Pasar Saham Juli: Faktor Musiman vs Katalis

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Pasar saham Indonesia memasuki semester II-2026 dengan membawa beban dari gejolak yang mewarnai paruh pertama tahun ini. Meski secara historis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kerap mencatat kinerja positif pada Juli, arah pergerakan pasar kali ini tetap akan ditentukan oleh hadirnya katalis yang mampu memperkuat prospek ekonomi domestik dan kinerja emiten.

Hingga akhir Juni 2026, tekanan jual bersih investor asing (net sell) masih membayangi lantai bursa. Penjualan bersih di seluruh pasar di semester I-2026 mencapai Rp 73,60 triliun. Nilai ini terdiri dari penjualan bersih di pasar reguler senilai Rp 88,02 triliun dan pembelian bersih (net buy) di pasar negosiasi senilai Rp 14,42 triliun.

Besarnya nilai penjualan saham oleh investor asing menekan harga saham-saham berkapitalisasi besar ke titik rendah. Pada Selasa (30/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di 5.643, melemah 3,05 persen secara harian. Secara historis, IHSG mencapai titik tertinggi sepanjang masa di 9.174 pada Januari 2026.

Memasuki Juli, IHSG diharapkan mendapat berkah efek musiman yang secara umum selalu positif. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana, kepada Kompas, Rabu (1/7/2026), mengatakan, dalam 5 hingga 20 tahun terakhir, kinerja IHSG pada Juli selalu "menghijau" atau mengalami kenaikan.

Dalam rentang waktu 10 tahun terakhir, IHSG pada Juli selalu mencatatkan return atau imbal hasil positif dengan probabilitas kenaikan mencapai 100 persen. Jika ditarik lebih jauh ke belakang dalam 20 tahun terakhir, hanya ada tiga kali pengecualian di mana IHSG memerah pada Juli.

Pertama pada 2008, ketika terjadi Krisis Finansial Global (subprime mortgage). Kedua pada 2013, saat terjadi fenomena Taper Tantrum oleh The Fed. Ketiga pada 2015, saat hancurnya pasar saham Tiongkok serta anjloknya harga komoditas global.

Risiko sektor riil

Pada perdagangan awal Juli 2026, IHSG dibuka di level 5.640 dan bergerak positif hingga penutupan perdagangan sesi I di level 5.690. Dari sisi pergerakan teknikal, Herditya melihat adanya peluang penguatan dengan catatan koreksi indeks saat ini sudah relatif terbatas.

"Dari sisi sentimen, sebenarnya belum ada yang secara kuat mendukung secara positif. Dalam skenario terbaik, koreksi IHSG relatif terbatas untuk menguji rentang 5.477–5.540 terlebih dahulu dan berpeluang menguat," ujarnya.

Dalam skenario terburuk, Herditya mengingatkan bahwa IHSG bisa menembus batas bawah teknikalnya jika melewati level 5.317.

xxxxxxxxxxxx

Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, dalam laporannya, Rabu (1/7/2026), memproyeksikan, perhatian pelaku pasar pada Juli 2026 mulai bergeser dari yang semula didominasi sentimen makroekonomi global menjadi lebih spesifik ke tingkat korporasi.

Rully menilai bahwa meski kondisi makroekonomi global saat ini relatif stabil, risiko korporasi dan kebijakan dalam negeri justru sedang meningkat.

Laporan Indonesia Credit Trends dari Fitch Ratings yang rilis 29 Juni 2026 menyoroti ketidakpastian regulasi dan tantangan ekonomi yang kian berat. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, suku bunga yang lebih tinggi, serta pelemahan nilai tukar rupiah dinilai dapat menekan permintaan di sektor-sektor yang bergantung pada belanja konsumsi dan pembiayaan kredit.

Baca JugaProspek Negatif oleh Fitch Jadi Peringatan Serius

Sektor otomotif dan properti menjadi bidang yang paling rentan terhadap kondisi tersebut. Pelemahan rupiah yang berkelanjutan juga berpotensi menekan margin perusahaan yang masih bergantung pada impor, terutama bagi emiten yang memiliki keterbatasan dalam meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan diperkirakan akan meningkatkan biaya pendanaan dan mengurangi fleksibilitas keuangan perusahaan dengan tingkat utang yang lebih tinggi.

Fitch memperkirakan perubahan kebijakan dan regulasi yang terus berkembang masih menjadi risiko bagi perusahaan di sektor-sektor strategis, termasuk industri berbasis sumber daya alam (SDA). Ketidakpastian regulasi dapat memengaruhi keputusan investasi maupun prospek operasional perusahaan.

Menanggapi laporan Fitch Ratings tersebut, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pemerintah perlu serius memperbaiki program kerja yang berdampak buruk bagi perekonomian dalam negeri.

