Tel Aviv: Israel telah memutuskan untuk menunda penarikan pasukannya dari dua area percontohan di Lebanon selatan.
Israel beralasan, mereka perlu menunggu hingga mekanisme pemantauan bersama dibentuk dengan pihak Lebanon.
"Selama diskusi di dalam militer Israel mengenai rencana tersebut, yang disepakati Lebanon dan Israel selama pembicaraan akhir pekan, disimpulkan bahwa jangka waktu pelaksanaannya akan tertunda melebihi perkiraan awal," demikian kutipan dari sumber anonim yang dikutip oleh penyiar publik Israel KAN, seperti dikutip dari Anadolu, Rabu 1 Juli 2026.
"Penarikan pasukan Israel dari dua wilayah Lebanon, Zawtar dan Frun (di selatan), akan ditunda," tambah sumber tersebut.
Mereka mengklaim penundaan tersebut disebabkan oleh menunggu kesepakatan tentang mekanisme pemantauan bersama antara militer Lebanon dan Israel untuk menerapkan perjanjian gencatan senjata yang diuraikan dalam lampiran keamanan rahasia dari kesepakatan antara kedua belah pihak.
"Amerika Serikat diharapkan akan menyetujui individu-individu yang akan berpartisipasi dalam mekanisme ini untuk memastikan bahwa Hizbullah tidak mendapatkan akses ke informasi sensitif yang dipertukarkan," kata sebuah sumber yang mengetahui hal tersebut kepada KAN.
"Saat ini belum ada jadwal waktu," kata sumber keamanan kepada media tersebut.
Pada Jumat 26 Juni 2026, Beirut dan Tel Aviv menandatangani perjanjian kerangka kerja yang disponsori AS yang bertujuan untuk memfasilitasi penarikan bertahap Israel dari wilayah Lebanon dan mengurangi permusuhan di sepanjang perbatasan.
Sejak 2 Maret, Israel telah melakukan serangan militer di Lebanon yang telah menewaskan lebih dari 4.240 orang, melukai lebih dari 12.190 orang, dan menyebabkan lebih dari 1 juta orang mengungsi, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.




