HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Harapan Belanda di Piala Dunia 2026 berakhir lebih cepat dari perkiraan. Tak lama setelah tersingkir, Ronald Koeman akhirnya memecah keheningan lewat keputusan mengejutkan.
Pelatih berusia 63 tahun itu memilih mengakhiri masa baktinya bersama Timnas Belanda. Keputusan tersebut bukan semata dipicu hasil di lapangan, tetapi juga alasan pribadi yang menyentuh.
Kegagalan Timnas Belanda melangkah jauh di Piala Dunia 2026 berbuntut pada berakhirnya era kedua Ronald Koeman sebagai pelatih kepala Oranje. Setelah timnya disingkirkan Maroko pada babak 32 besar di Meksiko, Koeman memutuskan mundur dari jabatannya.
Hasil tersebut menjadi pukulan besar bagi Belanda yang sebelumnya menargetkan pencapaian tinggi di turnamen empat tahunan itu. Langkah Oranje harus terhenti lebih cepat setelah gagal melewati fase gugur pertama.
Seusai pertandingan, Koeman sempat belum memberikan kepastian mengenai masa depannya. Namun, gelombang kritik yang terus mengarah kepada performa tim membuat spekulasi mengenai pengunduran dirinya semakin menguat.
Akhirnya, Koeman mengumumkan keputusan tersebut melalui akun Instagram pribadinya. Dalam unggahannya, ia menyampaikan rasa kecewa sekaligus tanggung jawab penuh sebagai pelatih atas kegagalan yang dialami Timnas Belanda.
“Tadi malam saya mengambil keputusan untuk mengakhiri masa jabatan saya sebagai pelatih kepala tim nasional Belanda,” tulis Koeman seperti dilansir Independent, Rabu (1/6/2026).
Ia mengakui seluruh skuad datang ke Piala Dunia dengan impian besar untuk menciptakan sejarah. Namun, perjalanan mereka justru berakhir jauh lebih cepat dari yang diharapkan.
“Kami semua bermimpi menjalani Piala Dunia yang akan menciptakan sejarah. Hal itu tidak terjadi. Tidak ada seorang pun yang lebih kecewa daripada saya. Sebagai pelatih kepala, Anda memikul tanggung jawab itu,” ujar Koeman.
Di balik keputusan tersebut, Koeman mengungkapkan bahwa beberapa pengalaman pribadi dalam beberapa tahun terakhir turut mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Menurutnya, sepak bola memang menjadi bagian terbesar dalam hidupnya. Namun, ia kini menyadari bahwa kesehatan memiliki nilai yang jauh lebih penting dibandingkan pencapaian di lapangan.
Koeman secara khusus menyinggung perjuangan sang istri, Bartina, yang tetap memberikan dukungan penuh meski sedang menjalani proses pemulihan dari masalah kesehatan.
“Beberapa tahun terakhir juga membuat saya kembali menyadari bahwa ada hal yang lebih penting daripada sepak bola. Sepak bola adalah hidup saya, tetapi kesehatan tidak ternilai harganya,” kata Koeman.
“Ketika seseorang yang sangat Anda cintai sedang berjuang menghadapi cobaan berat, cara pandang Anda berubah. Meski sedang menjalani proses penyakitnya sendiri, istri saya Bartina mendukung dan menyemangati saya setiap hari untuk menyelesaikan pekerjaan sebagai pelatih kepala. Itu menunjukkan kekuatan yang luar biasa. Saya lebih berterima kasih kepadanya daripada yang bisa saya ungkapkan dengan kata-kata,” tutur Koeman.
Sementara itu, Direktur Teknik Federasi Sepak Bola Belanda, Nigel de Jong, mengakui performa Oranje sepanjang Piala Dunia 2026 tidak memenuhi target yang telah ditetapkan sejak awal.
Federasi sebelumnya membidik tiket semifinal dengan ambisi merebut gelar juara dunia. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan Belanda masih belum mampu bersaing sesuai harapan.
“Target kami adalah mencapai semifinal dan ambisinya menjadi juara dunia,” ujar De Jong.
“Sayangnya kami tidak berhasil mencapainya. Ya, kami masih sangat jauh dari target itu. Itulah kesimpulannya. Kami harus jujur mengakui hal tersebut,” tegas De Jong.
Sepanjang turnamen, Koeman menjadi salah satu sosok yang paling banyak mendapat sorotan. Permainan Belanda dinilai tidak stabil, sementara pada periode keduanya sebagai pelatih, ia juga gagal mempersembahkan kemenangan atas negara penghuni 25 besar peringkat FIFA di putaran final turnamen besar.
Berakhirnya masa jabatan Koeman kini membuka babak baru bagi Timnas Belanda yang harus segera mencari sosok pengganti untuk membangun kembali kekuatan Oranje menuju agenda internasional berikutnya. (*)





