Siklus kekerasan dalam relasi bisa menjerat korban

antaranews.com
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, Psikolog mengemukakan terdapat siklus kekerasan dalam relasi yang terus berputar yang dialami para korban.

Menurut dia, hubungan berkekerasan dapat terjadi antara pelaku dengan korbannya biasanya pasangan sendiri, baik dalam relasi berpacaran maupun dalam pernikahan atau bentuk status keterikatan romantis lainnya.

“Itu mereka dalam kondisi yang sangat terpuruk, dalam arti mereka berada dalam namanya siklus kekerasan yang seperti berputar terus,” kata Gisella, ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Rabu.

Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu menjelaskan bahwa dalam siklus itu mulai dari fase romantis. Pada fase ini adanya relasi yang tampak seperti hubungan romantis pada umumnya, meski biasanya dalam relasi yang berkekerasan sudah ada tanda seperti terlalu ekstrem perhatiannya, ada proteksi tertentu hingga cara berkenalannya yang tidak lazim.

“Jadi ada masa-masa yang baik, sebenarnya secara umum dikatakan 'oh, ini tampak romantis'. Tapi kemudian biasanya dalam relasi kan ada masalah. Dan tahap ketika munculnya masalah, tahap berikutnya yaitu munculnya kekerasan,” imbuh Gisella.

Baca juga: Faktor-faktor yang bisa memicu perilaku menyalahkan korban kekerasan

Gisella mengatakan, dalam fase kekerasan biasanya bentuk-bentuk kekerasan bisa dari penganiayaan verbal, kekerasan seksual seperti ada pelecehan, pemerkosaan, ada bentuk-bentuk manipulasi seksual lainnya, serta kekerasan non-verbal ataupun kekerasan psikis, semacam ada intimidasi psikologis.

Ia menyampaikan bahwa setelah melakukan kekerasan, ada tahapan masa pelaku akan meminta maaf, mengaku khilaf, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, kemudian masuk ke fase romantis lagi.

Kondisi itu berputar terus sehingga korbannya merasa ada harapan, padahal seringkali juga diwarnai teror atau ketakutan bahwa hal ini akan terjadi lagi karena siklusnya seperti itu.

Makin lama fase ini berputar, lanjut dia, semakin intens bentuk kekerasannya akan tidak ada masa romantisnya, tidak ada masa meminta maaf atau kesadaran pelaku dan seterusnya tersisa kekerasan.

“Alasannya itu seringkali memang tanggung jawabnya di pelaku bukan pada korban. Karena memang korban secara karakteristik, ada misalnya dilemahkan dari segi strukturalnya maupun psikologisnya yang dihadapi dalam relasi bersama pelaku sehingga membuat korban dalam lingkaran kekerasan yang membuat dia semakin terpuruk tidak berdaya,” kata dia.

Gisella menambahkan bahwa kemungkinan korban tetap dalam relasi, meskipun sudah penuh kekerasan karena telah berada di siklus relasi berkekerasan yang mungkin sudah menempatkan pada bahaya yang sangat nyata. Sehingga, semakin korban berusaha untuk melawan, membela dirinya, pelaku akan kemungkinan besar semakin agresif.

Baca juga: Pekalongan optimalkan pendampingan korban kekerasan perempuan dan anak

“Dan hal itu sudah dipahami, dipelajari oleh korban karena sudah berada dalam siklus itu dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga dia semakin terbelenggu dalam siklus itu karena bisa ada ancaman-ancaman yang mematikan untuk orang lain atau hal-hal lain yang berharga buat si korban,” ujar Gisella.

Kemudian, kontrol finansial oleh pelaku menjadi salah satu faktor yang membuat korban tetap bertahan. Kondisi ini membuat korban frustrasi dan kesulitan mengakhiri hubungan.

Selain itu, aspek isolasi yang seringkali dilakukan pelaku membuat korban tidak bisa punya relasi-relasi sosial atau dapat akses layanan ataupun publik, misalnya tidak boleh ketemu orang lain, diputus hubungan dengan teman bahkan dengan keluarganya sehingga tidak bisa punya siapa pun selain pelaku.

“Mungkin juga si pelaku menggunakan ancaman atau menggunakan relasi yang sangat manipulatif seakan-akan si korban tidak lagi memiliki harga diri, sehingga menganggap korban bersalah, yang merupakan alasan si pelaku boleh melakukan kekerasan. Jadi hal-hal ini sangat digunakan oleh pelaku sehingga korban merasa tidak berdaya,” ujar psikolog yang berpraktik di Jakarta itu.

Baca juga: Studi: Korban kekerasan seksual lebih banyak memikul rasa bersalah

Baca juga: Psikiater: Stigma patriarki bikin korban kekerasan seksual pilih diam




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
3 Orang Tewas Saat Perayaan Piala Dunia di Meksiko
• 4 jam laludetik.com
thumb
Jadwal Salat Kota Surabaya 1 Juli 2026
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Klaim Indonesia Ambil Alih Sabah dan Sarawak Dipastikan Hoaks, Tidak Ada Dasar Resmi
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Miris, THR TPG Guru Agama Tahun 2025 dan 2026 di Toraja Utara Belum Dibayarkan
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Hasil Piala Dunia 2026: Prancis Vs Swedia
• 15 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.