Membaca kota dari jalannya

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Surabaya (ANTARA) - Laju kendaraan di Kota Surabaya, Jawa Timur bagian barat sering kali berhenti bukan karena lampu merah, melainkan karena ruang jalan yang tak lagi mampu mengimbangi pertumbuhan kawasan.

Dalam hitungan tahun, wilayah yang dahulu didominasi permukiman berkembang menjadi pusat perdagangan, jasa, pendidikan, hingga hunian vertikal. Arus kendaraan bertambah, tetapi kapasitas jaringan jalan tidak bertambah dengan kecepatan yang sama.

Pemandangan antrean panjang di Jalan Raya Lontar menjadi gambaran keseharian. Kendaraan dari arah Pakuwon Trade Centre menuju Citraland, atau sebaliknya, bertemu pada ruas jalan yang relatif sempit. Di jam berangkat dan pulang kerja, kemacetan menjadi rutinitas yang menguras waktu, energi, bahkan produktivitas.

Karena itu, dibukanya akses Jalan Radial Road Lontar untuk uji coba pada akhir Juni 2026 bukan sekadar penambahan ruas jalan. Kebijakan tersebut merupakan upaya mengubah cara lalu lintas bergerak di salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Surabaya.

Pemerintah Kota Surabaya memilih memulai dengan rekayasa lalu lintas satu arah. Kendaraan dari timur diarahkan melalui Jalan Radial Road, sedangkan arus sebaliknya tetap menggunakan Jalan Raya Lontar sebelum evaluasi dilakukan.

Pendekatan bertahap seperti ini menunjukkan bahwa pembangunan jalan tidak berhenti pada pekerjaan konstruksi, melainkan harus diikuti pengujian terhadap perilaku lalu lintas.

Di banyak kota besar, kemacetan jarang selesai hanya dengan membangun jalan baru. Jalan memang memperbesar kapasitas, tetapi pola perjalanan masyarakat juga terus berubah. Ketika kawasan tumbuh semakin padat, kendaraan baru akan mengisi ruang yang tersedia.

Fenomena ini dikenal dalam kajian transportasi sebagai induced demand, yakni meningkatnya penggunaan kendaraan setelah kapasitas jalan bertambah.

Karena itu, keberhasilan Radial Road Lontar tidak boleh hanya diukur dari lancarnya arus kendaraan pada minggu pertama uji coba. Tolok ukurnya jauh lebih luas, yakni apakah jalan baru mampu mengubah distribusi lalu lintas secara berkelanjutan, mengurangi waktu tempuh, dan meningkatkan kualitas mobilitas warga.

Baca juga: Atasi kemacetan, Pemkot Surabaya tata ulang parkir di Jalan Tunjungan

Kota tumbuh

Surabaya selama bertahun-tahun berkembang ke arah barat. Kawasan yang sebelumnya menjadi wilayah penyangga kini menjelma sebagai pusat pertumbuhan baru. Kehadiran pusat perbelanjaan, kawasan bisnis, rumah sakit, sekolah, hingga perumahan skala besar mendorong pergerakan manusia dalam jumlah besar setiap hari.

Pertumbuhan tersebut membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Jalan yang awalnya dirancang melayani lingkungan permukiman kini harus menampung lalu lintas kawasan metropolitan. Ketika fungsi ruang berubah, sistem transportasi juga harus menyesuaikan.

Dalam konteks itu, Radial Road Lontar menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas jaringan jalan. Jalan alternatif akan membagi beban kendaraan sehingga tidak seluruh arus bertumpu pada Jalan Raya Lontar.

Manfaatnya bukan hanya dirasakan pengendara. Distribusi barang menjadi lebih efisien, biaya logistik berpotensi turun, dan akses menuju pusat ekonomi menjadi lebih cepat. Efisiensi mobilitas selalu berkorelasi dengan peningkatan daya saing kota.

Pemerintah Kota Surabaya juga memproyeksikan kawasan tersebut berkembang menjadi koridor perdagangan dan jasa.

Perubahan fungsi kawasan tentu meningkatkan nilai ekonomi lahan, sekaligus membuka peluang investasi baru. Namun, peningkatan nilai ekonomi perlu dikelola secara hati-hati.

Kenaikan harga tanah memang mencerminkan berkembangnya kawasan, tetapi juga dapat memicu tekanan terhadap masyarakat berpenghasilan menengah dan kecil apabila tidak diimbangi kebijakan tata ruang yang adil.

Pengalaman berbagai kota menunjukkan pembangunan infrastruktur sering kali memicu perubahan penggunaan lahan secara cepat. Bangunan komersial bermunculan, aktivitas ekonomi meningkat, tetapi ruang publik justru menyusut apabila pengendalian tata ruang tidak berjalan konsisten.

Di sinilah pentingnya memandang Radial Road sebagai bagian dari ekosistem pembangunan kota, bukan sekadar proyek fisik. Jalan baru harus terhubung dengan kebijakan transportasi, tata ruang, drainase, keselamatan lalu lintas, hingga pengembangan kawasan hijau.

