Ahli gizi Dr. Doddy Izwardy mengatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar instrumen pemenuhan kebutuhan gizi anak. Program ini diposisikan sebagai langkah strategis dalam pencegahan penyakit tidak menular (PTM) sejak usia sekolah.
Dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (1/7/2026), Doddy mengatakan Indonesia masih menghadapi beban ganda malnutrisi pada anak usia sekolah, yakni stunting dan kelebihan berat badan atau obesitas yang sama-sama berisiko memicu PTM di kemudian hari.
“Implikasi kebijakannya dalam hal ini adalah intervensi anak sekolah diposisikan sebagai agenda gizi dan pencegahan PTM. Ini yang menjadi penekanan yang kami sampaikan,” katanya.
Doddy yang juga Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) hadir sebagai ahli dari pemerintah dalam sidang perkara Nomor 40/PUU-XXIV/2026, Nomor 52/PUU-XXIV/2026, dan Nomor 55/PUU-XXIV/2026 yang menguji ketentuan mengenai penempatan program MBG dalam anggaran pendidikan pada APBN Tahun Anggaran 2026.
Ia menjelaskan anak usia sekolah merupakan kelompok yang mengalami perkembangan fisik, psikologis, dan neurologis secara intensif yang membutuhkan asupan energi dan zat gizi yang memadai.
Kekurangan gizi memicu penghambatan struktur dan fungsi otak yang berpengarus terhadap kemampuan belajar, konsetrasi, memori, serta prestasi akademik anak.
Kondisi Gizi Anak Usia Sekolah di IndonesiaData hasil Survei Kesehatan Indonesia dan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa pada kelompok usia 5-12 tahun prevalensi stunting mencapai 23,6 persen, sementara kelebihan berat badan dan obesitas mencapai sekitar 20 persen.
“Ini potensi menjadi penyakit tidak menular,” ujarnya.
Doddy juga menyoroti kesenjangan status gizi antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Pada kelompok usia 5-12 tahun, prevalensi stunting di pedesaan tercatat lebih tinggi dibandingkan perkotaan, sedangkan kasus kegemukan lebih banyak di wilayah perkotaan.
Selain faktor asupan makanan, gaya hidup anak usia sekolah masih menghadapi rendahnya aktivitas fisik, perilaku hidup bersih yang belum optimal, serta tingginya konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak.
MBG sebagai Investasi Sumber Daya ManusiaMBG tidak semata-mata dianggap sebagai bantuan makanan kepada anak-anak, melainkan sebagai bentuk investasi jangka panjang dalam pengembangan sumber daya manusia.
Doddy mengatakan pelaksanaan program MBG selama 16 bulan menunjukkan adanya peningkatan konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah, sekaligus membantu mendorong pola makan yang lebih sehat.
Saat ini tantangan kesehatan anak sekolah bukan hanya kekurangan gizi, tetapi juga tingginya paparan pangan tidak sehat yang berpengaruh meningkatkan risiko PTM di masa depan.
Program MBG juga berkontribusi langsung pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam bidang pengentasan kelaparan, peningkatan kesehatan, pendidikan berkualitas, dan pertumbuhan ekonomi.
“Program gizi sekolah sebaiknya tidak diposisikan hanya sebagai bantuan makan atau pangan, tetapi sebagai investasi human capital lintas sektor,” ujar Doddy.





