Direktur Pelindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan situasi melalui koordinasi dengan seluruh perwakilan RI di kawasan tersebut.
"Hingga saat ini kami belum menerima laporan adanya WNI yang terdampak, melaporkan kondisi darurat, maupun menjadi korban akibat gelombang panas yang terjadi di Eropa," ujar Heni dikutip dari Antara.
Baca juga: Menlu RI Pastikan WNI Aktivis Flotilla Gaza Pulang dengan Selamat
Meski demikian, Kemlu bersama kedutaan besar dan konsulat Indonesia di berbagai negara Eropa tetap mengingatkan WNI agar meningkatkan kewaspadaan. Imbauan tersebut mencakup upaya menjaga kesehatan, membatasi aktivitas di luar ruangan saat suhu sedang tinggi, serta mengikuti arahan dari otoritas setempat.
Gelombang panas yang melanda Eropa dalam beberapa pekan terakhir telah mendorong sejumlah negara menetapkan status siaga karena suhu udara mencapai tingkat yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian tambahan di kawasan Eropa sejak 21 Juni 2026 yang dikaitkan dengan suhu ekstrem.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut cuaca panas ekstrem sebagai "pembunuh senyap" karena dampaknya sering kali tidak disadari hingga menimbulkan kondisi yang fatal, terutama bagi kelompok rentan.
Menurut Tedros, banyak bangunan tempat tinggal, perkantoran, hingga sekolah di Eropa belum dirancang untuk menghadapi suhu yang semakin tinggi akibat perubahan iklim.
WHO saat ini terus bekerja sama dengan negara-negara anggotanya untuk memperkuat kesiapsiagaan sistem kesehatan, meningkatkan langkah pencegahan, serta memastikan respons yang lebih cepat dalam menghadapi dampak cuaca panas ekstrem.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)





