Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas belum juga bangkit. Sepanjang semester Ini, harga emas bahkan sudah ambruk hampir 7%.
Kekhawatiran inflasi akibat konflik di Timur Tengah memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada akhir semester I yakni Selasa (30/6/2026) ditutup di posisi US$ 4007,23 per troy ons. Harganya melemah 0,22%. Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan jatuh 2% dalam dua hari terakhir.
Pada hari ini, Rabu (1/7/2026) pukul 06.02 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4012,02 per troy ons. Harganya menguat 0,12%.
Meir menambahkan bahwa inflasi di AS masih bertahan pada level tinggi dan jauh di atas target The Fed sebesar 2%.
Pasar kini memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan masih membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan. Ekspektasi tersebut menjadi faktor yang menekan harga emas.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 67% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
Investor kini menantikan data ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis Rabu serta data nonfarm payrolls pada Kamis untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Di sisi lain, survei Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) menunjukkan bank-bank sentral di dunia cenderung mengurangi eksposur terhadap dolar AS dalam satu dekade mendatang karena meningkatnya risiko geopolitik, sembari menambah kepemilikan emas dalam jangka pendek.
(mae/mae) Add as a preferred
source on Google




