JAKARTA, KOMPAS.com - Penutupan rute Transjakarta 1N Tanah Abang-Blok M dan 10D Tanjung Priok-Kampung Rambutan untuk mendukung ekspansi layanan Transjabodetabek menuai kritik dari para pengguna.
Mereka menilai penghapusan rute dalam kota demi memprioritaskan layanan ke wilayah penyangga justru merugikan warga Jakarta yang selama ini menjadi penyumbang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
"Menurut saya ya seharusnya kalau memang kekurangan armada enggak usah buru-buru dulu ekspansi rute kalau belum siap. Jangan jadinya cuma mentingin banyak rute tapi armadanya enggak siap, terus akhirnya warga Jakarta yang bayar pajak malah enggak diprioritaskan dibanding warga luar Jakarta, padahal kita yang bayar (pajaknya)," kata Ferdian (30), salah satu pengguna Transjakarta saat ditemui Kompas.com di Halte Transjakarta Tanah Abang 2, Rabu (1/7/2026).
Baca juga: Jembatan Cinta Pramono Dikritik: Jangan Terkesan Proyek Ikonik Diprioritaskan
Ferdian menilai kebijakan tersebut tidak bijak karena mengurangi pilihan transportasi umum bagi warga Jakarta.
Menurut dia, pemerintah semestinya menyiapkan sarana dan prasarana terlebih dahulu sebelum memperluas layanan ke wilayah penyangga.
"Kalau menurut saya ini enggak bijak, karena posisinya mereka meniadakan rute demi mindahin armada ke Transjabodetabek ya, kan lagi perluasan tuh, ke Tangerang, Bogor. Tapi mereka mengorbankan kita yang di dalam gitu, yang orang Jakarta sehingga enggak bisa makai lagi," ucapnya.
Ia juga menilai solusi yang diberikan Transjakarta, yakni mengalihkan penumpang ke rute 9D Pasar Minggu-Tanah Abang, belum efektif.
Menurut Ferdian, rute tersebut kerap dipadati penumpang dan sering terjebak kemacetan sehingga waktu tunggu bus menjadi lama dan perjalanan semakin tidak efisien.
"Saya aja pernah naik 9D itu nunggu busnya datang sampai satu jam karena macet dan banyak banget juga yang naik. Terus juga ribet karena harus transit-transit, memperpanjang perjalanan padahal jalan sepanjang rute ini aja udah macet," ujarnya.
Hal senada juga dirasakan oleh Silvi (26), warga Tanah Abang yang sering menggunakan bus untuk bepergian ke Blok M.
Baca juga: Mengapa Blok M Kembali Jadi Magnet Anak Muda? Ini Cerita di Balik Kebangkitannya
Ia berujar, perjalanan yang biasanya bisa ditempuh dengan nyaman kini berubah menjadi melelahkan karena harus berpindah bus di titik transit.
"Saya beberapa kali sih pulang kerja pernah ke Blok M naik Transjakarta dan enak juga sekali jalan arahnya langsung nyampe ke Blok M. Hemat waktu enggak perlu transit," kata Silvi.
"Kalau ini kan jadi mesti transit dulu ya. Jadinya lebih capek, biasanya tinggal tidur doang bisa langsung nyampe," sambungnya.
Ia pun berharap agar pemerintah menambah armada Transjakarta dan bisa membuka kembali rute 1N.
Sementara itu, Fitri (32), seorang guru sekolah swasta, mempertanyakan alasan PT Transjakarta yang menyebut penutupan dilakukan karena rute 1N tumpang tindih dengan koridor lain.





