Bisnis.com, JAKARTA — Asuransi kecelakaan diri atau personal accident menjadi salah satu lini usaha yang mengalami penurunan premi cukup dalam di industri asuransi umum pada kuartal I/2026. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat premi asuransi kecelakaan diri turun 31,3% (year on year/YoY) menjadi Rp787 miliar pada periode tersebut.
Kendati begitu, Ketua Umum AAUI Budi Herawan menilai penurunan itu bukan semata-mata disebabkan oleh pelemahan kebutuhan masyarakat terhadap proteksi, tetapi sebagai dinamika portofolio dan kanal distribusi.
Dia menjelaskan, produk personal accident di industri asuransi umum banyak berasal dari segmen kumpulan atau kerja sama korporasi, seperti karyawan, lembaga pendidikan, komunitas, peserta kegiatan, pembiayaan, perjalanan, maupun program bundling dengan kanal distribusi tertentu.
“Karena itu, pergerakan premi sangat dipengaruhi oleh waktu perpanjangan polis, program tahunan korporasi, realisasi kegiatan tertentu, penyesuaian kerja sama dengan mitra affinity, serta efisiensi biaya perlindungan di sejumlah perusahaan,” katanya kepada Bisnis, dikutip pada Rabu (1/7/2026).
Oleh karena itu, lanjutnya, meskipun mobilitas masyarakat tetap tinggi, pencatatan premi dapat tetap menurun apabila terdapat pergeseran waktu pembaruan (renewal), perubahan struktur kerja sama, atau penyesuaian pada kanal distribusi.
Walau demikian, pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Asuransi Candi Utama ini menilai outlook asuransi personal accident masih memiliki prospek positif hingga akhir 2026.
Baca Juga
- Premi Tunggal Asuransi Jiwa Naik, Korporasi Jadi Penopang Pertumbuhan
- AAUI Beberkan Penyebab Premi Asuransi Kecelakaan Diri Turun 31,3%
“Walaupun pada kuartal I/2026 terjadi penurunan, kebutuhan proteksi kecelakaan diri tetap relevan seiring meningkatnya mobilitas masyarakat, aktivitas event, sport tourism, perjalanan, dan pola distribusi digital,” sebut Budi.
Sebab itu, dia berpendapat pertumbuhan kemungkinan akan lebih banyak ditopang oleh kanal kerja sama, bundling, affinity, dan embedded insurance, sehingga bukan hanya dari penjualan ritel konvensional.
Untuk dapat mendorong premi asuransi kecelakaan diri, Budi mendorong agar perusahaan asuransi memperluas kerja sama dengan komunitas, sekolah, kampus, perusahaan, platform digital, pembiayaan, perjalanan, olahraga, event, dan ticketing. Menurutnya, produk ini pun cocok dikembangkan dalam bentuk mikro, embedded insurance, atau bundling karena manfaatnya sederhana, mudah dipahami, dan preminya relatif terjangkau.
“Biasanya produk personal accident diminati pada situasi yang berkaitan dengan mobilitas dan aktivitas tertentu, seperti perjalanan, kegiatan olahraga, konser atau event besar, kegiatan sekolah dan kampus, aktivitas komunitas, pekerjaan lapangan, hingga perlindungan karyawan atau peserta program tertentu,” jelas Budi.
Lebih jauh, dia mengemukakan tantangan utama dalam menjual produk ini adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko kecelakaan, persepsi bahwa produk ini kurang mendesak, nilai premi yang relatif kecil sehingga membutuhkan skala distribusi besar, serta kebutuhan edukasi agar manfaat dan pengecualian polis dipahami dengan baik.
“Selain itu, perusahaan asuransi juga harus menjaga agar produk tetap sederhana, tetapi tetap dikelola dengan prinsip underwriting yang prudent,” sebut Budi.
Sementara itu, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) mengungkapkan perusahaan terus memperkuat strategi distribusi, menghadirkan inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan meningkatkan edukasi mengenai pentingnya perlindungan diri untuk terus mendorong pertumbuhan premi dari lini asuransi kecelakaan diri.
“Salah satu implementasi yang telah dilakukan adalah melalui kolaborasi dengan Desa Wisata Penglipuran, Bali, bersama mitra strategis Asuransi Jasindo, di mana perlindungan asuransi melekat pada tiket masuk pengunjung,” beber Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo, Brellian Gema Widayana kepada Bisnis, Selasa (30/6/2026).
