HARIAN FAJAR. CO.ID, WAJO- Universitas Puangrimaggalatung (Uniprima) Sengkang melaksanakan program pengabdian masyarakat melalui Pelatihan Pembuatan Pewarna Alami Sutera dan Teknik Pewarnaan di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo.
Kegiatan ini menggunakan pendanaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat atau DRTPM Kemendiktisaintek melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa.
Program dirancang untuk menjawab permasalahan kelompok mitra di Desa Tosora, salah satunya adalah kelompok perajin sutera.
Antara lain masih terbatasnya inovasi pewarnaan sutera berbasis bahan alam, perlunya peningkatan kualitas produk, serta kebutuhan penguatan daya saing Sutera Wajo sebagai produk unggulan daerah yang memiliki nilai budaya dan ekonomi.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Dr. Sumarni, S.Pd., M.Pd., bersama tim pelaksana yang terdiri atas Dr. Besse Herlina, S.Pd., M.Si. dan Muhammad Nasir, S.Pd., M.Pd.
Pelatihan ini turut melibatkan mahasiswa, perajin sutera, dan masyarakat Desa Tosora sebagai bagian dari proses pemberdayaan berbasis kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan kelompok mitra.
Kepala Desa Tosora, Asri Prasak menuturkan kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara Universitas Puangrimaggalatung dan Pemerintah Desa Tosora dalam mengembangkan potensi lokal masyarakat.
“Pemerintah Desa Tosora menyambut baik kegiatan ini karena memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya para pengrajin sutera. Ini adalah bentuk kolaborasi yang baik antara Universitas Puangrimaggalatung dan Desa Tosora dalam mengembangkan potensi lokal yang dimiliki masyarakat,” ujar Asri Prasak.
Ketua Tim Pelaksana, Dr. Sumarni, S.Pd., M.Pd., menjelaskan pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan perajin dalam membuat dan mengaplikasikan pewarna alami pada kain dan benang sutera.
Menurutnya, pemanfaatan bahan alam sebagai pewarna tidak hanya mendukung proses produksi yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga dapat memperkuat karakter dan keunikan produk Sutera Wajo.
“Kami ingin pengrajin tidak hanya mempertahankan warisan budaya Sutera Wajo, tetapi juga mampu melakukan inovasi agar produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah, berkualitas, dan mampu bersaing di pasar nasional maupun global,” jelasnya
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi dan praktik langsung mengenai proses pembuatan pewarna alami dari bahan alam, teknik aplikasinya pada kain dan benang sutera, serta prinsip dasar pengendalian mutu hasil pewarnaan.
Selain itu, peserta juga memperoleh pendampingan mengenai inovasi produk dan penguatan pemasaran berbasis teknologi digital.
Ketua Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Penjaminan Mutu Universitas Puangrimaggalatung menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen universitas dalam mengimplementasikan hasil penelitian dosen agar dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
“Desa Tosora merupakan salah satu desa binaan Universitas Puangrimaggalatung yang telah lama menjadi lokasi pelaksanaan berbagai kegiatan penelitian, pengabdian, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, universitas berupaya memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi dapat hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Melalui skema pemberdayaan masyarakat oleh mahasiswa, kegiatan ini juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam proses pendampingan masyarakat.
Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi juga menjadi bagian dari proses transfer pengetahuan, fasilitasi kegiatan, dan penguatan kapasitas kelompok mitra.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari para peserta. Para perajin menilai pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan bahan alam sebagai pewarna sutera serta membuka peluang pengembangan produk yang lebih ramah lingkungan, khas, dan bernilai ekonomi.
Melalui dukungan pendanaan DRTPM Kemendiktisaintek, kolaborasi Universitas Puangrimaggalatung, Pemerintah Desa Tosora, mahasiswa, dan kelompok perajin diharapkan dapat memperkuat daya saing Sutera Wajo sebagai produk unggulan daerah.
Inovasi pewarna alami diharapkan tidak hanya menjaga warisan budaya lokal, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas produk dan kemandirian ekonomi masyarakat. (*)




