Sportcaster Indonesia, Conchita Caroline, turut meramaikan gelaran MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars 2026 sebagai komentator. Bersama Bung Joy, ia memandu jalannya pertandingan sejak fase grup hingga partai final yang digelar di Supersoccer Arena, Kudus, pada 23-28 Juni.
Bagi Conchita, ini merupakan pengalaman pertamanya menjadi komentator di sepak bola putri usia dini garapan MilkLife dan Djarum Foundation tersebut. Datang tanpa ekspektasi tinggi, ia justru dibuat terpukau oleh kualitas permainan para pesepak bola putri dari 12 kota itu.
“Since it’s my very first season, aku nggak punya ekspektasi apa-apa. Aku hanya tahu ini adalah turnamen sepak bola putri pembinaan usia dini,” kata Conchita kepada kumparanBOLANITA di Supersoccer Arena, Kudus, Minggu (28/6).
“Ternyata, wah, gila, sih. Dari hari pertama sampai hari terakhir, aku tuh nggak udah-udahnya kagum, dibikin starstruck sama performa adik-adik kita yang ternyata levelnya udah tinggi banget untuk mereka yang sebenarnya masih di kelompok usia 10 sama 12 tahun,” sambungnya.
Conchita menilai bahwa kemampuan para pemain, mulai dari bakat, perkembangan, hingga eksekusi di lapangan, berada jauh di atas ekspektasinya. Karena itu, ia merasa bangga bisa ikut menjadi bagian dari kompetisi tersebut.
“Jadi, it’s been amazing. Bangga banget bisa menjadi bagian dari MLSC All-Stars di musim ini, dan bangga banget juga buat adik-adik kita akhirnya punya wadah yang proper dan mereka juga punya kesempatan nunjukin bakat mereka seoptimal mungkin,” ujar Conchita.
Selama bertugas sebagai komentator, ada dua pertandingan yang paling berkesan buat Conchita. Pertama adalah duel All-Stars Yogyakarta melawan All-Stars Semarang di perempat final. Lalu yang kedua adalah pertandingan antara tuan rumah All-Stars Kudus melawan All-Stars Surabaya di semifinal.
“Karena Kudus kita tahu kan mereka clean sheet di sepanjang rangkaian MLSC All-Stars sampai akhirnya di semifinal kemarin bisa dibobol pertama kalinya sama Surabaya,” kata Conchita.
“Kalau Yogyakarta-Semarang juga, obviously, ini dua kota yang sebenarnya punya cukup banyak pengalaman di MLSC. Jadi Menurut aku, kalau ditanya pertandingan paling menarik adalah dua laga penuh dengan intrik dan drama. Dua itu,” imbuhnya.
“Seru Banget Jadi Komentator di MLSC All-Stars!”Bagi Conchita, menjadi komentator di ajang sepak bola putri usia dini seperti MLSC All-Stars memiliki keseruan tersendiri. Ia merasa beruntung bisa menyaksikan langsung para pemain muda yang suatu saat berpotensi menjadi bintang sepak bola putri Indonesia.
“In general, senang banget karena bisa mengawal perkembangan olahraga, khususnya di negara kita Indonesia yang sama sekali nggak kekurangan talenta, nggak kekurangan bakat,” tutur Conchita.
Saat diminta menyebut pemain yang paling mencuri perhatian di MLSC All-Stars, Conchita langsung menyebut Jesshica dari All-Stars Surabaya. Menurutnya, pemain bertubuh mungil itu memiliki ketajaman dan insting bermain yang luar biasa.
“Jesshica ini satu pemain yang kecil-kecil cabe rawit, ya, kalau aku bilang,” ucap Conchita.
“Dia punya kematangan dan ketajaman yang menurut aku beyond her age, benar-benar di atas usianya. Terus aku juga melihat akselerasinya bagus, dia bisa melakukan pergerakan tanpa bola yang nggak terduga sama lawan-lawannya. Instingnya kuat banget untuk anak-anak seusianya,” lanjut Conchita.
Selain Jesshica, Conchita juga menyoroti Nadia Shakila Azzahra dari All-Stars Yogyakarta. Menurutnya, kualitas permainan Nadia berada di level yang berbeda dibanding pemain lain.
“Nadia sih nggak usah ditanya lagi, ya. It’s like she’s playing on different level. Overall, menurut aku, Nadia udah paket komplet, levelnya beda dibanding teman-teman yang lain,” pungkasnya.





