Cerita ‘Transplantasi Jantung’ Core Banking BSI, Kini Siap Masuk Jajaran 5 Besar Bank Syariah Global

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis, JAKARTA — Pada Sabtu, 16 Mei 2026, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) akhirnya dapat bernafas dengan lebih lega, setelah sukses mengganti core banking atau sistem inti perbankannya menjadi lebih modern. BSI kini siap untuk mengejar posisi 5 besar bank syariah terbesar dunia.

BSI melewati proses ‘transplantasi jantung’, demikian istilah yang digunakan Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo, untuk menjelaskan proses pergantian core banking yang sudah tidak lagi cukup untuk melayani nasabah yang kini telah mencapai lebih dari 23 juta nasabah.

Bagaimana tidak? Sistem lama yang dimiliki perseroan adalah warisan peninggalan sejak 2010 yang tidak lagi ideal untuk kebutuhan aktual sistem perbankan masa kini yang sangat terdigitalisasi. Namun, mengganti core banking adalah keputusan paling berisiko bagi bank.

Migrasi core banking bukan sekadar mengganti aplikasi. Di BSI, sistem itu terhubung dengan lebih dari 90 aplikasi lain, mulai dari Byond by BSI, ATM, payroll, cash management, hingga berbagai kanal transaksi nasabah.

Jika salah satu sistem digital bermasalah, layanan lain masih dapat menopang operasional. Core banking berbeda. Ini ibarat jantung lama dicopot dan diganti dengan yang baru. Dalam hal ini, tidak saja ‘sang dokter’ atau tim teknologi yang harus siap, tetapi juga mental BSI sebagai ‘pasien’ pun harus lebih siap.    

Di sisi lain, tiga tahun sebelumnya, BSI sempat mengalami gangguan sistem besar dan menjadi sorotan publik. Sebagai bank syariah terbesar nasional, BSI menanggung beban sebagai wajah keuangan syariah. Kejadian traumatis serupa tidak boleh terulang, atau reputasi perbankan syariah makin redup.

Baca Juga

  • BSI Fokus Pembiayaan Produktif
  • BSI (BRIS) Tingkatkan Kualitas BYOND, Lebih Stabil dan Mulus
  • BSI (BRIS) Targetkan Infrastruktur AI Gateway Rampung Tahun Ini

Artinya, ‘transplantasi jantung’ ini adalah pertaruhan besar bagi BSI.

Namun, BSI berhasil melewati proses menegangkan itu dengan baik. Proses transisi berjalan mulus. Sistem telah berganti. Kini BSI siap menampung lebih banyak transaksi. Bahkan, kapasitas terpakai BSI kini hanya 10%. Ada potensi kapasitas besar yang siap dioptimalkan di tahun-tahun mendatang.

 

HATI-HATI

Anggoro menjelaskan bahwa BSI memutuskan untuk ekstra hati-hati dalam langkah migrasi ini. Apalagi, pengalaman buruk tiga tahun sebelumnya masih membekas. Untuk itu, perseroan mengambil langkah-langkah pembenahan kecil terlebih dahulu.

Small wins build confidence. Kemenangan-kemenangan kecil itu bikin pede. Kalau langsung lompat ke game yang besar, sementara kita punya pengalaman masalah sebelumnya, kita sudah enggak pede duluan,” ujar Anggoro kepada Bisnis, Senin (29/6).

Contohnya, tiap akhir bulan, di periode gajian, kerap identik dengan perlambatan transaksi karena keterbatasan sistem inti. Core banking versi lama ini memang hanya dirancang untuk menampung sekitar 5 juta nasabah.

Bagi Anggoro, menghilangkan gangguan kecil ini lebih penting ketimbang buru-buru melakukan transformasi besar. Satu demi satu masalah rutin itu dipangkas. Koordinasi antarunit diperbaiki. Kepercayaan diri insan BSI pun perlahan tumbuh. Di saat yang sama, tim teknologi menyiapkan operasi yang jauh lebih rumit.

Setelah pembenahan minor di sana-sini, barulah BSI memutuskan untuk mengambil langkah besar migrasi core banking. Alhasil, proses migrasi yang semula ditargetkan selesai pada akhir 2025 akhirnya bergeser. April 2026 sempat menjadi pilihan berikutnya. Namun, momentum Lebaran membuat keputusan kembali berubah. Anggoro menolak memaksakan jadwal ketika tim sudah kelelahan.

“Kalau tubuhnya enggak siap, operasi sehebat apa pun dokternya pasti ngedrop. Kita istirahatkan sebulan, latihan lagi,” ujarnya. Hingga akhirnya, sistem itu siap dan resmi meluncur pada pertengahan Mei 2026.

Bagi Anggoro, kesiapan manusia sama pentingnya dengan kesiapan teknologi.

Itulah sebabnya lebih dari 1.500 pegawai terlibat dalam setiap simulasi besar yang berlangsung hingga dini hari. Ketika sistem mulai dinyalakan pada pagi hari, ribuan pegawai cabang ikut menguji tampilan, alur transaksi, hingga detail kecil seperti ukuran huruf di layar.

Prinsipnya sederhana. “No involvement, no commitment,” kata Anggoro. Jika pegawai tidak ikut menguji, mereka tidak akan merasa memiliki sistem baru itu. Maka keterlibatan menjadi syarat mutlak.