Pendekatan semacam itu sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang juga menjadi arah pembangunan nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional menuju Indonesia Emas 2045. Infrastruktur tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Baca juga: Pemkot Surabaya kembangkan transportasi air atasi kemacetan

Mobilitas cerdas

Tantangan terbesar justru dimulai setelah jalan dibuka. Rekayasa lalu lintas memerlukan disiplin pengguna jalan, pengawasan yang konsisten, serta evaluasi berbasis data.

Teknologi dapat memainkan peran penting. Kamera lalu lintas, sensor kepadatan kendaraan, hingga analisis data perjalanan mampu membantu pemerintah mengevaluasi apakah skema satu arah benar-benar efektif?

Keputusan tidak cukup didasarkan pada kesan visual, melainkan harus bertumpu pada pengukuran waktu tempuh, volume kendaraan, dan tingkat pelayanan jalan.

Pendekatan berbasis data semakin penting karena karakter lalu lintas kota bersifat dinamis. Kepadatan hari kerja berbeda dengan akhir pekan. Arus kendaraan saat musim liburan juga tidak sama dengan hari biasa. Fleksibilitas kebijakan menjadi kunci.

Di sisi lain, pembangunan jalan perlu diiringi penguatan angkutan umum. Pengalaman kota-kota dunia memperlihatkan bahwa pelebaran jalan tanpa peningkatan transportasi massal hanya memberikan solusi sementara. Ketika semakin banyak warga memilih kendaraan pribadi, kapasitas jalan baru perlahan kembali penuh.

Surabaya sebenarnya telah memiliki modal melalui pengembangan layanan angkutan umum perkotaan serta integrasi transportasi. Radial Road dapat menjadi penghubung penting apabila pada masa mendatang dilengkapi konektivitas menuju halte, jalur sepeda, dan fasilitas pejalan kaki yang aman.

Mobilitas modern tidak lagi semata-mata berbicara tentang kecepatan kendaraan. Kota yang baik justru memberikan pilihan moda transportasi yang beragam sehingga warga tidak bergantung pada mobil pribadi.

Selain itu, keberhasilan jalan baru juga bergantung pada koordinasi lintas sektor. Pengaturan parkir di badan jalan, penertiban aktivitas bongkar muat, pengendalian akses keluar masuk kawasan komersial, hingga sinkronisasi lampu lalu lintas memiliki pengaruh yang tidak kalah besar dibanding pembangunan fisik jalan.

Surabaya selama ini dikenal sebagai salah satu kota yang cukup progresif dalam pengembangan layanan publik berbasis digital. Pendekatan serupa dapat diterapkan pada manajemen lalu lintas sehingga evaluasi Radial Road tidak berhenti setelah masa uji coba selesai.

Ke depan, indikator keberhasilan bukan sekadar hilangnya antrean kendaraan di Jalan Lontar. Yang lebih penting adalah apakah warga memperoleh waktu perjalanan yang lebih singkat, biaya transportasi yang lebih rendah, udara yang lebih bersih, serta akses ekonomi yang semakin terbuka.

Radial Road Lontar menjadi pengingat bahwa pembangunan jalan pada hakikatnya adalah pembangunan kesempatan. Jalan mempertemukan manusia dengan pekerjaan, pendidikan, layanan kesehatan, dan pusat-pusat ekonomi. Infrastruktur yang baik bukan hanya mempersingkat perjalanan, melainkan juga memperluas peluang.

Surabaya Barat kini memiliki simpul baru untuk mengurai kepadatan. Tantangan berikutnya adalah memastikan simpul itu menjadi bagian dari sistem mobilitas yang cerdas, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan publik.

Sebab kota yang maju bukanlah kota yang memiliki jalan paling lebar, melainkan kota yang mampu membuat warganya bergerak lebih mudah, lebih aman, dan lebih produktif.

Baca juga: DPRD Surabaya minta sinkronisasi lintas instansi atasi kemacetan

Baca juga: Wali Kota sebut rel ganda KA Surabaya-Sidoarjo urai kemacetan

Baca juga: Pemkot Surabaya terapkan sejumlah langkah strategis urai kemacetan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rekomendasi Destinasi Wisata Menarik di Sekitar Arjuno Welirang, Sudah Pernah?
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Yandi Sofyan dan Irkham Mila Masuk Daftar, Jadi Pemain ke-14 dan 15 yang Tinggalkan Persik
• 14 jam lalubola.com
thumb
Defisit Neraca Perdagangan Indonesia pada Mei 2026 Dipicu Lonjakan Impor Migas akibat Kenaikan Harga Minyak Dunia
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Fantastis! Anggaran Latihan Dasar Militer Calon Pengelola Kopdes Capai Rp45 Juta per Orang
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Makassar Perkuat Pelayanan Publik dan Pembangunan Kota di Rakernas APEKSI 2026
• 1 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.