Dipicu Kudeta 2021, Perang Saudara Myanmar Renggut Lebih dari 100 Ribu Jiwa

okezone.com
4 jam lalu
Cover Berita

YANGON - Lebih dari 100.000 orang telah tewas di semua pihak di Myanmar sejak kudeta militer lima tahun lalu memicu perang saudara, kata sebuah lembaga pemantau konflik pada Rabu (1/7/2026).

Pada Februari 2021, militer merebut kekuasaan dalam kudeta, menahan Aung San Suu Kyi, yang partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), telah memenangkan pemilihan tahun sebelumnya, sekaligus mengakhiri satu dekade pemerintahan sipil parsial di bawah konstitusi yang dirancang militer.

Protes anti-kudeta ditumpas oleh pasukan keamanan, tetapi para aktivis meninggalkan kota-kota untuk membentuk kelompok gerilya pro-demokrasi, bertempur bersama pasukan minoritas etnis yang telah lama menentang pemerintahan pusat.

Baca Juga :
Mantan Pimpinan Junta Militer Min Aung Hlaing Terpilih Sebagai Presiden Baru Myanmar

Seingga sejak kudeta, telah terjadi 100.114 kematian terkait konflik, menurut data terbaru dari kelompok pemantau Armed Conflict Location & Event Data (ACLED), yang menghitung laporan media tentang kekerasan, sebagaimana dilansir AFP.

Tidak ada angka resmi dan perkiraan sangat bervariasi, tetapi para analis menganggap perang saudara selama setengah dekade ini sebagai konflik aktif paling mematikan di Asia.

Konflik Seluruh Negeri

Setelah kudeta, Myanmar diperintah secara diktator selama lima tahun oleh kepala militer Min Aung Hlaing.

Baca Juga :
Persidangan Kasus Genosida Myanmar Dimulai di Mahkamah Internasional PBB

Ia pensiun dari angkatan bersenjata untuk menjabat sebagai presiden sipil pada April setelah pemilihan yang sangat terbatas yang diblokir oleh pemberontak dari wilayah mereka, dan di mana partai Suu Kyi dikesampingkan.

Pengawas demokrasi menolak pemilu tersebut sebagai sandiwara untuk mengubah citra pemerintahan Min Aung Hlaing, dan pemberontak menolak seruannya untuk perundingan perdamaian baru sebagai taktik yang tidak tulus untuk membersihkan citranya di luar negeri.

"Jika tidak ada kudeta, anak-anak akan belajar di sekolah," kata seorang pria di kota Myit Chay di wilayah Magway tengah, yang putra remajanya baru-baru ini tewas.

Putranya meninggal dalam pertempuran setelah melarikan diri dari rumah untuk berperang bagi pemberontak pro-demokrasi, katanya.

"Kami bahkan tidak mendapat kesempatan untuk melantunkan ritual pemakaman Buddha dengan benar. Artileri berat ditembakkan," katanya.

"Ia meninggalkan begitu banyak kenangan, saya tidak puas hanya melakukan sedikit untuknya."

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wasiat Terakhir dr. Icha Terungkap, Keluarga Pilih Maafkan Terduga tetapi Proses Hukum Tetap Berjalan
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
PHRI Keluhkan Rumitnya Perizinan Hotel di Bali, Investasi Terhambat
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Daftar Top Asis Piala Dunia 2026, Michael Olise di Ambang Sejarah
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Kebakaran TPA Jatiwaringin, 2 Helikopter Water Bombing Dikerahkan
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Antrian panjang warnai laga Belgia vs Senegal di Seattle
• 2 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.