Jakarta, VIVA – Anggota Komisi XII DPR RI, Beniyanto Tamoreka mendukung langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang mendorong percepatan pengembangan Program E20 melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin melalui pemanfaatan bioetanol berbasis sumber daya dalam negeri.
Beniyanto mengapresiasi arahan Menteri ESDM dalam Sarasehan Nasional Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026 yang menekankan pentingnya membangun ekosistem bioetanol nasional secara terintegrasi.
Ia menilai kebutuhan bioetanol yang diproyeksikan mencapai sekitar 4 juta kiloliter untuk mendukung implementasi Program E20 menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan industri bioenergi yang berdaya saing sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian nasional.
"Kami mendukung penuh langkah Menteri ESDM dalam mempersiapkan Program E20. Kebijakan ini bukan hanya tentang penyediaan energi yang lebih bersih, tetapi juga merupakan strategi memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi impor bensin, serta mendorong tumbuhnya industri bioetanol berbasis potensi sumber daya dalam negeri," ujar Beniyanto dalam keterangan tertulis, Rabu, 1 Juli 2026.
Menurut Beniyanto, meningkatnya kebutuhan bioetanol akan memberikan dampak positif terhadap berbagai komoditas pertanian seperti singkong, tebu, jagung, sorgum, maupun tanaman lain yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku bioetanol.
Dengan demikian, Program E20 tidak hanya menjadi kebijakan di sektor energi, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi pedesaan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
"Kami melihat program ini akan memberikan multiplier effect yang sangat besar. Permintaan terhadap singkong, tebu, jagung, sorgum, dan komoditas lainnya tentu akan meningkat. Apalagi pemerintah mendorong pengembangannya melalui pola kemitraan inti-plasma. Model seperti ini akan memberikan kepastian pasar bagi petani, memperkuat industri pengolahan di daerah, sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar," lanjutnya.
Beniyanto menambahkan, daerah-daerah yang memiliki potensi pertanian, termasuk Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara, serta berbagai wilayah lainnya, berpeluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru apabila pengembangan bioetanol dilakukan secara terintegrasi mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran hasil produksinya.





