IHSG Anjlok 34% dan Net Sell Asing Rp 88 T, Sentimen Apa yang Hantam Pasar RI?

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga kini masih terpuruk dan anjlok puluhan persen dari level tertingginya yang pernah diraih pada Januari lalu. Di saat yang sama, investor asing juga terus hengkang dari pasar modal RI dengan membukukan aksi jual bersih (net sell) nyaris mencapai Rp 90 triliun di pasar reguler saja.

Berdasarkan RTI Business, IHSG merosot 3,21% dalam sepekan terakhir dan terjun 34,14% secara year to date (ytd). Tak hanya itu, selama satu semester ini, indeks pun anjlok hingga 33,87%.

Pada perdagangan saham hari ini, Rabu (1/7) investor asing membukukan nilai jual atai net sell sebesar Rp 577,7 miliar. Aksi jual investor asing itu terjadi tatkala IHSG ditutup naik 0,92% atau 51,92 poin ke level 5.695 pada sore ini. 

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, sejumlah sentimen negatif masih membayangi pergerakan pasar pada awal Juli. Tekanan tersebut mulai dari defisit neraca dagang Indonesia yang terjadi untuk pertama kalinya sejak 2020, hingga penurunan indeks PMI Manufaktur ke level 46,9 yang menandakan kontraksi. 

Apalagi sikap wait and see dari MSCI hingga jadwal peninjauan pada November 2026, dan kenaikan inflasi menjadi 3,34% akibat lonjakan harga minyak, semakin memperparah sentimen negatif terhadap pasar RI.

Kendati demikian, BRI Danareksa Sekuritas menilai masih terdapat sejumlah katalis positif yang berpotensi menopang pergerakan IHSG pada awal Juli. Salah satunya adalah faktor musiman (seasonality), di mana secara historis IHSG selalu ditutup menguat pada Juli dalam 10 tahun terakhir. 

Selain itu, pasar juga berpotensi mendapat dorongan dari pemangkasan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dimulainya musim rilis laporan keuangan semester I-2026, serta penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah ke bank-bank Himbara.

“Tekanan makro jangka pendek (neraca dagang, PMI, inflasi) masih membebani sentimen, namun histori seasonality Juli plus katalis domestik (SAL, earnings season) berpotensi jadi penyeimbang di sisa bulan ini,” tulis BRI Danareksa dalam analisisnya, Rabu (1/7). 

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui pasar saham Indonesia tengah menghadapi tantangan yang perlu segera diperbaiki. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menilai ada fenomena yang tidak biasa di balik pelemahan bursa saham Indonesia yang terus berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

"Kalau merah terus-terusan there must be something wrong dan itu yang harus kita jawab," ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Selasa (30/6).

Tak hanya itu, Hasan mengatakan industri pasar modal Indonesia kini memasuki era baru. OJK bersama regulator pasar modal lainnya akan melakukan pembenahan secara menyeluruh demi memperkuat integritas dan kepercayaan terhadap pasar modal domestik.

Menurut Hasan, langkah tersebut seiring berubahnya cara dunia memandang risiko yang juga memengaruhi Indonesia. Sebagai negara yang tengah bertransformasi, Indonesia membutuhkan pembiayaan dalam skala yang jauh lebih besar untuk mendukung berbagai agenda strategis nasional. 

Ia menilai pasar modal harus dikembalikan pada peran sentralnya sebagai mesin utama pembentukan modal jangka panjang bagi perekonomian.

“Dan menjadi pusat investasi untuk dapat mendukung pembiayaan pembangunan nasional, mendorong pertumbuhan ekonomi," ucap Hasan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo: Jangan Biarkan Demokrasi Dibajak Mereka yang Punya Banyak Uang
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
Potongan 8% Ojol dan Fragmentasi Regulasi
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
KPK Panggil Bupati Indragiri Hulu Terkait Kasus Ajudan Gubernur Abdul Wahid
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Prabowo Hadiri Hari Bhayangkara ke-80 di Cikeas, Didampingi Gibran
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Momen Haru Kloter Terakhir Jemaah Haji Indonesia Pulang ke Tanah Air
• 11 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.