"Arah kebijakan fiskal dan institusional ke depan, termasuk rencana tinjauan UU Keuangan Negara, peran Badan Pengelola Investasi Danantara, serta program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi melemahkan disiplin fiskal dan menekan penahan eksternal jika dijalankan tanpa prinsip kehati-hatian yang memadai," ujar Rully.

Di sektor riil, pemerintah mencoba mengintervensi tekanan industri manufaktur dengan menurunkan harga gas bumi dan LNG melalui perluasan skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dari kisaran 20–23 dolar AS per MMBTU menjadi sekitar 13 dolar AS per MMBTU.

Kebijakan burden sharing ini diharapkan mampu menekan biaya operasional industri intensif gas yang terpukul kenaikan biaya energi global dan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Meski demikian, Mirae Asset Sekuritas melihat kebijakan penurunan harga gas industri ini lebih bersifat stabilisasi ketenagakerjaan dan penjaga daya beli ketimbang pendorong pertumbuhan ekonomi yang masif dalam jangka pendek. Dampaknya terhadap pasar keuangan pun dinilai belum cukup kuat mengubah arah arus modal yang defensif.

Berdasarkan rilis Indeks Manajer (PMI) Manufaktur Global S&P, kinerja manufaktur nasional pada Juni 2026 turun tajam menjadi 46,9 dari 50,0 pada Mei 2026. Ini adalah level terendah sejak Juni 2025 dan menandakan kontraksi kedua sektor ini pada 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan inflasi pada Juni 2026 mencapai 0,44 persen secara bulanan. Adapun, inflasi sejak awal tahun sebesar 1,79 persen dan inflasi tahunannya sebesar 3,34 persen.

Kenaikan tersebut dampak dari siklus musiman, kenaikan harga, harga BBM. Inflasi secara tahunan mendekati target inflasi dari Bank Indonesia yang ada di kisaran target 2,5 ± 1 persen.

BPS juga mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 defisit 1,61 miliar dolar AS. Defisit ini merupakan defisit pertama sejak enam tahun lalu.

Pilarmas Investindo Sekuritas dalam rilisnya hari ini mengatakan, data ini menunjukan belum berdampaknya upaya menaikan suku bunga acuannya BI dalam mengendalikan inflasi. ”Kondisi ini tentunya mendorong BI aktif dalam menjaga nilai rupiah, mengendalikan inflasi,” kata mereka.

Laporan keuangan perusahaan

Memasuki Juli 2026, laporan tim analis BRI Danareksa Sekuritas juga menyebutkan, perhatian investor tidak lagi hanya tertuju pada sentimen global, tetapi mulai beralih ke musim laporan keuangan triwulan II-2026 yang akan menjadi penentu arah banyak saham.

Rilis laporan keuangan perusahaan terbuka triwulan II-2026 akan menjadi penentu arah gerak saham secara individual. Selain kinerja emiten, beberapa katalis domestik yang akan dicermati pasar meliputi keputusan suku bunga Bank Indonesia, data inflasi, serta implementasi kebijakan strategis pemerintah.

Langkah hilirisasi dan energi seperti perluasan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) serta program B50 juga diperkirakan dapat memberikan stimulus positif bagi sektor komoditas sawit dan perbankan sebagai penopang.

Sementara, gejolak nilai tukar rupiah dan arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) tetap menjadi jangkar utama yang memengaruhi keluar-masuknya dana asing. Investor portofolio luar negeri juga tetap memantau proses MSCI Market Classification Review menjelang pengumuman evaluasi berikutnya.

"Juli diperkirakan menjadi bulan yang sarat katalis, tetapi arah pasar kemungkinan akan lebih ditentukan oleh fundamental perusahaan dan hasil kinerja kuartal II, bukan sekadar sentimen sesaat," kata BRI Danareksa Sekuritas.

Mereka menambahkan, investor sebaiknya tetap selektif dan fokus pada emiten dengan prospek pertumbuhan yang solid. Mengingat premi risiko domestik yang masih tinggi dan adanya volatilitas nilai tukar, strategi investasi di saham defensif atau tahan terhadap kondisi makroekonomi tetap direkomendasikan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aset Ketum Pemuda Pancasila yang Disita KPK Disebut Berasal dari Gratifikasi
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
55 Jamaah Asal Jateng Wafat Selama Prosesi Ibadah Haji 2026
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Gus Ipul Tegaskan Taruna Akmil Bukan Latih Militer Siswa Sekolah Rakyat
• 6 jam laludisway.id
thumb
Alasan Nadiem Makarim Siap Ajukan Banding Usai Divonis 10 Tahun Penjara
• 4 jam lalucumicumi.com
thumb
WMPP Balik Rugi Jadi Laba Rp130 Miliar di Kuartal I-2026
• 2 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.