Kendati begitu, Brellian berpendapat tantangan utama yang masih dihadapi industri dalam memasarkan produk ini adalah meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa asuransi kecelakaan diri merupakan bagian penting dari perencanaan perlindungan, bukan hanya dibutuhkan ketika terjadi risiko.
Namun, lanjutnya, bagi Asuransi Jasindo, lini kecelakaan diri ini tetap menjadi salah satu portofolio bisnis yang strategis. Sebab itu, perusahaan akan terus mengoptimalkan kolaborasi dengan berbagai mitra, memperluas kanal distribusi, memperkuat edukasi kepada masyarakat, serta menghadirkan solusi perlindungan yang adaptif terhadap perkembangan kebutuhan masyarakat.
Lebih jauh, Brellian menekankan bahwa Asuransi Jasindo melihat prospek lini personal accident masih sangat terbuka. Hal ini seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, aktivitas perjalanan, olahraga, pariwisata, hingga penyelenggaraan konser musik dan berbagai event berskala besar, sehingga kebutuhan perlindungan terhadap risiko kecelakaan diri diperkirakan akan terus meningkat.
“Tren ini juga menunjukkan semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat dan penyelenggara kegiatan terhadap pentingnya mitigasi risiko sebagai bagian dari setiap aktivitas,” ucapnya.
Menurutnya, premi asuransi kecelakaan diri terkontraksi karena pengaruh dari dinamika pasar dan aktivitas ekonomi global, sehingga turut memengaruhi perkembangan premi ataupun klaim di industri asuransi.
“Di sisi lain, perusahaan-perusahaan asuransi juga semakin mengedepankan kualitas portofolio melalui penerapan prinsip underwriting yang prudent dan pengelolaan risiko yang disiplin, sehingga pertumbuhan bisnis tetap berjalan secara sehat dan berkelanjutan,” ungkap Brellian.
Sependapat, PT Asuransi Digital Bersama Tbk. (YOII) menilai penurunan premi asuransi kecelakaan diri secara industri tidak lepas dari tekanan daya beli dan meningkatnya selektivitas konsumen di tengah ketidakpastian ekonomi pada awal 2026.
Meski begitu, Corporate Secretary Asuransi Digital Bersama Rahmat Dwiyanto mengatakan perusahaan tetap melihat asuransi ini memiliki pertumbuhan yang positif, dengan didukung oleh pengembangan produk, perluasan distribusi digital, dan edukasi yang berkelanjutan.
“Namun, pengelolaan risiko dan underwriting yang prudent tetap menjadi faktor penting di tengah kondisi ekonomi yang masih dinamis,” sebutnya kepada Bisnis, Kamis (25/6/2026).
Adapun, pada Mei 2026, premi lini personal accident Asuransi Digital Bersama tumbuh sekitar 30% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Sementara itu, klaimnya meningkat sekitar 60% secara tahunan.
Untuk tetap dapat menjaga pertumbuhan premi, lanjut Rahmat, perusahaan berfokus pada pengembangan produk yang relevan dengan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat, serta memperluas distribusi melalui kemitraan strategis, termasuk kanal digital.
“Produk personal accident umumnya lebih diminati pada momen perjalanan, musim liburan dan mudik, serta saat masyarakat melakukan aktivitas luar ruang dan olahraga yang memiliki risiko kecelakaan lebih tinggi,” ungkapnya.
Setali tiga uang, pengamat asuransi Dedi Kristianto berpandangan prospek asuransi kecelakaan diri masih akan tetap positif hingga akhir 2026, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan berkembangnya sektor pariwisata, olahraga, serta penyelenggaraan berbagai event.
Namun, dia mengingatkan tantangan utamanya adalah rendahnya literasi asuransi, tingginya sensitivitas terhadap harga premi, serta persaingan dengan produk perlindungan lainnya. Sebab itu, perusahaan perlu memperluas distribusi digital, memperkuat kerja sama dengan berbagai mitra, serta menghadirkan produk yang lebih sederhana dan terjangkau.
“Adapun, permintaan biasanya meningkat pada periode liburan, mudik, perjalanan wisata, kegiatan olahraga, dan event berskala besar,” tutup Dedi.





