami mempunyai kerja sama dengan Kementerian Pertanian tentang bagaimana Selandia Baru dan Indonesia bisa bekerja bersama untuk mendukung sektor domestik dairy di Indonesia,” ucapnya.
Selain sektor dairy, Selandia Baru juga melihat peluang memperluas kerja sama di bidang pertanian, energi terbarukan, pendidikan, dan ekonomi halal.
Menurut Taula, kerja sama ekonomi halal melalui skema saling pengakuan (mutual recognition arrangement/MRA) yang ditandatangani bersama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) telah berjalan selama satu tahun dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Selain meningkatkan ekspor ke Indonesia, Selandia Baru juga berharap dapat mengimpor lebih banyak produk Indonesia. Sejumlah produk Indonesia yang telah masuk ke Selandia Baru antara lain kopi, cokelat, mi instan, serta berbagai komoditas lainnya.
Adapun Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol pada 14 Juni mengungkapkan bahwa selisih atau gap antara ketersediaan dan kebutuhan susu nasional masih sangat tinggi. Hanif menyebut, pemerintah saat ini masih melakukan impor susu untuk memenuhi 80 persen kebutuhan susu nasional.
“Indonesia baru bisa memproduksi sekitar 1 juta ton susu per tahun, sementara kebutuhan mencapai sekitar 4 juta ton. Hampir 80 persen lebih diperoleh dari impor,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, kata Hanif, pihaknya akan menggelar rapat koordinasi dengan pejabat terkait untuk mencari solusi permasalahan peternak sapi susu. Ia juga mendorong kawasan Puncak Bogor menjadi salah satu sentra susu nasional.
Baca juga: BPOM: Perlu optimalkan pengawasan produk dairy respon tren susu global
Baca juga: Kemendag lepas ekspor perdana yogurt ke Vietnam senilai Rp1,13 miliar
Baca juga: Rekomendasi tiga produk olahan susu untuk jaga kesehatan jantung
“Kami mengenali kepentingan dari swasembada pangan, ketahanan pangan. Jadi kami tidak hanya ingin mencoba untuk mendukung sektor dairy di Indonesia, tapi juga meneruskan untuk memberikan produk kualitas tinggi dari Selandia Baru,” kata Dubes Taula dalam acara peringatan Matariki, Tahun Baru Māori, di Jakarta, Selasa.
Dirinya menjelaskan bahwa permintaan susu di Indonesia sedang berkembang, dan hampir 70 persen ekspor Selandia Baru ke Indonesia berasal dari produk dairy yang didominasi susu, disusul keju dan mentega.
Menurut Taula, Selandia Baru tetap ingin meningkatkan ekspor produk susu ke Indonesia.
Namun, di saat yang sama, Selandia Baru juga ingin berkolaborasi dengan Indonesia dalam mendukung pengembangan sektor peternakan sapi perah sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan.
Ia menambahkan pembahasan mengenai kerja sama tersebut akan terus dilakukan dengan pemerintah Indonesia khususnya melalui Kementerian Pertanian.
“Kami ingin mencoba untuk mencapai permintaan (susu) itu, dan juga untuk membantu mendukung sektor dairy di Indonesia. Jadi kami mempunyai kerja sama dengan Kementerian Pertanian tentang bagaimana Selandia Baru dan Indonesia bisa bekerja bersama untuk mendukung sektor domestik dairy di Indonesia,” ucapnya.
Selain sektor dairy, Selandia Baru juga melihat peluang memperluas kerja sama di bidang pertanian, energi terbarukan, pendidikan, dan ekonomi halal.
Menurut Taula, kerja sama ekonomi halal melalui skema saling pengakuan (mutual recognition arrangement/MRA) yang ditandatangani bersama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) telah berjalan selama satu tahun dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Selain meningkatkan ekspor ke Indonesia, Selandia Baru juga berharap dapat mengimpor lebih banyak produk Indonesia. Sejumlah produk Indonesia yang telah masuk ke Selandia Baru antara lain kopi, cokelat, mi instan, serta berbagai komoditas lainnya.
Adapun Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol pada 14 Juni mengungkapkan bahwa selisih atau gap antara ketersediaan dan kebutuhan susu nasional masih sangat tinggi. Hanif menyebut, pemerintah saat ini masih melakukan impor susu untuk memenuhi 80 persen kebutuhan susu nasional.
“Indonesia baru bisa memproduksi sekitar 1 juta ton susu per tahun, sementara kebutuhan mencapai sekitar 4 juta ton. Hampir 80 persen lebih diperoleh dari impor,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, kata Hanif, pihaknya akan menggelar rapat koordinasi dengan pejabat terkait untuk mencari solusi permasalahan peternak sapi susu. Ia juga mendorong kawasan Puncak Bogor menjadi salah satu sentra susu nasional.
Baca juga: BPOM: Perlu optimalkan pengawasan produk dairy respon tren susu global
Baca juga: Kemendag lepas ekspor perdana yogurt ke Vietnam senilai Rp1,13 miliar
Baca juga: Rekomendasi tiga produk olahan susu untuk jaga kesehatan jantung





