BOGOR, KOMPAS.com - Ojek online (ojol) di Kota Bogor mengaku, sulit mendapatkan orderan penumpang setelah terdapat kebijakan potongan komisi aplikasi 8 persen, Rabu (1/7/2026).
Salah satu pengemudi, Adi (28) menyebut, sulit mendapatkan orderan penumpang setelah ada kebijakan potongan 8 persen.
Menurutnya, sebelum ada kebijakan tersebut dinilai mudah untuk memperoleh penumpang.
"Ini lebih susah, enggak tahu kenapa pokoknya jadi lebih susah aja. Ini biasanya saya kemarin-kemarin jam segini tuh sudah dapat delapan trip, sembilan trip. (Sekarang) baru tiga, empat (order) sama yang ini," kata Adi saat ditemui Kompas.com di Alun-alun Kota Bogor, pada Rabu.
Baca juga: Orderan Berat Hari Ini, Biasanya 15 Trip, Ini Baru 3 Cerita Ojol Usai Potongan Komisi 8 Persen
Dirinya menambahkan, total pendapatan kotor sebelum kebijakan potongan 8 persen sebesar Rp 10.400.
Saat ini, pendapatan kotornya berubah menjadi Rp 10.200.
Ia menuturkan, saat ini penumpang membayar biaya tarif sebesar Rp 9.000 tetapi sebelum ada kebijakan pemotongan 8 persen biaya tarif yang dibayar sebesar Rp 7.000.
Nantinya, lanjut dia, pemotongan tersebut akan dilakukan keesokan harinya dari jumlah order penumpang.
"Kalau sekarang, dari pendapatan hemat, misalkan dari pendapatan hemat, pendapatannya berapa duit, nah itu dipotong 8 persen. Misalkan (aplikasi) hematnya dapat Rp 100.000, nah itu dipotong 8 persen," ujarnya.
Senada, Rahman (41) mengalami kesulitan untuk mendapatkan orderan penumpang setelah ada kebijakan potongan 8 persen.
"Orderan itu hampir istilahnya enggak kayak kemarin-kemarin bisa dapat sekitar tujuh, delapan (order). Kalau sekarang (setelah ada kebijakan baru) ini baru tiga," kata Rahman saat ditemui Kompas.com di Alun-alun, Rabu.
Baca juga: Hari Pertama Potongan Komisi Ojol 8 Persen, Pengemudi di Jaksel Keluhkan Orderan Turun
Dia memaparkan, misal memperoleh pendapatan sebesar Rp 300.000 dalam satu hari dan akan dipotong keesokan harinya sebesar 8 persen.
Ia menambahkan, masih belum mengetahui pendapatan bersihnya karena akumulasi tersebut diketahui keesokan hari.
"Misalkan, akumulasi yang sekarang. Misalkan kita per sehari itu dapat Rp 300.000 dipotong 8 persen. Kalau misalkan kita dapatnya Rp 500.000 ya potong lagi 8 persen itu," papar dia.
"Soalnya kan baru ketahuannya itu besok akumulasi dari pendapatan kita ini. Tapi untuk sementara yang saya rasain, enggak tahu kalau driver-driver lain, untuk saat ini malah pendapatan berkurang," lanjutnya.





