JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah merevitalisasi bangunan sekolah terapung SMP Swasta Maritim Mola di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dengan anggaran sekitar Rp 2,96 miliar. Sekolah ini mendapatkan bantuan revitalisasi karena kondisinya masih jauh dari kata layak.
Kepala SMP Swasta Maritim Mola Narto mengungkapkan, kondisi sekolah ini rusak sedang karena atapnya sudah bocor, lantainya berlubang, dinding retak, sirkulasi udara kurang baik, pencahayaan yang minim, hingga struktur kayunya lapuk sehingga belajar menjadi tidak tenang. Sekolah bahkan terpaksa membagi satu ruang kelas menjadi dua ruang belajar akibat keterbatasan ruang yang masih dapat digunakan.
”Beberapa ruang kelas mengalami kerusakan yang cukup parah sehingga kami terpaksa membagi satu ruang kelas menjadi dua ruang belajar. Atap bocor, lantai berlubang, dinding retak, sirkulasi udara kurang baik, dan pencahayaan yang minim membuat proses belajar tidak nyaman,” kata Narto dalam siaran pers yang diterima Kompas di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Revitalisasi di SMP Swasta Maritim Mola meliputi pembangunan empat ruang kelas baru, perpustakaan, ruang usaha kesehatan sekolah (UKS), ruang administrasi, toilet, dan rehabilitasi laboratorium IPA. Sekolah tersebut berada di kawasan permukiman masyarakat suku Bajo dan berdiri di atas perairan sehingga memiliki karakter konstruksi yang berbeda dibandingkan sekolah pada umumnya.
Narto mengakui, karakter geografis SMP Swasta Maritim Mola yang berdiri di atas perairan menjadikan konstruksi bangunan sekolah memiliki tantangan tersendiri dalam proses revitalisasi. Meski begitu, sekolah ini tidak akan dipindah ke daratan dan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir.
”Sekolah kami ini ada di tengah komunitas suku Bajo yang hidup di kawasan pesisir. Setelah pulang sekolah, banyak anak yang ikut orangtua mereka melaut atau memancing,” kata Narto.
Sekolah harus mampu menghadirkan pembelajaran yang adaptif, tanpa membuat mereka kehilangan identitas dan tradisi kemaritiman yang dimiliki.
Guru Pendidikan Agama Islam SMP Swasta Maritim Mola, Hangki, pun merasa lebih nyaman mengajar. Bangunan yang lebih representatif, ruang kelas yang tertata, hingga hadirnya laboratorium dan perpustakaan memberikan semangat baru bagi para guru dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas.
”Kami benar-benar merasakan perubahan. Sarana dan prasarana yang lebih baik membuat kami memiliki energi dan semangat baru untuk menciptakan pembelajaran yang aman, nyaman, dan bermutu bagi peserta didik,” ujarnya.
Dia berharap semakin banyak sekolah di Kabupaten Wakatobi yang memperoleh kesempatan serupa sehingga pemerataan layanan pendidikan dapat benar-benar dirasakan oleh seluruh anak Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di wilayah kepulauan.
Nining Wardani, siswi kelas IX SMP Swasta Maritim Mola pun senang dengan bangunan sekolah yang baru karena membuat dirinya lebih nyaman mengikuti pembelajaran setiap hari. "Sekarang sekolah lebih nyaman dan kami sudah tidak takut lagi. Saya berharap pendidikan di kampung kami bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya," ujar Nining.
Sekolah harus mampu menghadirkan pembelajaran yang adaptif, tanpa membuat mereka kehilangan identitas dan tradisi kemaritiman yang dimiliki.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUD, Dikdas, dan PNFI) di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Gogot Suharwoto mengungkapkan, kondisi sekolah ini rusak sedang tetapi tidak perlu dipindah ke daratan. Sebab, sekolah harus mampu menghadirkan pembelajaran yang adaptif, tanpa membuat mereka kehilangan identitas dan tradisi kemaritiman yang dimiliki.
Revitalisasi sekolah terapung ini menjadi upaya pemerintah untuk pemerataan infrastruktur pendidikan dapat dinikmati seluruh anak Indonesia, termasuk di kawasan kepulauan.
"Bagi anak-anak Suku Bajo di Wakatobi, sekolah yang layak bukan hanya bangunan baru, melainkan ruang aman dan nyaman untuk menumbuhkan harapan, menjaga identitas kemaritiman, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik," kata Gogot.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2025, sebanyak 348 satuan pendidikan di Sulawesi Tenggara memperoleh program revitalisasi. Jumlah tersebut terdiri atas 29 PAUD, 136 SD, 94 SMP, dan 89 SMA. Di Kabupaten Wakatobi, program revitalisasi menjangkau 13 sekolah, yakni tujuh SD, tiga SMP, dan tiga SMA.
Gogot menegaskan, program revitalisasi sekolah pada tahun 2026 memang difokuskan pada satuan pendidikan yang berada di daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T), serta sekolah yang terdampak bencana. Pengerjaannya tetap dengan skema swakelola oleh pihak sekolah dengan menggandeng masyarakat di sekitar sekolah.
Sepanjang tahun 2025, pemerintah telah merevitalisasi atau membangun sekolah baru sebanyak 16.171 satuan pendidikan di seluruh Indonesia dengan anggaran Rp 16,9 triliun pada 2025. Untuk tahun 2026, pemerintah menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp 14 triliun guna melanjutkan revitalisasi pada 11.655 satuan pendidikan. Presiden Prabowo Subianto bahkan meminta ditambahkan program ini dilanjutkan terus hingga tercapai sekitar 60.000 satuan pendidikan penerima revitalisasi.





