Singapura Berubah Total Gegara Gadis Asal Cimahi

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita
Foto: Patung Merlion digambarkan di Marina Bay di Singapura pada 24 April 2023. (AFP via Getty Images/ROSLAN RAHMAN)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu dengan lewat relevansinya di masa kini

Jakarta, CNBC Indonesia - Gegara seorang gadis kelahiran Cimahi, Singapura pernah berubah total menjadi kota mencekam pada Desember 1950. Massa mengamuk di jalanan, bangunan dan kendaraan dibakar, sementara bentrokan pecah di berbagai sudut kota hingga menewaskan sedikitnya 18 orang.

Kerusuhan besar tersebut bermula dari perebutan hak asuh Maria Hertogh, gadis keturunan Belanda yang lahir di Cimahi pada 1937 dan kemudian dibesarkan dalam keluarga Melayu-Muslim.

Ceritanya bermula saat Jepang menduduki menduduki Hindia Belanda pada Perang Dunia II (1942-1945) dan melakukan penahanan terhadap ayah Maria.  Dalam kondisi sulit, ibu Maria bernama Adelaine merasa tak sanggup mengurus anaknya seorang diri. Dia kemudian menitipkan Maria kepada perempuan Melayu yang tinggal di Indonesia bernama Aminah.


Baca: 11 Negara ASEAN dengan Penderita Diabetes Terbanyak, RI Nomor Berapa?

Sejak saat itu, Maria tumbuh besar bersama Aminah dan hidup sepenuhnya di lingkungan Melayu-Muslim.

"Dia (Maria) tumbuh besar sebagai Muslim, dipakaikan pakaian Melayu, diajarkan bahasa Melayu, dan diberi nama Muslim, yakni Naadra Maarof," ungkap tulisan berjudul "The Tangled World: The Story of Maria Hertogh" (2015).

Setelah perang berakhir pada 1945, Aminah membawa Maria pindah ke Singapura tanpa sepengetahuan ibu kandungnya. Sementara itu, Adelaine kembali ke Belanda bersama anggota keluarganya dan terus mencari keberadaan sang putri selama bertahun-tahun.

Baca: Pria Asal Makassar Diangkat Jadi Menteri Keuangan Thailand

Pencarian tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika Adelaine mengetahui Maria berada di Singapura. Dia kemudian meminta bantuan pemerintah kolonial Inggris untuk mengambil kembali hak asuh anaknya. Dia sampai memberikan uang US$500 sebagai uang pengganti biaya asuh.

Namun, Aminah menolak menyerahkan Maria. Di sisi lain, Maria yang saat itu telah berusia 13 tahun merasa nyaman hidup bersama keluarga Muslim Melayu. Dia bahkan sudah menikah dengan pria Melayu-Muslim.

Perselisihan itu kemudian dibawa ke pengadilan. Sidang berlangsung panjang hingga tingkat pengadilan tinggi karena Aminah terus mengajukan banding atas putusan sebelumnya.

Puncaknya terjadi pada 11 Desember 1950 saat Pengadilan Tinggi Singapura memutuskan Maria Hertogh harus dikembalikan kepada ibu kandungnya di Belanda. Putusan tersebut memicu kemarahan besar di kalangan Muslim Melayu karena dianggap memutus paksa pernikahan Maria dengan suaminya.

Baca: Kerusuhan Besar Guncang Singapura, 18 Tewas-Bangunan & Mobil Dibakar

Situasi makin panas setelah media memuat foto Maria berada di lingkungan gereja bersama simbol-simbol Kristen. Di tengah kuatnya sentimen anti-kolonial saat itu, foto tersebut memunculkan isu Maria dipaksa keluar dari Islam.

"Kerusuhan yang merupakan demonstrasi anti-Eropa secara besar-besaran itu telah timbul ketika lebih dari 3.000 orang Islam bangsa India, Pakistan, dan Malaya mengadakan suatu demonstrasi untuk menentang putusan hakim di Singapura terkait Bertha Hertogh, anak perempuan Belanda berusia 13 tahun yang telah dipindahkan paksa dari suaminya bangsa Malaya," tulis koran Pikiran Rakyat (12 Desember 1950).

Kemarahan massa akhirnya meledak. Dalam pemberitaan Merdeka (12 Desember 1950), ribuan orang yang marah merusak fasilitas umum, kantor pemerintahan, hingga kendaraan milik warga Eropa di Singapura.

Polisi Singapura berupaya meredam situasi dengan melepaskan tembakan, memperketat pengamanan, dan menurunkan mobil lapis baja. Namun, situasi justru makin tak terkendali.

Massa terus mengamuk dan menyerang berbagai simbol yang dianggap terkait kolonial Eropa. Menurut Perpustakaan Nasional Singapura, kerusuhan membuat 72 mobil terbakar, 119 mobil lainnya rusak, dan kerusakan bangunan hingga kerugian mencapai US$ 20.000. Tercatat pula 18 orang tewas dan 173 lainnya luka-luka.

Pemerintah akhirnya memberlakukan jam malam dan mengerahkan aparat bersenjata ke berbagai titik kota untuk mengendalikan keadaan.

Setelah situasi mereda, kasus Maria Hertogh terus dikenang sebagai salah satu konflik sosial-keagamaan paling berdarah dalam sejarah modern Singapura. Semua itu bermula dari sengketa hak asuh seorang gadis yang lahir di Cimahi, Jawa Barat.


(mfa) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Komdigi dan Meta Sepakat Berantas Spam Judi Online
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Manuel Neuer Umumkan Pensiun dari Timnas Jerman Usai Piala Dunia 2026
• 18 jam lalumedcom.id
thumb
Mustika Raja Law Office Kembali Masuk Top 100 Indonesian Law Firms 2026
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Mobil Pastor dan Pekerja Pembangunan Gereja di Intan Jaya Ditembaki
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Indonesia dan Malaysia Bakal Transfer Narapidana
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.