Singapura (ANTARA) - Singapura menaikkan tarif listrik dan gas akibat konflik di Timur Tengah. Otoritas Pasar Energi (EMA) Singapura mengatakan hal itu dalam sebuah pernyataan bahwa tarif listrik rumah tangga akan naik 17 persen menjadi 31,91 sen Singapura (1 dolar Singapura = Rp13.806) per kilowatt-jam (kWh), sebelum pajak barang dan jasa.
Sementara itu, tarif gas kota akan naik 7,1 persen menjadi 23,48 sen per kWh.
Negara kota ini mengimpor sebagian besar kebutuhan energinya, dengan gas alam impor menyumbang sekitar 95 persen dari pembangkitan listrik dan menjadi bahan baku utama untuk produksi gas kota.
EMA menyatakan harga gas alam melonjak tajam sejak akhir Februari dan tetap tinggi antara April dan Juni akibat konflik di Timur Tengah, yang mengakibatkan kenaikan biaya bagi produsen listrik dan gas kota.
EMA menyatakan bahwa situasi di Timur Tengah masih tidak pasti. Namun, jika kondisi membaik, harga bahan bakar dapat turun dan berujung pada penurunan tarif listrik dan gas kota pada kuartal keempat 2026.
Sementara itu, tarif gas kota akan naik 7,1 persen menjadi 23,48 sen per kWh.
Negara kota ini mengimpor sebagian besar kebutuhan energinya, dengan gas alam impor menyumbang sekitar 95 persen dari pembangkitan listrik dan menjadi bahan baku utama untuk produksi gas kota.
EMA menyatakan harga gas alam melonjak tajam sejak akhir Februari dan tetap tinggi antara April dan Juni akibat konflik di Timur Tengah, yang mengakibatkan kenaikan biaya bagi produsen listrik dan gas kota.
EMA menyatakan bahwa situasi di Timur Tengah masih tidak pasti. Namun, jika kondisi membaik, harga bahan bakar dapat turun dan berujung pada penurunan tarif listrik dan gas kota pada kuartal keempat 2026.





