Gelombang Panas di Eropa Memakan Korban Jiwa, Rumah Duka di Prancis Kewalahan 

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Beberapa waktu terakhir, Eropa terus dilanda gelombang panas ekstrem, dengan suhu di beberapa wilayah mencapai lebih dari 40 derajat Celsius. Otoritas Prancis menyatakan bahwa hampir 1.000 orang meninggal dunia selama periode suhu tinggi yang memecahkan rekor ini. Sejumlah rumah duka di Paris juga dilaporkan telah mencapai kapasitas maksimum.

Suhu ekstrem juga berdampak pada sungai-sungai di Eropa. Penurunan permukaan air dan masuknya air laut ke aliran sungai tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga memberikan tekanan besar terhadap sektor pertanian.

Gelombang panas yang dimulai pada 20 Juni ini telah membawa cuaca terpanas yang pernah tercatat di Eropa.

Badan Kesehatan Masyarakat Prancis menyatakan bahwa pada Rabu pekan lalu, suhu rata-rata nasional mencapai 30 derajat Celsius, menjadikannya hari terpanas yang pernah tercatat di negara tersebut. Di beberapa daerah, suhu bahkan melampaui 44 derajat Celsius.

Menurut data lembaga kesehatan nasional Prancis, sejak gelombang panas melanda, jumlah kematian meningkat sekitar 1.000 kasus di atas tingkat normal (kematian berlebih/excess deaths). Pihak berwenang juga memperingatkan bahwa angka tersebut kemungkinan masih akan terus bertambah.

Pada 27 Juni malam, badai melanda sejumlah wilayah di Prancis dan membawa udara yang lebih sejuk. Namun, badai tersebut juga menyebabkan pemadaman listrik yang memengaruhi banyak rumah tangga.

Berlin Semprotkan Air untuk Mendinginkan Warga

Di Jerman, Kepolisian Berlin pada 27 Juni mengerahkan dua kendaraan meriam air untuk menyemprotkan kabut air di jalan-jalan kota guna membantu warga mengatasi panas. Pada hari itu, suhu udara di Berlin mencapai 38 derajat Celsius.

Berdasarkan informasi yang beredar di internet, di kota Leipzig, Jerman timur, suhu tinggi menyebabkan sebagian fasilitas rel trem ringan (light rail) meleleh dan mengalami kerusakan, sehingga layanan trem terpaksa dihentikan sementara.

Air laut masuk ke Sungai Po, ancam pertanian Italia

Di Italia, gelombang panas juga menimbulkan dampak serius. Debit air Sungai Po turun drastis sehingga air laut masuk ke aliran sungai. Intrusi air laut dilaporkan telah mencapai 18 kilometer ke arah pedalaman, memicu kekhawatiran terhadap lahan pertanian dan kawasan lahan basah yang dilindungi di Delta Sungai Po.

Seorang petani setempat, Federica Vidali, mengatakan: “Sejauh tahun ini, kami bisa mengatakan situasinya bahkan lebih buruk dibandingkan tahun 2022. Biasanya masalah intrusi air asin baru muncul sekitar Juli atau Agustus.”

Suhu diperkirakan mulai menurun di Eropa Barat

Para ahli meteorologi menyatakan bahwa seiring gelombang panas bergerak menuju Eropa Tengah dan Semenanjung Balkan, suhu di sebagian besar wilayah Eropa Barat diperkirakan akan mulai berangsur turun selama pekan ini.

Laporan disusun oleh Liu Jiajia, NTD Television.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota Komisi I DPR Nilai Evaluasi Latsarmil oleh Kemhan Merupakan Keputusan yang Tepat
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Inamove Kolaborasi dengan UNJ, Perkuat Keberlanjutan Indonesia, Fokus Riset Isu Lingkungan
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
Progres 90 Persen, SMA Unggul Garuda di Sultra Segera Beroperasi
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
KPK Sita Aset Ketum Pemuda Pancasila Japto Soerjosoemarno Terkait Kasus Gratifikasi Batu Bara
• 9 jam lalumatamata.com
thumb
AS akan awasi langsung pasukan Israel, Lebanon sesuai kesepakatan baru
• 11 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.