Naypyidaw: Jumlah korban tewas akibat konflik di Myanmar sejak kudeta militer pada 2021 mencapai sedikitnya 100.114 orang, menurut data lembaga independen Amerika Serikat, Armed Conflict Location and Event Data (ACLED).
Kudeta yang menggulingkan pemerintahan pemimpin terpilih sekaligus peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi memicu perang saudara yang hingga kini masih berlangsung.
Konflik tersebut melibatkan junta militer dan berbagai kelompok perlawanan bersenjata. Kedua pihak dituduh melakukan pelanggaran yang berdampak pada warga sipil.
Salah seorang warga Myanmar, Thein Aye Nu, yang kehilangan suaminya akibat serangan udara bulan lalu, menggambarkan penderitaan yang dialami masyarakat sipil.
"Saya sangat dipenuhi rasa kecewa dan marah. Namun, saya bahkan tidak tahu lagi kepada siapa harus melampiaskan kemarahan itu," ujarnya kepada AFP, seperti dikutip Sweden Herald, Rabu, 1 Juni 2026.
Para analis menilai perang saudara di Myanmar kini menjadi konflik aktif paling mematikan di Asia. Kekerasan yang terus berlanjut telah menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar sekaligus memperparah krisis kemanusiaan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat lebih dari 3,7 juta warga Myanmar mengungsi di dalam negeri sejak kudeta militer pada 2021. (Keysa Qanita)
Baca juga: Timor Leste Nilai ASEAN Perlu Terus Buka Jalur Dialog dengan Myanmar




