Trump dan Musk Sama-sama Mengecam Komunisme, Dampak Politik Pemilu New York Terus Meluas 

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini kembali memperingatkan bahaya komunisme. Sementara itu, orang terkaya di dunia, Elon Musk, pada Senin (29/6/2026) pagi juga membagikan ulang sebuah unggahan di platform X yang bernada anti komunisme, dengan menyatakan bahwa “komunisme adalah ideologi yang menyebabkan jumlah kematian terbanyak dalam sejarah.” Pada hari yang sama, Gedung Putih kembali mengkritik kelompok sayap kiri progresif di dalam Partai Demokrat. Gelombang perdebatan mengenai komunisme yang dipicu oleh pemilu di Kota New York pun terus berlanjut.

EtIndonesia.com Pada Senin (29 Juni), Elon Musk membagikan sebuah unggahan yang mengutip data statistik bahwa rezim-rezim komunis pada abad ke-20 telah menyebabkan lebih dari 100 juta kematian di seluruh dunia. 

Unggahan tersebut menyebutkan bahwa lebih dari 60 persen dari jumlah tersebut terjadi di Tiongkok di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Unggahan itu juga menyatakan: “Komunisme adalah aliran filsafat yang menyebabkan jumlah kematian terbanyak.”

Sehari sebelumnya, Presiden Trump juga menulis di platform Truth Social bahwa komunisme merupakan ancaman terbesar yang dihadapi Amerika Serikat sejak Perang Dunia I, Perang Dunia II, serangan Pearl Harbor, dan serangan teroris 11 September (9/11).

Perdebatan ini dipicu oleh hasil pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di Kota New York. Sejumlah kandidat yang disebut sebagai kubu progresif dan didukung oleh Zohran Mamdani, Alexandria Ocasio-Cortez (AOC), dan Bernie Sanders berhasil meraih kemenangan berturut-turut, sehingga menimbulkan perhatian di dunia politik Amerika.

Trump berpendapat bahwa apa yang disebut sebagai demokrasi sosialis pada hakikatnya adalah komunisme, dan ideologi semacam itu tidak memiliki tempat di Amerika Serikat.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam wawancara dengan Fox News pada Senin, juga menanggapi kontroversi tersebut. Ia mengatakan bahwa Trump bersedia berdialog dengan siapa pun, termasuk para pejabat Partai Demokrat, dan bahkan pernah mengundang Mamdani ke Gedung Putih untuk bertukar pandangan.

Namun, Leavitt juga mengkritik bahwa sebagian tokoh Partai Demokrat mendukung kebijakan seperti penghapusan hak milik pribadi dan pengurangan kewenangan kepolisian. Menurutnya, gagasan-gagasan tersebut merupakan bentuk Marxisme radikal yang belum pernah berhasil diterapkan di negara mana pun.

Pengamat politik Lan Shu mengatakan: “Jika komunisme atau sosialisme sayap kiri ekstrem berkembang di dunia Barat, hal itu akan menghancurkan sistem pasar bebas di seluruh dunia Barat.”

Ia juga menilai bahwa kebangkitan kandidat-kandidat sayap kiri ekstrim sebenarnya bukan ancaman utama bagi Partai Republik, melainkan bagi Partai Demokrat sendiri.

Lan Shu menambahkan: “Sesungguhnya, ini merupakan ancaman besar bagi Partai Demokrat. Saat ini Partai Demokrat tidak tahu harus berbuat apa, karena perpecahan antara kelompok moderat dan kelompok kiri di dalam partai sudah sangat jelas. Jika kelompok sayap kiri ekstrim terus menarik Partai Demokrat semakin ke kiri, maka perpecahan internal partai pada akhirnya akan sulit dihindari.”

Laporan oleh reporter NTD Television, Yi Xin dan Qiu Yue.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mazraoui Sebut Kemenangan atas Belanda Jadi Pengakuan Besar bagi Maroko di Piala Dunia 2026
• 23 jam lalupantau.com
thumb
Jakarta Barat Tanam 448 Pohon pada Semester I 2026
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
Pemerintah Percepat Penyelesaian Lahan Transmigrasi Muaro Jambi
• 15 jam lalurepublika.co.id
thumb
OJK Restui Merger 5 BPR di Sumatra, Aset Diproyeksi Tembus Rp400 Miliar
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
Sinema Horor Komedi “Harusnya Horror” Siap Meriahkan Bioskop 20 Agustus, Ada Sentuhan Kreatif Reza Oktovian
• 20 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.