Mohammad Baqer Qalibaf Ketua Parlemen Iran menegaskan, Pemerintah Iran tidak akan memulai negosiasi terkait kesepakatan final dengan Amerika Serikat (AS).
Iran baru akan membahas negoisasi apabila butir-butir dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) perdamaian yang baru-baru ini ditandatangani oleh kedua pihak telah diimplementasikan.
Qalibaf yang juga menjabat sebagai ketua tim negosiasi Iran menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi milik Pemerintah Iran IRIB TV saat memaparkan perkembangan terkini mengenai implementasi MoU perdamaian dan perundingan dengan AS yang dikutip dari Antara, Rabu (1/7/2026)
Dia menyebutkan, kunjungan perwakilan Iran ke Swiss baru-baru ini bertujuan untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan MoU guna mengakhiri perang di semua front, termasuk di Lebanon, mencabut blokade laut AS, membuka kembali Selat Hormuz, menerbitkan pengecualian (waiver) AS untuk ekspor minyak mentah Iran, serta mencairkan aset-aset Iran yang dibekukan.
Qalibaf menegaskan, jika kelima butir pendahuluan ini tidak dipenuhi, implementasi butir-butir lainnya tidak akan dimulai.
Dia menyatakan, Iran, AS, dan Lebanon sepakat untuk membentuk sebuah komite bersama guna menegakkan gencatan senjata, memastikan berakhirnya perang di Lebanon, dan menjunjung tinggi kedaulatan Lebanon, seraya menambahkan bahwa Iran dan AS, sebagai dua dari tiga pihak yang terlibat, telah menunjuk perwakilan masing-masing.
Qalibaf menambahkan, Iran juga menempuh jalur dialog sekaligus merespons dengan kekuatan jika diperlukan.
Sekedar informasi, pada 18 Juni, Iran dan AS menandatangani MoU mengenai penghentian perang di kawasan tersebut. Pada 22 Juni, negosiasi teknis antara Iran dan AS dimulai di Swiss, menyusul konsultasi tingkat tinggi antara delegasi Iran dan AS pada hari sebelumnya dengan mediasi dari Pakistan dan Qatar.(ant/wld/rid)