SEVP IT Development & Operations BSI Saut Parulian Saragih menjelaskan bahwa migrasi yang dilakukan BSI dirancang dengan beberapa skenario untuk memastikan seluruh proses berjalan aman dan minim risiko. Ada skenario jika proses berjalan mulus. Ada skenario jika sebagian layanan mengalami gangguan. Ada pula skenario terburuk.

“Kalau proses migrasinya tidak berjalan lancar, kita rollback ke versi lama. Kalau setelah go-live ada apa-apa, business continuity plan juga sudah disiapkan dan dicoba,” ujarnya.

BSI telah menghitung tambahan waktu penghentian layanan, proses pemulihan, hingga kemungkinan pengulangan migrasi tiga bulan berikutnya apabila seluruh operasi harus dibatalkan. Seluruh skenario tersebut disampaikan kepada regulator.

Bahkan, otoritas memperoleh akses terhadap dashboard pemantauan secara langsung melalui perangkat masing-masing saat proses 'transplantasi' berlangsung. Mereka dapat mengikuti perkembangan migrasi dari menit ke menit.

Ketika proses sempat tertahan sekitar 45 menit akibat konfigurasi tertentu pada dini hari, semua pihak mengetahui situasinya secara real time. Setelah hambatan itu teratasi, proses kembali melaju sesuai jadwal.

Bagi BSI, transparansi ini menjadi bagian dari strategi membangun kepercayaan. Sebelum masyarakat mengetahui agenda besar itu, BSI lebih dahulu menjelaskan rencana migrasi kepada OJK, pemegang saham, kementerian, nasabah korporasi, hingga para pemimpin daerah di Aceh.

Aceh penting bagi BSI, sebab mayoritas layanan keuangan di provinsi tersebut bergantung pada ekosistem BSI.

 

EKSPANSI KINERJA

Saut menjelaskan bahwa pembaruan sistem core banking  ini sejatinya bukan sekadar penambahan kapasitas biasa, melainkan adopsi kemampuan baru yang memungkinkan kapasitas BSI untuk terus berkembang sesuai kebutuhan di masa mendatang.

Sistem lama memiliki keterbatasan arsitektur yang membuat ekspansi kapasitas semakin sulit dilakukan. Sementara itu, platform baru memungkinkan pertumbuhan yang jauh lebih fleksibel.

“Kalau yang lama, ditambah server berapa pun tidak bisa berkembang. Yang baru ini bisa terus mengembang sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Kapasitas potensial yang makin besar ini pun memperluas peluang BSI untuk kian mengerek kinerjanya di masa mendatang, melanjutkan pertumbuhan yang sudah terjadi selama ini.

Sebagai informasi, BSI melaporkan pertumbuhan nasabah dan kinerja yang konsisten beberapa tahun belakangan.

Sebelum merger, total nasabah tiga bank syariah cikal bakal BSI adalah sekitar 14,41 juta. Kini, per kuartal I/2026, jumlahnya sudah 23,67 juta, tumbuh 64,26%. BSI menargetkan akan mampu memiliki nasabah sebanyak 40 juta pada 2030 mendatang.

Pada tahun ini, kinerja keuangan perseroan tumbuh cukup baik di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Per Mei 2026, pembiayaan BSI meningkat 14,6% year-on-year (YoY) menjadi Rp335 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 16,74% YoY menjadi Rp372 triliun.

Komposisi DPK perseroan pun ditopang oleh dana murah atau current account saving account (CASA) sebesar Rp235 triliun, setara dengan 63% dari total DPK. CASA ini tumbuh pesat 20,53% YoY.

Alhasil, perseroan berhasil mengerek pendapatan margin dan bagi hasil sebesar 3,70% YoY menjadi Rp11,5 triliun. Sementara itu, fee based income bahkan tumbuh 24,84% YoY menjadi Rp3,43 triliun. Di sisi lain, biaya CKPN turun 19,42% YoY menjadi Rp974 miliar.

Dengan demikian, BSI membukukan laba bersih sebesar Rp3,39 triliun per Mei 2026, tumbuh 16,73% YoY.

Capaian yang positif ini menegaskan kemampuan perseroan untuk makin relevan dan mengoptimalkan layanan keuangan syariah nasional. Dengan sistem core banking yang lebih mumpuni, BSI dapat lebih percaya diri untuk meningkatkan daya saingnya di masa mendatang.

Kini, setelah ‘jantung’ barunya berdetak stabil, BSI dapat memusatkan perhatian pada agenda besar berikutnya, yakni memperbesar peran Indonesia di peta industri keuangan syariah global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rekam Jejak Andi Saputra, Hakim yang Berani Beda Suara di Sidang Nadiem
• 19 jam laluliputan6.com
thumb
Profil Oki Setiana Dewi, Ustazah Kondang Sekaligus Kakak Ria Ricis yang Bantah Isu Keretakan Rumah Tangga dan Poligami
• 15 jam lalugrid.id
thumb
Komisi X DPR soal Prabowo Tambah Anggaran Riset Rp 4 T: Idealnya Rp 7-8 T
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Tok! WFH Bagi ASN Resmi Jadi 2 Hari Setiap Pekan di Sini
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Belanja Lebih Hemat di Blibli dengan Beragam Promo Spesial BRIDAY
• 18 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.