Rupiah Kembali Melemah ke Rp 17.965 Jelang Rilis Data Neraca Perdagangan Mei 2026

viva.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.899 pada Selasa, 30 Juni 2026. Posisi rupiah itu melemah 43 poin dari kurs sebelumnya di level 17.856 pada perdagangan Senin, 29 Juni 2026.

Baca Juga :
Saham Big Cap Loyo, IHSG Dibuka Melemah 0,33 Persen Pagi Ini
Rupiah Menguat ke Rp 17.865 Seiring Respons Positif Pasar soal Pemangkasan Anggaran MBG

Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu,1 Juli 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.965 per dolar AS. Posisi itu melemah 58 poin atau 0,32 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.907 per dolar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Photo :
  • Pixabay/IqbalStock

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar menunggu data neraca perdagangan di bulan Mei 2026, dimana sebelumnya mengalami defisit transaksi berjalan pada April dan anggaran yang melebar.

Surplus perdagangan yang menyusut dinilai akan memberikan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada tahun ini.

"Kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu, 1 Juli 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus perdagangan Indonesia secara kumulatif sampai April 2026 hanya US$5,64 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari-April 2025 yang masih berada di atas US$10 miliar.

Penyusutan surplus perdagangan tersebut akan berdampak langsung pada pelebaran defisit transaksi berjalan, dimana pada kuartal I-2026 transaksi berjalan Indonesia sudah mencatat defisit sekitar US$4 miliar.

Inflasi pada bulan Mei 2026 mendekati batas atas target Bank Indonesia, dipimpin oleh kenaikan harga pangan. secara agregat nasional, stabilitas harga dan konsumsi masih terkendali. Namun, pergerakan inflasi di beberapa daerah menunjukkan alarm, khususnya Sumatra yang mencatatkan tekanan harga relatif lebih tinggi daripada wilayah lainnya.  

Ketimpangan inflasi dipicu oleh beberapa faktor, seperti rantai tata niaga pangan domestik yang belum efisien, fluktuasi cuaca setempat, serta pola tanam antar-daerah yang belum terkoordinasi. Kondisi tersebut diperparah oleh ancaman eksternal. Kenaikan biaya logistik perkapalan global dan inflasi barang impor juga memengaruhi persoalan ini.  

Baca Juga :
Rupiah Melemah Hampir ke Rp 18.000 Meski Pemerintah Tebar Optimisme soal Pasokan Minyak & Ekonomi RI
Rupiah Lanjut Melemah ke Rp 17.976 Meski Pemerintah Bakal Beri Stimulus Ekonomi di Semester II-2026
IHSG Dibuka Lanjut Melemah Serupa Wall Street, Bursa Asia Bergerak Rebound Bervariasi

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BBM Solar Jenis Baru B50 Resmi Berlaku per 1 Juli 2026, Ini Aturan Lengkapnya dari Pemerintah
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Mendagri: Pilot GovTech, Program Unggulan Presiden Diperluas ke 43 Kab/Kota
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
MA Batalkan Perintah Trump Batasi Hak Kewarganegaan Berdasar Tempat Lahir
• 7 jam laludetik.com
thumb
Jelang Puncak Perayaan HUT Bhayangkara ke-80, Polri Gelar Doa Lintas Agama
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Lender Dana Syariah Indonesia Soroti Dugaan Insider Fraud, Eks Bos OJK Tersangka
• 17 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.