Realisasi Beras SPHP Bapanas Sentuh 47,56 Persen

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus mengebut target penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pada tahun ini. Sampai tanggal 27 Juni 2026, realisasi distribusi beras SPHP tersebut sukses menyentuh angka 392 ribu ton.

Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Badan Pangan Nasional, Maino Dwi Hartono, mengatakan realisasi penyaluran beras SPHP terpantau telah mencapai 392 ribu ton. Target realisasi tersebut sudah terdata 47,56 persen dari target nasional yaitu sebesar 828 ribu ton tahun ini.

"Secara terata, (realisasi lebih) 45 persen cukup sesuai target, tapi memang ada skala-skala prioritas termasuk mungkin tempat penyalurannya agar harga beras ini, inflasi beras ini juga lebih terkendalikan," jelas Maino dalam keterangan pers Bapanas, Selasa (30/6/2026).

Maino menuturkan penyaluran beras SPHP ini juga dilakukan dengan memprioritaskan pasar rakyat sebagai titik distribusi utama. Pasar rakyat menjadi barometer pergerakan harga beras di berbagai daerah agar tetap berada pada jalur harga acuan yang ditetapkan.

"Ada 8 outlet sebenarnya terkait dengan penyaluran SPHP, tapi memang ini sepertinya masih mayoritas di GPM (Gerakan Pangan Murah). Jadi bukan tidak diperbolehkan di GPM, tapi maksud kami prioritas ke pasar-pasar rakyat," terang Maino.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menegaskan berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras terkoreksi di sekitar sepertiga wilayah Indonesia. Sementara itu, sebagian besar provinsi mencatat perubahan harga yang relatif rendah bahkan stabil.

"Khusus untuk perkembangan beras, izin dapat kami laporkan, secara provinsinya, perubahan IPH-nya ini yang di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara 2,99 dan 2,93. Di provinsi yang lainnya, ini walaupun semuanya mengalami peningkatan, tetapi masih di bawah perubahannya 2,93," ujar Ateng.

Diketahui sebelumnya, Inflasi nasional secara year on year pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengapresiasi angka tersebut karena masih berada dalam rentang target pemerintah yakni 1,5 hingga 3,5 persen.

Baca Juga: Beras SPHP Subsidi Pemerintah Belum Optimal Sasar Sektor Informal

Baca Juga: Pengamat Sebut Beras SPHP Gagal Tekan Harga, Bulog Simpan 5,2 Juta Ton Stok

Berdasarkan data BPS yang dirilis 2 Juni 2026, beberapa komponen menjadi penyumbang utama kenaikan inflasi.

Komponen tersebut meliputi makanan, minuman, dan tembakau, transportasi, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Cabai menjadi penyumbang inflasi tertinggi di sektor makanan dengan andil 0,08, diikuti minyak goreng.

Catatan Badan Pusat Statistik tersebut mengonfirmasi bahwa mayoritas provinsi masih menunjukkan perubahan harga yang relatif terbatas. Ketersediaan beras subsidi di pasar tradisional akan semakin memudahkan akses warga dalam memenuhi kebutuhan harian.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Sampaikan Perkembangan Kondisi Kesehatan Yaqut
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Nadiem Makarim: Saya Tidak Pernah Menyesal Keputusan untuk Mengabdi Kepada Negara
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Rekomendasi Mobil City Car Bekas Under Rp100 Juta
• 17 jam lalumedcom.id
thumb
Segera Klaim Nama WhatsApp Buat Sembunyikan Nomor HP, Berebutan!
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Link Nonton Live Pantai Gading vs Norwegia Nanti Pukul 00.00 WIB, Klik di Sini!
• 8 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.